batampos.co.id – Saban hujan Perumahan Taman Raya Tahap III, termasuk SMPN 28 Batam yang ada di perumahan tersebut kerap terancam banjir. Jika intensitas hujan tinggi SMPN 28 Batam pasti terendam.

Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, mengakuinya. Menurut dia, persoalan ini sudah terjadi sejak 2011 lalu waktu dia mejabat Wakil Wali Kota Batam, hingga hari ini.

”Masalahnya sering saya sampaikan, kodrat Allah, air mengalir ke bawah bukan ke atas, tapi ’istimewanya’ di sini air ngalir ke atas (melewati area tinggi), maka balik lagi tenggelamlah SMPN 28 Batam,” kata dia saat mengecek langsung ke lokasi tersebut, Selasa (28/1/2020).

Ia menilai, persoalan ini muncul karena sejak awal penataan wilayah ini tidak tepat. Hal ini berawal dari alokasi lahan yang salah. Dengan demikian seiring pembangunan melahirkan persoalan seperti banjir tersebut. Pria yang juga Kepala BP Batam ini memerintahkan jajaran BP Batam agar tidak lagi asal mengalokasikan lahan.

”Mungkin waktu pemberian lahan tak didudukkan benar air ngalir ke mana, maka BP Batam ke depan saya minta sebelum kasih lahan cek dulu,” imbuhnya.

Menurut dia, jika air dipaksa untuk melewati area yang tinggi maka diperlukan pompa. Lagipula, Rudi menyebutkan, pompa punya batas waktu untuk digunakan, dengan nama lain akan rusak sewaktu-waktu.

”Contoh Jakarta tenggelam, Singapura lima tahun lagi sama masalahnya,” ujar dia.

Untuk jalan keluar yang kini tengah dialami Taman Raya, jalan keluar yang akan diambil yakni membangun parit baru. Parit ini akan tembus ke Botania I. Menurut Rudi, kini sudah ada alurnya namun kecil, pada kondisi eksisting ini akan dibangun.

”Ke Botania ada alurnya tapi kecil dan naiknya macam naik bukit 45 derajat, apa boleh buat ke situ kita bangun. Musrenbang masukan saja. Berapa biaya kami akan selesaikan ini,” ujarnya.
Soal anggaran, Rudi menyebutkan proyek ini membutuhkan dana yang cukup besar yakni mencapai 20 miliar.

”Kaget kan? Segitulah. Stres juga saya,” ucapnya.

Rudi mengaku tidak gegabah menjamin tidak akan ada lagi banjir setelah parit ini dibangun. Karena ada hal lain yang bisa memantik terjadinya banjir. Terkait ini Rudi me-nyinggung perilaku warga yang kerap menambah bangunan di atas parit, alhasil tindakan ini membuat parit menyempit dan tidak mampu menampung debit air.

”Kalau kita bangun dua meter lebarnya, manusianya tambah sendiri (bangunan) tersisalah satu meter dan ditambah lagi, datang hujan akhirnya aliran air tertutup, banjir,” tuturnya.

Ia tidak ingin hal ini terjadi, dan meminta kerja sama yang baik dari warga. Lagipula, aliran air yang lancar akan berpulang untuk warga sendiri.

”Kepada lurah dan camat saya minta tingkatkan edukasi tentang ini. Parit kita bangun terbatas, debitnya pas-pasan. Mau perlebar lagi, lahan sudah tidak ada. Kalau ditutup kita sendiri yang rugi,” pungkasnya.

Sementara itu, terkait anggaran pembangunan parit kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBM SDA) Yumasnur mengatakan akan berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Sumatera IV.

”Rencana kami begitu, ajukan juga ke BWS. Tapi di Musrenbang ini, kami masukkan dulu ke APBD Batam,” terang Yumasnur. (***)