batampos.co.id – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Batam memastikan ketersediaan pangan di Batam aman untuk beberapa waktu ke depan.

Tugas selanjutnya yang tak kalah penting selain mengamankan stok, adalah mengendalikan harga agar tetap stabil.

”Semua stok aman. Tinggal bagaimana harga dikontrol,” kata Kepala DKPP Batam, Mardanis, Jumat (14/2/2020).

Ia mengungkapkan, beberapa komoditas yang perlu diawasi pergerakan harganya
seperti cabai, daging ayam, bawang, telur, juga sayur bayam.

”Kalau yang sudah diatur HET (Harga Eceran Tertinggi) oleh pemerintah, tak perlu risau lagi,” ujarnya.

Beberapa hari terakhir, ia mengakui komoditas bawang putih memang sempat bermasalah karena menipisnya stok.

Namun, keluarnya rekomendasi impor dari Kementerian Pertanian diyakini menyelesaikan persoalan tersebut.

”Bawang putih akan berangsur normal,” ucap dia.

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Batam memastikan ketersediaan pangan di Batam aman untuk beberapa waktu ke depan. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

Sementara itu, komoditas lain yang stoknya cukup banyak adalah cabai hijau. Itu karena produksi lokal dari wilayah Galang dan Rempang, jumlahnya melimpah.

Mardanis mengatakan, keadaan ini cukup membantu kebutuhan pangan di Batam.

”Rata-rata kita bisa produksi 6 hingga 7 ton per hari, kebutuhan kita 8 ton. Bahkan beberapa kali kita berlebih,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam, Gustian Riau, berencana mengajukan penambahan distributor, dengan dalih, kebutuhan pangan semakin meningkat seiring bertambahnya penduduk.

”Sekarang baru tiga. Kami ajukan satu lagi. Jadi yang baru ini nanti kami arahkan
untuk mencari (bahan pangan impor dari) negara lain, bukan hanya dari Tiongkok.
Agar seperti masalah kemarin (menipisnya bawang putih), dapat terhindarkan,” pungkasnya.

Inflasi Tetap Terkendali

Meski diterpa kelangkaan komoditas bawang putih di pasaran, Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri memperkirakan inflasi pada bulan ini akan tetap terkendali.

”Tapi ada sejumlah risiko inflasi ke depan yang perlu diwaspadai,” kata Kepala BI
Perwakilan Kepri, Musni Hardi, Jumat (14/2/2020).

Musni menyebut, inflasi akan dijaga dalam kisaran sasaran inflasi nasional 2020, yakni sebesar 3±1 persen (yoy). Sejumlah potensi risiko pendorong inflasi yakni curah hujan dan gelombang tinggi.

”Curah hujan dan gelombang tinggi masih terus berlangsung memicu kelangkaan pasokan
ikan segar, menghambat jalur distribusi bahan makanan serta berdampak pada produk-
si sayuran sehingga mendorong inflasi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau,” ujarnya.

Kemudian, harga bawang putih berpotensi mengalami peningkatan dipicu oleh ke-
terbatasan pasokan dari sentra pemasok.

”Sebabnya karena awal musim tanam yang mundur karena musim kemarau lalu
yang berlangsung panjang serta pengaruh stok impor yang berkurang,” kata dia.

Selanjutnya, penyesuaian tarif dan upah pada awal tahun yang dapat memicu inflasi
secara umum.

”Dan, kenaikan harga emas yang diperkirakan masih berlanjut seiring tren kenaikan harga emas dunia,” tegasnya.(iza/leo)