INI bukan persoalan mengapa WNI dari Wuhan, China, harus dikarantina di Natuna atau mengapa bukan di tempat lain yang fasilitas kesehatannya lebih lengkap dan memadai. Ini masalah bagaimana negara ini mendiskusikan dan mengelola masalah. Mengkomunikasikannya kepada rakyat.

Sehingga, akibatnya, banyak warganet yang nyinyir membahas sesuatu yang belum tentu mereka pahami. Sementara itu, pemprov, anggota DPR RI Dapil Kepri, anggota DPRD Kepri dapil Natuna-Anambas pun seperti diam seribu bahasa. Hanya terlihat satu-dua Ketua dan anggota DPRD Natuna bereaksi dan beraksi. Yang lainnya, membiarkan rakyat Natuna berjibaku menyuarakan kecemasan mereka. Berhadapan dengan aparat keamanan. Karena apa? Karena kita ada masalah dalam mengelola masalah.

Virus corona, virus yang dapat mematikan itu, sudah dikonfirmasi oleh banyak negara. Banyak negara yang sudah menutup pintu bagi warga negara China yang akan memasuki negara mereka. Tak kurang Amerika, Kanada, Jepang, Singapura, Australia, juga Indonesia, sudah menutup pintu sementara bagi masuknya warga China. Kecuali warga negara tersebut yang dikembalikan dari China. Bahkan PBB pun sudah mengumumkan keadaan darurat.

Jumlah yang meninggal, sebagaimana diberitakan kanal news internasional, sudah hampir 300 jiwa. Sementara tersangka (suspect), sudah lebih seribu orang. Terbanyak di China dan sedikit di belahan negara lain. Artinya apa, virus ini memang mencemaskan. Jika ada yang tidak cemas, berarti Anda perlu memeriksakan jiwa. Mungkin juga hati Anda atau empati Anda.

Dalam pada itu, seperti diberitakan kanal republika, kemarin, Presiden Joko Widodo memimpin rapat terbatas bersama jajarannya begitu tiba di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta. Dalam rapat tersebut dibahas soal evakuasi warga negara Indonesia (WNI) dari Republik Rakyat China (RRC) ke Natuna, menyusul wabah virus corona yang melanda negara tersebut.

“Baru saja rapat terbatas yang dipimpin oleh Bapak Presiden dilakukan di Bandara Halim Perdanakusuma,” kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi saat memberikan keterangan pers seusai rapat.

Dalam keterangannya, Retno menyampaikan beberapa hal yang dibahas dalam rapat tersebut. Pertama, sejumlah 243 orang, termasuk 5 orang Tim Aju (tim pendahulu) yang dipulangkan dari Wuhan, Provinsi Hubei, RRC, telah tiba dengan selamat di Natuna.

“Mereka akan melalui masa observasi selama 14 hari. Masa observasi ini juga akan dilakukan oleh 42 tim penjemput WNI dari Wuhan, sehingga total orang yang akan menjalankan observasi adalah 285. Sampai saat ini alhamdulillah mereka dalam kondisi sehat,” jelas Retno.

Kedua, Retno mengatakan bahwa Menteri Kesehatan bersama dengan tim akan membuka kantor di Natuna. “Jurubicara dari Menteri Kesehatan dari waktu ke waktu akan menyampaikan update perkembangan,” imbuhnya.

Ketiga, Retno menyebutkan, penerbangan langsung dari dan ke daratan RRC ditunda untuk sementara mulai hari Rabu, (5/2), pukul 00.00 WIB.

Keempat, lanjut Retno, semua pendatang yang tiba dari daratan RRC dan sudah berada di sana selama 14 hari, untuk sementara tidak diizinkan untuk masuk dan melakukan transit di Indonesia.

Kelima, kebijakan pemberian fasilitas bebas visa kunjungan dan visa on arrival untuk warga negara China yang bertempat tinggal di daratan China untuk sementara dihentikan.

“Keenam, pemerintah meminta warga negara Indonesia untuk sementara tidak melakukan perjalanan ke mainland China,” kata Retno.

Saya membayangkan, ada satu point keputusan pemerintah untuk memperbaiki psikologis warga Natuna. Minimal yang dapat membuat mereka lebih tenang.

Di sisi lain, akibat seriusnya dampak andaikata seseorang terinfeksi virus corona itu, dapat dimaklumi jika masyarakat Natuna yang tempatnya dijadikan home base karantina, saat ini dilanda kecemasan. Betapa tidak, virus itu memang dapat mematikan. WNI yang dipulangkan dari Wuhan itu dikarantina di daerah mereka, yang jarak antara hanggar Bandara Raden Sadjad relatif tak jauh dengan pemukiman penduduk.

Pemda Natuna dan DPRD sempat bereaksi. Ada Ketua DPRD dan wakil ketua serta ketua komisi turun ke jalan berbaur dengan warga yang menolak Natuna dijadikan tempat karantina selama 14 hari ke depan. Bupati Natuna A Hamid Rizal sempat mengeluarkan pernyataan agar sebaiknya pemerintah pusat mempertimbangkan lagi keputusan mereka. Wakil Bupati Ngesti Yuni Suprapti juga mengaku tak mendapatkan koordinasi dari pemerintah pusat. Sekda Wan Siswandi kemudian membuat edaran meliburkan sekolah 14 hari. Apakah ini bukan wujud kecemasan? Lalu mengapa yang bukan warga Natuna dan tidak tinggal di Natuna malah membully penduduk Natuna yang menyuarakan kecemasan mereka?

Di sinilah, saya memandang, di negeri ini masih minim komunikator (ahli komunikasi alias juru bicara) yang mampu berbicara kepada rakyatnya. Menyampaikan kondisi riil tentang sebuah masalah atau kebijakan negara secara detail dan terang benderang kepada masyarakat. Mereka lupa bahwa dunia digital, semacam media sosial, begitu ganasnya. Sehingga, di saat negara tak tuntas berkomunikasi dengan rakyat, maka saat itulah media sosial yang seperti hutan rimba itu mengambil peran. Akibatnya, dapat terjadi distorsi informasi. Melebar ke mana-mana. Medsos bermain dengan “hukumnya”, bullly-membully menjadi biasa. Hoax menyebar ke mana-mana. Kecemasan menjadi komoditas baru; mengaduk-aduk perasaan dan berpotensi mengadu-domba.

Duhai negara. Bijaklah. Hadirkan penjelasan yang tuntas dan konkret kepada rakyat. Sejelas-jelasnya, seterang-terangnya. Sehingga, rakyat dapat menerima dengan baik setiap kebijakan yang dibuat dengan berbagai alasan yang make sense dan pertimbangan amat matang.

Sebagai contoh, jika salah satu alasan mengapa Natuna dijadikan tempat karantina untuk WNI dari Wuhan itu, seperti disebut seorang pejabat pusat di sebuah saluran televisi, karena Natuna penduduknya sedikit, atau atas alasan lain yang masih bisa dibantah, sungguh pernyataan itu sangat tidak bijak.

Satu KK pun penduduknya, mereka adalah warga negara Indonesia. Menyelamatkan nyawa WN adalah kewajiban negara, namun melindungi yang lainnya (termasuk memberikan rasa aman) juga perintah konstitusi. Negara harus memperbaiki caranya berkomunikasi. Terakhir, mari doakan, semoga semua yang dikarantina dalam keadaan baik dan situasi kebatinan warga Natuna juga berangsur membaik. ***