batampos.co.id – Hongkong yang mulai kondusif kembali diwarnai aksi unjuk rasa. Sekitar 100 orang turun ke jalan di distrik New Territories, Fo Tan. Aksi protes tersebut dipicu rencana pemerintah Hongkong menjadikan sejumlah gedung atau bangunan sebagai pusat karantina untuk pasien virus Korona.

Demonstran melakukan unjuk rasa selama dua hari yakni Sabtu (15/2) dan Minggu (16/2). Mereka memprotes rencana pemerintah mengubah beberapa bangunan menjadi pusat karantina pasien yang terkena Coronavirus.

Virus Korona kini menjadi alasan demonstran untuk kembali turun ke jalan setelah redup dalam beberapa bulan terakhir. Tuntutannya kini pemerintah Hongkong harus membatalkan rencana pusat karantina demi kesehatan masyarakat setempat.

Bangunan-bangunan yang sedianya digunakan untuk permukiman bakal dijadikan pusat karantina. Hal itu tentu saja memicu protes. Seorang ibu dua anak berusia 38 tahun mengatakan bahwa dia telah menunggu delapan tahun agar rumahnya bisa dibangun. Dia sudah lama berharap untuk mendapatkan kunci pada akhir bulan ini.

“Tidak ada konsultasi dan kami tidak tahu berapa lama karantina itu akan berlangsung. Itu sebabnya kami sangat marah,” kata perempuan itu seperti dilansir Channel News Asia.

Ayah dua anak, Koby, 36, juga mengaku frustrasi karena tidak diberi tahu berapa lama perumahan itu dapat digunakan sebagai karantina. Sebab calon penghuni di sana sudah lama menanti bisa menempati rumah baru.

“Saya sudah menunggu delapan tahun. Saya punya dua anak yang belajar di taman kanak-kanak dan sudah memindahkan mereka ke sekolah di Fo Tan,” katanya.

Para pengunjuk rasa berkumpul di distrik lain pada Minggu (17/2). Dengan harga properti di Hongkong yang termasuk termahal di dunia, memiliki rumah adalah impian bagi banyak orang.

Warga Hongkong tentu saja marah dengan rencana itu dan menuding itu merupakan campur tangan Tiongkok. Mereka mengkritik penanganan pemerintah terhadap wabah virus Korona.

Pihak pemerintah berusaha menenangkan calon penghuni perumahan itu dengan menjanjikan subsidi khusus. Tiga minggu yang lalu, para pengunjuk rasa membakar lobi gedung tempat tinggal yang baru dibangun di distrik lain yang juga telah direncanakan oleh pihak berwenang untuk digunakan sebagai fasilitas karantina. Pemerintah akhirnya membatalkan rencana itu.

Sejauh ini, Hongkong melaporkan ada 57 kasus Coronavirus. Satu orang telah meninggal dunia. Warga Hongkong telah meminta pemerintah kota untuk menutup perbatasan dengan daratan Tiongkok untuk mencegah penyebaran virus Korona.(jpg)