batampos.co.id – Sinomart KTS Development Limited selaku pemegang saham mayoritas 95 persen di PT West Point Terminal (WPT), serius berinvestasi 841 juta dolas AS atau setara Rp 11 triliun membangun depo minyak (tank storage) di Pulau Janda Berhias, Batam. Tahun 2012 lalu, PT WPT telah menyewa lahan seluas 75 hektare melalui mitranya di Pulau Janda Berhias selama 50 tahun.

”Kami telah membayar Rp 1 triliun kepada mitra kami selaku pemegang modal lahan. Semua ada kuitansinya. Berapa keuntungan mitra kami dari pembayaran tersebut, itu urusan mereka,” ujar Direktur PT West Point Terminal (WPT), Osman Hasyim, kepada wartawan di Batam Center, Kamis (6/2).

”Anda bisa bayangkan sendiri, investasi yang sudah kami keluarkan sudah Rp 1 triliun, tentu kami serius dan investasi ini bukan main-main. Untuk itu, kami mohon dukungan dan kemudahan dari pemerintah daerah sampai pusat,” sambung Osman.

Realisasi pembangunan tersendat, ujar Osman, lantaran ada sedikit ”gangguan” gugatan hukum dari mitra lokal Sinomart KTS Development Limited. Pihak mitra lokal, mengajukan gugatan dalam negeri sampai ke pengadilan arbitrase International Chamber of Commerce (ICC) Singapura.

”Kami sudah laporkan persoalan ini kepada pemerintah daerah sampai ke pusat. Bahkan, kami juga sudah melaporkan persoalan ini ke Duta Besar Tiongkok, karena Sinomart KTS Development Limited yang memiliki saham 95 persen di PT West Point Terminal, merupakan anak perusahan Sinopec Kantons Holdings Limited China. Tapi, karena kendala ini menyangkut yudisial, sehingga pihak eksekutif menunggu hasilnya,” terangnya.

Osman optimistis, gangguan hukum dari mitra lokal akan dilayani dengan baik, sehingga rencana investasi Sinomart yang nilainya fantastis ini, bisa berjalan dengan baik tanpa ada hambatan.

f. repro
Maket rancangan depo minyak PT West Point Terminal (WPT) di Pulau Janda Berhias.

”Ini investasi penanaman modal asing (PMA) yang jumlahnya cukup besar. Kami selain meminta kemudahan dan dukungan dari pemerintah, juga mengharapkan adanya kepastian hukum,” terang Osman.

Serap Ribuan Tenaga Kerja

Jika tak ada gangguan investasi pembangunan depo minyak yang dilakukan PT West Point Terminal, proyek ini sudah beroperasi tahun 2014-2015 lalu. Akan tetapi, investor masih tetap serius melanjutkan pembangunan setelah semua hambatan terselesaikan.

”Jujur saja, kalau investasi PMA ini sudah terealisasi akan menyedot ribuan tenaga kerja. Kita tahu Presiden Jokowi selalu menggalakkan permudah birokrasi perizinan investasi,” terangnya.

”Ini investasi sudah masuk, kami mohon dibantu. Efek samping beroperasinya investasi ini, pemerintah daerah akan mendapatkan pajak, terjadi perputaran uang yang akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, sektor-sektor riil, jasa, dan sektor lainnya ikut bergerak,” tegas Osman.

Batam sebagai daerah perdagangan bebas dan pelabuhan bebas (free trade zone/FTZ), masih kata Osman, senantiasa haus akan investasi. Apalagi, sejumlah sektor seperti galangan kapal dan perakitan elektronik sedang lesu akibat krisis global dan perang dagang Amerika dan Tiongkok, ada momentum bagi pemerintah pusat umumnya dan daerah khususnya menggairahkan investor yang sedang masuk.

”Dari manajemen, kami berharap rencana investasi ini segera terwujud. Hambatan yang ada segera teratasi. Kalau ini beroperasi, depo minyak ini akan menjadi ketahanan energi nasional. Sebab, depo minyak yang kami bangun mengambil minyak dari berbagai negara dan diolah di tempat kami,” ujar Osman yang juga Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) Indonesian National Shipowners Association (INSA) Batam ini.

Kuasa Hukum Sinomart KTS Development Limited, EL Sajogo SH MCIArb, mengatakan gugatan arbitrase internasional yang dilayangkan mitra lokal Sinomart, hasilnya memenangkan Sinomart.

”Semoga dengan menangnya Sinomart di pengadilan arbitrase ICC Singapura, sehingga rencana investasi ini tak ada halangan lagi untuk dilaksanakan. Mohon doa dan dukungannya. Kalau ini berjalan, anak-anak bangsa juga yang terserap bekerja di perusahaan ini,” terang Sajogo. (adv)