batampos.co.id – Penurunan tarif logistik sebesar 10 dolar Amerika Serikat dipandang
sebelah mata oleh asosiasi jasa kepelabuhanan.

Pasalnya dengan penurunan tersebut, tidak akan bisa mengontrol mekanisme pasar yang selama ini mengatur besaran tarif logistik.

”Persoalan biaya logistik mahal ini disebabkan banyaknya jalur pengiriman barang. Dari Batam ke Jurong Singapura,” kata Ketua Indonesian National Shipyard Association (INSA) Batam, Osman Hasyim, Jumat, (14/2/2020).

“Naik truk ke pelabuhan baru dikirim ke negara tujuan. Itu yang buat mahal. Persoalan ini hanya bisa diatasi dengan membenahi infrastruktur pelabuhan agar kapal-kapal besar bisa bersandar,” ujarnya lagi.

Menurut Osman, tarif logistik ditentukan oleh mekanisme pasar.

”Kita tak mungkin bisa atur tarif yang ditentukan swasta. Jadi, penurunan itu tak ada artinya dan tak mengikat. Masing-masing swasta bebas tentukan harga, karena harga tak bisa dipatok,” ucapnya.

Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Batuampar, Batam, beberapa waktu lalu. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

Terpisah, Direktur Badan Usaha Pelabuhan Badan Pengusahaan (BP) Batam, Nelson Idris, mengatakan penurunan tarif logistik tersebut sudah berdasarkan kesepakatan dengan perusahaan-perusahaan logistik yang bermitra dengan Batam.

”Kita ada keluhan dari pengguna jasa. Jadi kita panggil para orang yang kirim barang
lewat pelayaran baik dari Batam maupun Singapura,” jelasnya.

Nelson mengungkapkan bahwa BP Batam meminta penurunan tarif dan disepakati turun 10 dolar Amerika.

”Kontainer masuk ke Batam itu 20 ribu TEUS. Kalau bisa turun 10 dolar, artinya 200 ribu dolar Singapura bisa dihemat,” tegasnya.

Banyak pihak menganggap bahwa penurunan 10 dolar Singapura belum cukup untuk mendorong daya saing Batam semakin kompetitif.

Pasalnya untuk kontainer ukuran 40 feet saja, ongkosnya sekitar 947 dolar Singapura.
Sedangkan untuk ukuran 20 feet sebesar 667 dolar Singapura.

Hitungan yang ideal adalah penurunan tarif sebesar 50 persen.(leo)