batampos.co.id – Selama penghujung 2019, produksi industri manu-faktur besar dan sedang (IBS) di Kepri mengalami pe-ningkatan produksi sebesar 1,39 persen dibanding triwulan IV 2018.

Kepala Bidang Statistik Produksi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepri, Yan Safrizal, mengatakan, meski mengalami kenaikan, tapi sebenarnya menurun jika dibandingkan dengan triwulan III 2019.

“Sektor industri manufaktur sangat berperang penting dalam perekonomian nasional. Karena kontribusi industri manufaktur ke perekonomian Kepri mencapai 36,86 persen,” katanya, Sabtu, (15/2).

Untuk menggairahkan investasi di Batam, pemerintah harus mengawal realisasi komitmen investasi yang sudah dibuat calon investor yang akan masuk ke Batam, khususnya investor di bidang manufaktur.

“Kemudian pembenahan iklim investasi di Batam melalui penyederhanaan perizi-nan investasi dan keluar masuknya barang dari dan ke Batam,” kata ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid.

ilustrasi pekerja di Batam.
foto: cecep mulyana / batampos

Selanjutnya, harmonisasi aturan investasi yang masih tumpang tindih. Permasalahan lahan di Batam juga diharapkan juga cepat diselesaikan supaya bisa segera dialokasikan untuk kegiatan usaha dan investasi.

Berikutnya, pembenahan pelabuhan melalui moderni-sasi peralatan dan pelayanan di pelabuhan bongkar muat Batu Ampar bisa dilaksanakan.

“Dengan peralatan dan sistem yang modern di pelabuhan ini, maka dwelling time dan ongkos angkut kontainer bisa ditekan. Sehingga produk produk yang dikirim dari Batam dapat lebih bersaing di pasar global,” tutupnya.

BP Batam Kunjungi Jetro

Sementara itu, untuk mendukung peningkatan investasi, Badan Pengusahaan (BP) Batam mengunjungi kantor Japan External Trade Organisation (Jetro) di Jakarta, Kamis (13/2) lalu.

Kepala Biro Humas Promosi dan Protokol BP Batam, Dendi Gustinandar, mengatakan pertemuan dengan Jetro untuk membahas kendala berinvestasi di Batam bagi pengusaha Jepang.

“Tahun 90-an, Batam banyak dipenuhi oleh perusahaan Jepang dimana lebih dari 90 perusahaan beroperasi di Batam. Pada tahun ini ada sekitar 40 perusahaan Jepang yang masih beroperasi di Batam. Kita memanfaatkan hubungan baik dengan Jetro untuk mengetahui secara langsung kendalanya,” kata Dendi, Sabtu (15/2).

Menurut Dendi, karakteristik investor-investor asal Jepang sedikit tertutup. Mereka lebih nyaman bicara langsung dengan pemerintahnya sendiri.

“Makanya kami pilih mendatangi Jetro,” ujarnya.

Jetro adalah badan organisasi yang terkait dengan pemerintah Jepang. Tugasnya yakni mempromosikan hubungan perdagangan dan investasi antara Jepang dengan negara-negara lain di dunia.

Senior Director Jetro, Yamashiro Takenobu, mengatakan, dalam rentang 2011 hingga 2015, aliran investasi Jepang di Indonesia begitu kuat. Kurang lebih sebanyak 300 perusahaan. Namun, pada tahun 2016, Jepang mempunyai alternatif kawasan lainnya untuk berinvestasi.

“Memandang faktor eksternal tersebut, Batam perlu meningkatkan daya tariknya sehingga dapat lebih berdaya saing, serta juga membangun lingkungan investasi yang lebih kondusif guna mendukung investasi,” katanya.

Menurut Yamashiro, industri digital seperti startup di Nongsa menjadi daya tarik tersendiri.
Untuk itu, pihaknya akan menggelar pertemuan bisnis dengan para pengusaha Jepang di Jakarta sekitar Juni tahun ini untuk memberikan informasi terbaru tentang investasi di Batam. (leo)