batampos.co.id – Berkali-kali dibongkar polisi, bisnis mesum di kawasan Puncak, Bogor, tak juga berhenti.

Buktinya, untuk kali kesekian, Bareskrim Polri membekuk empat muncikari yang biasa
melayani pesanan tamu dari Timur Tengah.

Empat muncikari itu diketahui membawahkan sedikitnya 40 perempuan pekerja seks.
Direktur Direktorat Tindak Pidana Umum (Dittipidum), Bareskrim Polri, Brigjen Ferdi
Sambo, menjelaskan, lima orang telah ditetapkan sebagai tersangka.

Selain empat muncikari itu, seorang tersangka lain adalah pria Timur Tengah yang menjadi pemesan.

”Mereka telah ditangkap,” katanya.

Lima tersangka tersebut adalah Nunung Nurhayati, Oom Komariah, Saleh, Devi Okta, dan Almasod Abdul Al Aziz.

Tersangka dan korban dihadirkan saat pengungkapan Tindak Pidana Perdagangan orang dengan tujuan eksploitasi seksual, modus booking out kawin kontrak dan short time di Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat (14/2/2020). Dalam kasus ini polisi berhasil mengamankan 5 orang tersangka yaitu Nunung Nurhayati, Oom Komariah, H. Saleh, Devi Okta Renaldi, Almasod Abdul Azis, serta 15 barang bukti. Foto: Miftahulhayat/Jawa Pos

Nunung diketahui berperan sebagai penyedia perempuan yang siap dikawin kontrak untuk pelayanan seksual.

”Nunung mengaku membawahkan sekitar 20 perempuan,” tuturnya.

Tersangka Oom Komariah alias Rahma memiliki peran yang hampir sama. Dia juga
membawahkan 20 perempuan.

”Saleh memiliki peran mencarikan pelanggan yang biasanya berasal dari Timur Tengah,” ujarnya.

Kepada polisi, Saleh mengaku menekuni profesi tersebut sejak 2015. Selama rentang waktu itu, dia memiliki lebih dari 20 pelanggan.

”Terakhir, tersangka Almasod merupakan lelaki asal Timur Tengah yang memesan kawin kontrak,” ucapnya.

Tarif kawin kontrak tersebut terbilang murah. Untuk tiga hari kawin kontrak, biaya-
nya hanya Rp 5 juta. Untuk lima hari, biayanya Rp 10 juta.

”Nah, mucikari mendapatkan 40 persen,” ungkapnya.

Muncikari juga menyediakan jasa short time atau layanan singkat. Tarifnya Rp 500 ribu
hingga Rp 700 ribu untuk 1–3 jam.

”Satu malam Rp 1 juta,” kata jenderal berbintang satu tersebut.

Prostitusi di Puncak seakan tidak habis-habis. Sebelumnya, Bareskrim mengungkap kasus
prostitusi warga Maroko dan lokal pada akhir 2019. Modusnya sama.

Mereka mencari lelaki Timur Tengah yang memesan. Fenomena itu disebabkan Puncak menjadi salah satu tujuan wisata seksual kegemaran lelaki asal Timur Tengah.(idr/c20/oni/jpg)