batampos.co.id – Dua puluh emak-emak mengikuti pelatihan ecoprint yang digelar Lembaga Zakat, Infaq, dan Sadaqah Muhammadiyah (Lazismu) Kota Batam selama dua hari di gedung TK Aisyiah 5 Perumahan KDA Batam, Batam Kota, Sabtu-Minggu (1-2 Februari).
Lazismu Batam mendatangkan trainer dari Banjarnegara, Pupung Pursita. Ecoprint adalah teknik memberi pola atau gambar pada bahan dengan menggunakan bahan alami. Misalnya dedaunan yang ada di sekitar kita.
Dari dedaunan inilah tercipta motif kain yang istimewa setelah diolah bersama bahan-bahan lainnya seper-ti tawas, tunjung, air, cuka dan bayclin. Kemudian pewarna-nya juga dari pewarna alami seperti kayu secang, daun jati, kulit manggis, ampas kopi, teh, dan lainnya.
Pupung menyatakan bahwa nilai jual kain yang sudah jadi, tinggi. Selain sense of art-nya tinggi dan alami, motif antara kain yang satu dengan kain lainnya tak sama. Misalnya, modal kain jilbab polos yang harganya Rp 20 ribu, setelah di-ecoprint harganya bisa mencapai Rp 150 ribu-Rp 175 ribu. ”Tergantung jenis kainnya,” ujar lulusan Universitas Negeri Jakarta jurusan Seni Rupa 1998 ini.
Selain di kain, ecoprint juga bisa diaplikasikan ke kulit sapi atau kambing. Ecoprint di kulit gambarnya lebih bahkan lebih menonjol.
”Produk ecoprint bermacam-macam jenisnya. Bisa jilbab, baju, baju koko, mukena, outer, tunik, dan tas. Alhamdulillah, respon masyarakat tinggi,” ungkap wanita berjilbab tersebut.
Pupung mulai mengembangkan ecoprint sejak setahun lalu. Dimulai dari tempat tinggalnya di Desa Merden, Banjarnegara, Jawa Tengah.
”Awalnya produksi sendiri, tapi ketika ikut pameran gak sanggup produksi sendiri. Akhirnya menggandeng Lazismu Pusat dan disponsori
Wardah. Ini juga bagian dari syiar Muhammadiyah. Harapannya supaya zakat, infaq,
sedekahnya disalurkan melalui Lazismu,” tuturnya.

Emak-emak peserta pelatihan ecoprint Lazismu Batam menunjukkan hasil praktik kelompoknya di gedung TK Aisyiah 5 KDA Batam, Batamkota, Sabtu (2/2).
Kini, dia mulai sibuk melatih emak-emak mitra Lazismu di Jawa dan Sumatra. Harapannya kaum hawa yang dilatihnya menjadi mandiri dan produktif.
”Rentetannya ini panjang. Penjual kain, penjahit, dan ibu-ibu yang dianggap tidak produktif bisa diberdayakan. Karena ini mudah dipelajari,” katanya.
Apalagi, lanjutnya, Ramadan dan Muktamar Muhammadi-yah tak lama lagi. “Ini, bisa menjadi momen untuk memasarkan produk ecoprint.”
Kemarin, para emak-emak tersebut baru dilatih olah dasar. Hari ini, mereka akan dilatih teknik pewarnaan.
Sementara itu, Ketua Lazizmu Batam, Prastowo Agus, me-ngatakan, pihaknya hanya sebagai fasilitator dalam pelatihan tersebut. Pihaknya menarget peserta 30 orang, namun yang hadir kemarin, hanya 20 orang. Mereka dari Aisyiah Kota Batam dan emak-emak yang tergabung dalam komunitas Bank Sampah Walidah, Sagulung.
Tema yang diangkat adalah pemberdayaan ekonomi emak-emak.
”Ini mengubah pola pikir. Zakat bukan hanya memberi beras, tapi juga bisa memberi kail. Artinya dengan kail dari zakat tersebut bisa untuk memberdayakan umat. Sebelumnya kami memberi pelatihan menjahit,” jelas Prastowo. (ryh)
