Di Hong Kong, 265.000 Pekerja Migran Indonesia tertahan dan mulai panik akibat minimnya ketersediaan masker dan paket sanitasi yang dibutuhkan untuk pencegahan penyebaran virus Corona.

Wabah virus Corona yang menyebar dari Cina masih menjadi ancaman bagi masyarakat di berbagai belahan dunia. Penularannya masih belum pasti diketahui dan obatnya juga belum ditemukan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Kamis (30/1) lalu bahkan telah menyatakan, wabah virus corona Cina sebagai darurat kesehatan global atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC). Dengan adanya status ini, diperlukan respons internasional yang terkoordinasi untuk menghadapinya.

Melalui konferensi pers bertajuk “Lindungi Pahlawan Devisa dari Wabah Virus Corona”, Aksi Cepat Tanggap turut merespons dampak fatal atas penyebaran virus Corona. Ketua Dewan Pembina ACT Ahyudin menyampaikan, epidemi virus Corona ini merupakan masalah kemanusiaan. Oleh karenanya, dibutuhkan peran lembaga kemanusiaan dan publik untuk bersama mengatasi krisis kemanusiaan global ini.

“Sebagai tragedi kemanusiaan, tentu kita harus melihat ini bukan perkara latar belakang masyarakat terdampak. Dia dari negara mana, bangsa apa, agama apa. Yang harus kita lihat adalah ada manusia yang menjadi korban. Sudah selayaknya kita, dunia menjadikan peristiwa ini menjadi momentum kemanusiaan global. Yakni, menggerakkan masyarakat global untuk menghadapi krisis kemanusiaan global ini. Apalagi ada juga saudara-saudara kita yang ikut terdampak, seperti WNI di Hong Kong,” jelas Ahyudin.

Bahaya virus Corona ini turut mengancam kesehatan warga negara Indonesia yang bekerja atau menetap di Hong Kong. Yana, salah satu Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Hong Kong mengatakan, kondisi di negara tersebut saat ini mulai kurang kondusif akibat ancaman virus Corona. Pasalnya, banyak masyarakat yang mencari cara untuk tetap menjaga kesehatannya, salah satunya dengan menggunakan masker. Sedangkan stok masker di wilayah Hong Kong mulai berkurang.

“Permintaan masyarakat tinggi, sedangkan persediaan semakin menipis karena masker jadi alat untuk mencegah virus corona menyebar,” ungkap Yana kepada Aksi Cepat Tanggap (ACT) saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (6/2).

Dari video yang dikirimkan Yana kepada tim ACT, terlihat antrean panjang terjadi di depan toko-toko yang masih tersedia masker. Sedangkan di toko swalayan lain terlihat rak tempat masker yang kosong karena telah diborong oleh warga yang khawatir akan kesehatannya dari ancaman Corona.

Saat ini, tenaga kerja asal Indonesia yang berada di Hong Kong jumlahnya mencapai 265 ribu jiwa pada Januari 2019 lalu. Mereka bekerja di Hong Kong di berbagai macam bidang pekerjaan. Kini mereka semua berada di bawah ancaman terserang virus Corona.

ACT merespons tingginya kebutuhan masker sebagai tindakan preventif penyebaran virus Corona di Hong Kong. ACT menargetkan mengirim 10.000 boks masker bagi warga Indonesia yang ada di Hongkong. Langkah ini diambil setelah semakin sulitnya mendapatkan masker di Hongkong.

“Dalam waktu dekat ini akan dikirimkan untuk awalan 2.500 boks masker untuk saudara kita yang ada di Hong Kong,” jelas Sucita Ramadinda dari Tim Global Humanity Response (GHR) – ACT. Selain pembagian masker, ACT juga akan menyiapkan paket sanitasi serta pangan bagi warga Indonesia di Hong Kong.

Sebelumnya, di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng, ACT juga telah mendistribusikan masker ke warga Indonesia yang baru saja tiba dari Tiongkok. Tim medis ACT juga melakukan kampanye kesehatan bagi warga yang berada di bandara. Cara ini dilakukan sebagai langkah untuk mencegah tersebarnya virus Corona di Indonesia.[*]