batampos.co.id – Menipisnya bawang putih impor asal Tiongkok di pasaran Batam ditengarai akan berdampak pada meningkatnya inflasi di Batam. Komoditas yang satu ini memang jadi salah satu biang kerok tingginya angka inflasi di Batam.

”Bawang putih ini bahan pokok penyumbang inflasi. Jadi pemerintah harus ada pemetaan mengenai alternatif impor dari negara atau daerah lain,” kata pengamat ekonomi Batam, Muhammad Zaenuddin, Selasa (11/2/2020).

Pemerintah pusat memutuskan untuk menutup kran impor produk hortikultura dari Tiongkok akibat imbas dari merebaknya virus Corona di negara tersebut. Sehingga, produk hortikultura yang biasa diimpor dari Negeri Tirai Bambu itu seperti bawang putih, lemon, jeruk mandarin dan lainnya, tak bisa didatangkan lagi ke Indonesia sampai batas waktu yang belum ditetapkan.

Dengan begitu, bawang putih akan menjadi langka di pasaran Batam. Mengingat, bawang putih impor dari Tiongkok berkontribusi sebanyak 70 persen terhadap kebutuhan konsumsi komoditas tersebut di Batam.

Zaenuddin mengatakan, secepatnya pemerintah harus mencari sumber lain pemasukan bawang putih. Sebagai bumbu penyedap makanan, kelangkaan bawang putih akan menyebabkan harganya mahal sehingga berimbas pada meningkatnya harga makanan di pasaran, seperti ayam penyet, bakso, dan lainnya yang banyak menggunakan bawang putih.

”Bisa juga cari dari sumber di Jawa seperti di Brebes. Atau dari Sumatera juga. Karena bawang putih merupakan kebutuhan penting, maka harus segera koordinasi ke pusat. Masyarakat sendiri harus mulai berhemat. Kurangi tingkat penggunaan bawang atau cari substitusi untuk bawang ini,” ungkapnya.

foto: daily hunt

Berdasarkan data dari Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri, inflasi Januari berada di posisi yang terkendali.

Inflasi di Kepri pada Januari tercatat sebesar 0,18 persen (mtm), dengan tekanan yang lebih rendah dibandingkan Desember 2019 yang mengalami inflasi sebesar 1,27 persen (mtm).

Komoditas utama penyumbang inflasi Kepri pada Januari kemarin adalah cabai merah, cabai rawit dan minyak goreng.

Sedangkan bawang putih, menjadi penyebab inflasi biasanya pada bulan-bulan tertentu seperti hari besar keagamaan. Misalnya, saat Lebaran, Natal dan hari besar lainnya berlangsung.

Terpisah, Direktur Pelayanan Lalu Lintas Barang dan Penanaman Modal BP Batam, Purnomo Andiantono mengatakan, bawang putih impor yang masuk Batam hanya berasal dari Tiongkok.

”Kalau 2018 itu total bawang putih yang diimpor dari Tiongkok sebanyak 4.240 ton. Sedangkan di 2019, turun jadi 1.440 ton,” ungkapnya.

Sedangkan untuk 2020, Andi mengatakan, belum ada importir yang mengajukan impor bawang putih. ”2020 belum ada yang minta bawang putih. Mungkin masih menunggu persetujuan impor dari Jakarta dulu,” tuturnya.

Andi mengatakan, bawang putih dari Tiongkok memiliki kualitas bagus dan harga yang lebih murah dibanding bawang lokal.

”Bawang putih memang biasanya dari Tiongkok. Karena belum bisa impor lagi, sehingga stoknya menipis,” katanya.

Menurutnya, BP Batam hanya mengeluarkan izin masuk saja. Sedangkan persetujuan impornya dari Kementerian Perdagangan.

”Dengan adanya wabah virus corona ini, mungkin distributor akan cari sumber dari negara lain,” terangnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Batam, Mardanis, mengatakan stok bawang putih yang ada di beberapa distributor di Kota Batam, tersisa 114 ton. Sementara itu, kebutuhan bawang putih per hari mencapai 8,6 ton.

Dalam sebulan, jika dirata-rata Batam membutuhkan 260 ton bawang putih.

”Kalau dibagi, stok ini hanya cukup untuk 13 sampai 14 hari ke depan. Tentu jika dimanajemen dengan baik (akan cukup), kalau tidak bisa, cepat selesai (habis),” katanya, Senin (10/2).

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga beberapa bulan ke depan, seharusnya sudah ada stok baru untuk menjaga stabilnya cadangan maupun harga komoditas bawang putih ini. Sayangnya, sejak Januari lalu hingga kini, stok baru belum ada.

”Melewati waktu itu, bawang mugkin masih ada di pengecer. Tapi harganya akan mahal,” kata dia. (leo)