Kamis, 16 April 2026

Ragukan Kemampuan Indonesia Deteksi Corona, Kok Bisa Sih ……

Berita Terkait

batampos.co.id – Belum adanya kasus positif 2019-nCoV di Indonesia justru menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Tak jarang yang akhirnya mempertanyakan kemampuan Indonesia dalam mendeteksi virus ini. Termasuk, pemerhati isu kesehatan dari sejumlah negara.

Dalam kesempatan paparan di KSP, kemarin, Kepala Badan Litbang Kemenkes, Siswanto, menjelaskan bahwa sejak 2009 pihaknya memang ditunjuk sebagai laboratorium nasional. Salah satunya untuk penyakit new emerging alias yang baru muncul.

”Kami sudah sangat berpengalaman karena sudah menangani flu burung, MERS kalau ada jemaah haji, dan sebagainya,” terangnya.

Pemeriksaan terhadap virus yang baru menggunakan pendekatan biomolekuler. Menggunakan PCR atau Polymerase Chain Reaction.

”Kami memiliki empat mesin NGS (Next Generation Sequencing) sehingga nanti bisa dilacak apakah betul ini adalah nCoV (novel Coronavirus) atau bukan,” lanjutnya.

Secara keseluruhan, di Indonesia terdeteksi 62 subkasus yang diduga sebagai corona. Tersebar di 16 provinsi, mayoritas di DKI Jakarta (14) dan Bali (11). 59 di antaranya sudah selesai diperiksa dan dinyatakan negatif. Sementara, tiga sisanya masih dalam proses pemeriksaan.

“Cara memeriksanya tidak seperti di Prodia dan dua jam selesai, nggak begitu,” tambahnya.

Butuh setidaknya satu hari untuk memeriksa dan memastikan apakah itu virus corona atau bukan. Yang jelas, laboratorium Litbang Kemenkes mampu untuk mendeteksi corona. Selain karena sudah berpengalaman menangani penyakit menular sebelumnya, fasilitas itu juga sudah menggunakan standar WHO dan telah diakreditasi oleh badan kesehatan dunia itu.

Terpisah, Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Achmad Yurianto menanggapi santai ketika dikonfirmasi terkait hal tersebut. Dia meyakinkan, bahwa semua spesimen yang sudah diperiksa selalu dilaporkan ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

“Nanti dilakukan verifikasi oleh WHO. Ini untuk melihat akreditasi validitas pemeriksaan oleh laboratorium kita,” tegasnya.

Di bagian lain, Yuri mengatakan, saat ini pemerintah tak hanya mewaspadai negara dari mainland Tiongkok. Tapi juga dari negara-negara yang sudah menyatakan positif kasus 2019-nCoV. Karenanya, pemeriksaan tak lagi mengandalkan thermal scanner, melainkan thermalgun.

Diakuinya, hingga kini, belum ada larangan untuk para turis dari negara-negara tersebut. Termasuk untuk Singapura yang baru saja menaikkan status kegawatdaruratannya menjadi oranye. Menurutnya, lalu lintas orang di pelabuhan Batam masih terus terjadi.

“Tapi kita pastikan bahwa semuanya diperiksa satu persatu. Dan tidak mungkin ada suspect bisa jalan-jalan seperti kabar yang beredar,” tegasnya.

Sebab, kalau itu terjadi maka artinya Singapura telah melanggar aturan dari WHO yang tidak memperbolehkan orang dalam kondisi sakit keluar masuk dari suatu negara saat ini. Aturan ini dibuat menyusul merebaknya 2019-nCoV saat ini.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Wishnutama Kusubandio, mengatakan merebaknya virus corona di sejumlah negara berpotensi memengaruhi pariwisata Indonesia.

Wishnutama mengatakan, saat ini saja pemerintah memberhentikan penerbangan dari dan ke Tiongkok daratan. Tidak menutup kemungkinan bila penyebaran virus itu meluas sampai Hongkong, kebijakan serupa diterapkan untuk Hongkong. Padahal Hongkong selama ini menjadi hub wisatawan masuk ke Indonesia.

Seperti diketahui di sejumlah daerah sudah muncul dampak virus corona terhadap pariwisata. Seperti yang terjadi di Batam. Pada Januari lalu tingkat keterisian rata-rata hotel (okupansi) di Batam sekitar 70 persen. Untuk bulan ini sejumlah kalangan memperkirakan mempertahankan okupansi itu. Bahkan untuk mencapai rata-rata okupansi 50 persen bakal sulit dicapai.

Kondisi ini dipicu merebaknya virus corona di Singapura. Batam dengan Singapura sendiri sangat dekat jaraknya. Keduanya hanya dipisahkan lautan berjarak sekitar 25 km.

Perkembangan terkini di Singapura sudah ada 43 kasus positif corona. Dimana enam di antaranya dinyatakan sudah sembuh. (*/byu/mia/wan)

Update