DERETAN karangan bunga dukacita memenuhi Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng Jombang. Mulai depan pondok, halaman, sampai pelataran belakang. Para pengirimnya antara lain Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, Presiden Joko Widodo, dan jajaran petinggi partai politik.

Sehari setelah pemakaman Gus Sholah, ponpes disibukkan dengan persiapan tahlilan, Rabu (4/2). Para santri membantu menata kursi untuk tamu. Ada pula yang sibuk dengan hafalan dan membersihkan masjid. Beberapa anak merapikan sandal di depan ndalem kasepuhan, kediaman penga-suh. KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, wakil pengasuh Ponpes Tebuireng, sedang berada di dalam.

”Beliau istirahat,” kata Syamsul, abdi dalem Gus Kikin.

Maqbaroh, kompleks pemakaman keluarga KH Hasyim Asy’ari, tidak lagi terlalu ramai. Hanya ada beberapa rombongan peziarah yang berdoa dari luar pagar. ”Kebetulan ada ziarah wali lima. Sekalian mampir karena kemarin kabarnya Gus Sholah wafat,” ujar Farida Nur Hidayah, peziarah asal Nganjuk, Jawa Timur.

Ada satu rombongan yang diizinkan masuk ke kompleks uta-ma pemakaman. Mereka pengu-rus Masjid Nasional Al Akbar Surabaya. Rombongan berdoa di samping pusara Gus Sholah. ”Kemarin belum sempat ke sini karena masih ada rapat pengurus masjid,” kata Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Nasional Al Akbar, HM Sujak.

Sujak mengungkapkan, pernah beberapa kali berdiskusi dengan Gus Sholah saat masih menjabat kepala Kantor Wilayah Kemenag Jatim pada 2012. Menurut dia, banyak hal yang bisa dipelajari dari sosok cucu pendiri organisasi kemasyarakatan (ormas) Nahdlatul Ulama (NU) itu. Salah satunya terkait dengan kesederhanaan.

”Meskipun ulama besar, beliau sangat sederhana. Benar-benar sederhana,” kenangnya.

F. Adi Wijaya/Jawa Pos
Rombongan pengurus Masjid Nasional Al Akbar Surabaya berdoa di makam Gus Sholah di Maqbaroh, Tebuireng, Jombang, Selasa (4/2).

Gus Sholah selalu memberikan saran dan masukan, termasuk solusi, ketika ada masalah. Baik soal organisasi Kemenag maupun masalah lain. Karena itu, meski tidak berinteraksi setiap hari, Sujak mengaku sangat kehilangan.

Lokasi pusara yang dipakai untuk makam Gus Sholah sudah dipilih sebelum ulama yang juga seorang arsitek lulusan ITB tersebut meninggal pada Minggu (2/2) malam. Karena itu, tidak ada lagi rapat keluarga yang dilakukan.

”Ada salah satu pengurus yang pernah dipesani Gus Sholah bah-wa ketika beliau meninggal ingin dimakamkan di situ,” ungkap pengasuh Ponpes Putri Tebuireng, KH Fahmi Amrullah.

Pusara Gus Sholah berada di dekat makam ayahnya, KH Wahid Hasyim. Tepat di sebelah utara pusara menteri agama pertama era Presiden Soekarno itu. Atau di sebelah barat pusara Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Nyai Masruroh, istri KH Hasyim Asy’ari.

Kiai yang akrab disapa Gus Fahmi tersebut mengatakan, kompleks Maqbaroh awalnya tidak dikhususkan untuk keluarga. Ada beberapa santri utama KH Hasyim Asy’ari yang juga dimakamkan di situ. Termasuk orang yang mewakafkan tanahnya untuk pesantren.

Seiring berjalannya waktu, majelis keluarga sepakat bahwa kompleks makam itu hanya untuk keluarga karena lahannya terbatas. Namun, jumlah anggota keluarga besar KH Hasyim Asy’ari sangat banyak. Mulai anak, cucu, cicit, sampai anaknya cicit. Belum lagi menantunya cucu, cicit, dan seterusnya.

Majelis keluarga kembali melakukan musyawarah untuk membahas hal tersebut. Akhirnya disepakati, yang dimakamkan satu kompleks dengan KH Hasyim Asy’ari maksimal generasi ke-3, yakni cucu beserta suami atau istrinya. ”Untuk cicit dan seterusnya mung-kin nanti di Tebuireng II di Jombok, Kecamatan Ngoro,” terang Gus Fahmi.

Gus Sholah seolah sudah mempersiapkan kepergiannya dengan baik. Dia tak mau mereka yang ditinggal memperdebatkan sejumlah hal karena belum ada keputusan. Selain menentukan lokasi makamnya sendiri, Gus Sholah membangun kediaman baru di belakang. Lokasinya tepat berada di depan pintu utara kompleks Maqbaroh. Rumah tersebut dihuninya sejak 2018.

Selain itu, Gus Sholah sudah menunjuk penggantinya dalam mengasuh Tebuireng pada 2016. Gus Kikin, kiai yang bakal meneruskan Gus Sholah, diberi amanah sebagai wakil pengasuh. Selain itu, Gus Kikin diminta tinggal di ndalem kasepuhan yang lokasinya di bagian depan kompleks pesantren. Tepat di sebelah utara Masjid Tebuireng.

Menurut Gus Fahmi, sosok Gus Kikin memang dekat dengan Gus Sholah. Ulama yang juga pengusaha tersebut bisa berinteraksi langsung dengan Gus Sholah. ”Kalau seperti saya menunggu ditimbali (dipanggil, red) dulu, baru bisa berinteraksi dengan beliau (Gus Sholah),” katanya.

Selain itu, Gus Kikin dianggap memenuhi kriteria sebagai pengasuh Ponpes Tebuireng. Gus Fahmi yang juga anggota majelis keluarga meng-ungkapkan, ada beberapa kriteria untuk dianggap mampu menjadi pengasuh. Tidak hanya memiliki wawasan yang luas serta ilmu yang mumpuni, pengasuh pesantren juga harus mandiri secara ekonomi.

”Jadi, sudah tidak memikirkan soal itu (materi). Dan kriteria itu ada pada Gus Kikin,” paparnya.
Gus Fahmi meyakini bahwa majelis keluarga bakal sepakat menyerahkan kepengasuhan ke Gus Kikin karena itu meru-pakan amanah langsung Gus Sholah.

”Karena beliau (Gus Sholah) sendiri yang menunjuk, berarti itu adalah keinginan beliau,” ucapnya. (*/c9/ayi)