batampos.co.id – Sterilisasi pesawat Lion Air Grup yang membawa ratusan WNI dari Wuhan beberapa waktu lalu, sudah sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP). Sehingga tidak menyisakan satu virus atau bakteripun di dalam pesawat tersebut. Direktur Utama Batam Aero Technic I Nyoman Rai Pering mengatakan ada beberapa proses dilalui dalam pembersihan tersebut.

“Pertama kami lakukan pembersihan terhadap penumpang yang meninggalkan pesawat. Lalu juga terhadap pesawatnya,” katanya, Jumat (14/2/2020).

Proses pembersihan dengan menggunakan cairan disinfektan memakan waktu selama 2 jama. Mulai dari bagian luar pesawat hingga di dalam pesawat. Setelah proses tersebut dilaksanakan cabin interior cleaning.

Tidak hanya itu saja. Rai mengatakan juga dilakukan proses sterilisasi terhadap penyaring udara atau HEPA (High efficiency particulate air). Ia mengatakan filter udara ini dapat menyaring hingga tingkat virus 0,03 mikron. Dan alat ini sangat efisiensi. Karena pemurnian udaranya mencapai 99,97 persen.

“Sehabis membawa saudara kita dari Wuhan, kami sudah melakukan strerilisasi,” ungkapnya.

Ia mengatakan secara aturannya sterilisasi dilakukan secara berkala setelah 2.000 jam penerbangan.

“Cara sterilisasi ini dengan dimusnahkan. Prosedurnya begitu, setelah itu pesawat dijamin steril dari kuman dan virus,” ungkapnya.

Mengenai pesawat yang membawa 243 WNI dari Wuhan, kata Rai sudah beroperasi normal kembali. Pesawat tersebut sudah menjalani serangkaian proses sterilisasi. “Sekarang sudah aman. Karena prosedur mengacu dari pabrikan pesawat dan standar kesehatan dunia,” tuturnya.

Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan(KKP) Kelas 1 Batam, Achmad Farhanny membenarkan pesawat yang sudah menjalani sterilisasi, telah bebas dari bakteri dan virus. “Kegiatan pembersihan ini sudah sesuai dengan proses dan protapnya,” ungkapnya.

Ia mengatakan masyarakat tak perlu khawatir lagi menggunakan pesawat yang mengevakuasi 243 WNI dari Wuhan.

Terkait prosedurnya, Acmad mengatakan pesawat hanya perlu dikosongkan. Lalu parkir dari tempat yang jauh dari kontak orang.

“Barulah disana dilakukan kegiatan disinfeksi. Bahan-bahan digunakan dalam disinfeksi ini sesuai dengan lembaga kesehatan dunia,” pungkasnya. (ska)