batampos.co.id – Sejumlah asosiasi pengusaha kepelabuhanan di antaranya Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Batam, Internasional Nation Shipowner Association (INSA) serta dari Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Batam menolak rencana Badan Pengusahaan (BP) Batam menyerahkan perombakan dan pengelolaan Pelabuhan Batuampar ke PT Pelindo II saat rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi III DPRD Batam.

Sejumlah perwakilan asosiasi pengusaha pelabuhan ini khawatir Pelindo II akan mengambil alih semua sektor kerja di pelabuhan yang selama ini ditangani pengusaha lokal.

Ketua INSA Batam, Osman Hasyim, mengungkapkan langsung kekhawatiran masuknya Pelindo II di Batam akan membuat dunia usaha kepelabuhanan tak lagi kompetitif dalam bersaing dengan pelabuhan lainnya.

”Kami tahu pelabuhan yang dikelola Pelindo seperti apa. Satu kontainer misalnya di Pelabuhan Belawan saja untuk sekali handling tarifnya bisa sampai Rp 5 juta hingga Rp 6 juta. Kalau di Batam sekarang ini satu kontainer hanya dikenakan Rp 500 hingga Rp 800 ribu saja. Pertanyaan saya kalau Pelindo II masuk ke Batam, berapa biaya untuk satu kontainer nantinya. Tarif murah seperti saat ini saja di Batam, kami sampai teriak-teriak,” ujar Osman Hasyim di hadapan pimpinan dan anggota Komisi III DPRD Batam, Kamis (30/1/2020).

Persoalannya nantinya, lanjut Osman, kalau Pelindo II masuk, apakah mereka mampu membawa apa, efeknya apa.

”Para pelaku usaha yang lebih dulu ada ini harus dijaga, itu tugas pemerintah. Jangan sampai Pelindo II masuk dan menguasai seluruh usaha di pelabuhan, kami pelaku usaha lokal yang lebih dulu ada ini yang dimatikan. Sementara kami ini perintis pelabuhan. Itulah alasan kami keberatan jika Pelindo II masuk ke Batam,” terangnya.

Osman menambahkan, pengelolaan pelabuhan dan industri maritim di Batam memang harus benar-benar komprehensif, tak hanya bicara soal investasi semata. Dengan masuknya Pelindo II ke Batam, Osman khawatir kondisi usaha pelabuhan yang saat ini sudah baik, nantinya bukannya makin produktif justru kontra produktif.

Seorang pekerja sedang memindahkan kontainer di Pelabuhan Batuampar, beberapa waktu lalu.  Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

”Sedangkan biaya yang sekarang aja tergolong sangat murah bila dibandingkan pelabuhan lainnya, masih dianggap mahal. Persoalannya, dengan masuknya Pelindo II, apakah biaya itu bisa makin murah atau justru makin mahal,” katanya.

Kalau nantinya di Pelabuhan Batuampar untuk satu kali handling kontainer dikenakan Rp 5 juta hingga Rp 6 juta oleh Pelindo II, Osman khawatir akan berdampak pada meredupnya industri di Batam.

”Sedangkan saat ini saja karena kita harus mengirim barang ke Singapura, apa yang terjadi? Pengiriman barang dari Batam ke Singapura jauh lebih mahal dibandingkan pengiriman barang dari Singa-pura ke Jepang. Dengan masuknya Pelindo II nantinya, apakah bisa memecahkan persoalan di Batam,” tanya Osman.

Osman khawatir masuknya Pelindo II di Batam akan terjadi monopoli, semua usaha di pelabuhan akan diambil-alih.

”Kalau satu kontainer BP Batam bisa mengambil Rp 1 juta per handling saja, coba bayangkan kalau mencapai 1 juta kontainer, kan sudah Rp 1 triliun pendapatan yang didapat BP Batam dari pelabuhan. Dimana-mana pengelolaan pelabuhan itu menguntungkan. Kok di sini BP Batam justru tak mau berinvestasi di pelabuhan, justru diserahkan ke Pelindo II, saya juga heran,” terangnya.

Sementara Ketua Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Batam, Crimson Sitanggang mengaku kecewa karena tak dilibatkan dalam proses pengembangan pelabuhan oleh BP Batam, terutama dalam penunjukan Pelindo II sebagai operator di Pelabuhan Batuampar nantinya.

”Di RDP ini kami juga kecewa karena Pelindo juga tak hadir, begitu juga dengan BP Batam juga tak hadir. Kami ingin dilibatkan karena kami tahu bahwa kami adalah ujung tombak pelabuhan. Karena kalau pelabuhan dibangun juga nggak akan bisa apa-apa tanpa support dari kami para pelaku usaha. Terus terang kamilah yang mencari customer, mendatangkan kapal serta mendatangkan muatan. Jadi, tolong kami pelaku usaha lokal yang lebih dulu hadir ini dilibatkan,” terang Crimson.

Dengan dilibatkannya pelaku usaha pelabuhan yang lebih dulu hadir, lanjutnya, akan tahu apa sebenarnya penyakit di Batam.

”Itulah harapan kami ke BP Batam yang mudah-mudahan direspon. Terus terang teman-teman pelaku usaha pelabuhan sudah sepakat akan menggelar aksi mogok beroperasi kalau ini tetap berlarut-larut tak ada penyelesaiannya,” ujarnya.

Pengusaha lokal, lanjutnya, sebenarnya mampu dan siap melakukan pembangunan dan perbaikan pelayanan di Pelabuhan Batuampar sepanjang BP Batam bersedia bekerja sama mulai dari pendalaman pelabuhan, penyediaan crane yang memadai, perbaikan dermaga, dan membangun pelabuhan yang lebih modern. (gas)