batampos.co.id  – Warga Batuaji dan Sekitarnya heboh memperbincangkan beban biaya service charge kepada pasien rawat inap di klinik Dunia Medical Centre yang berlokasi di komplek pasar Fanindo, Tanjunguncang.

Biaya tambahan ini dinilai tak masuk akal sebab nilainya di atas Ro 100 ribu permalamnya.

Perbicangan ini mencuat setelah ada keributan yang terjadi di lokasi, Sabtu (15/2/2020) lalu. Keluarga dan orangtua sejumlah pasien protes namun tidak ditanggapi pihak manajemen.

FN orangtua salah satu pasien mengatakan , mereka tertengkar hebat dengan manajemen klinik sebab dalam kwitansi pembayaran biaya perawatan anaknya selama dua malam juga dicantumkan biaya service charger sebesar Rp 224 ribu.

“Saya konfirmasi ke pihak manajemen, jawabannya aturan memang seperti itu dan jika ada penggunan arus listrik akan dikenai biaya service charger,” jelasnya.

FN mengaku tidak terima dengan kebijakan tersebut. Karena besaran biaya penggunaan listrik dianggapnya tak wajar dan terkesan mengada-ngada.

Keluarga pasien mengeluhkan adanya biaya listrik yang dikenakan klinik Dunia Medical Centre yang berlokasi di komplek pasar Fanindo, Tanjunguncang. Biaya listrik tersebut Rp 100 ribu per malam. Foto: Eusebius Sara/batampos.co.id

“Ngeri kali memang klinik ini. Saya bersedia bayar cuma tak segini juga bu. Masa charger hape saja biayanya sampai Rp 224 ribu,” katanya dengan nada tinggi kepada seorang petugas di kasir klinik kala itu.

“Aturan dari mana ini. Apakah air dan listrik tidak termasuk fasilitas kamar (rawat inap). Keterlaluan memang ini,” ujar FN lagi.

Protes serupa juga dilakukan oleh Hl, orangtua pasien anak lainnya. Semalam anaknya dirawat di ruangan rawat inap. Hl diharuskan membayar uang charger sebesar Rp 140 ribu. Hl juga tak terima dan protes ke pihak manajemen.

“Banyak yang tak betul memang klinik ini. Selain ada biaya cas hape, ada juga biaya penggunaan sarung tangan dan masker oleh perawat,” jelasnya.

“Perawat yang pakai saat ke ruangan pasien, biayanya dikenakan ke pasien. Baru di sini saya jumpain yang semacam ini. Apakah klinik tak punya barang inventaris tersendiri sehingga sarung tangan dan masker untuk perawatpun harus pasien yang beli,” ujar Hl.

Jh keluarga pasien lainnya juga mengeluhkan kejanggalan lain. Yakni pengecekan darah yang dilakukan sepihak oleh pihak klinik.

Ia menceritakan, anak Jh demam dan dirawat semalaman di klinik tersebut. Saat akan membayar tagihan biaya perawatan sang anak, Jh kaget ada baiaya pengecekan darah yang nilainya Rp 1,6 juta.

Padahal sebelumnya petugas medis di klinik tersebut tidak menginformasikan apapun terkait pengecekan darah tersebut.

Dia menyesalkan sikap petugas medis yang bertindak sendiri tanpa koordinasi dengan keluarga atau orangtua tersebut.

“Bukannya mau intervensi kerja petugas medis atau dokter di sini, tapi setidaknya diinformasikanlah biar kita tahu biayanya berapa,” kata dia.

“Kalau begini kan repot jadinya kami ini. Mau tak mau ya harus bayar demi anak. Padahal nominalnya sangat besar, buat saya yang kerjanya serabutan seperti ini,” sesal Jh.

Manajemen klinik saat dikonfirmasi enggan memberikan tanggapan. Sabtu lalu saat didatangi wartawan petugas di klinik mengaku tak bisa memberikan komentar.

Dengan alasan manajemen klinik sedang libur. Senin (17/2/2020) saat didatangi lagi, jawaban serupa yang didapat awak media.

Manajemen sedang tak berada di tempat. Sehingga tak ada penjelasan apapun terkait persoalan dan keluhan keluarga pasien tersebut.

“Nggak apa-apa ditulis aja (diberitakan). Manajemen sudah keluar (tak berada di tempat). Kami tak bisa berkomentar,” ujar seorang petugas wanita di meja informasi.(eja)