batampos.co.id – Industri Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) butuh insentif baru untuk mengembangkan usahanya.

Harapan tersebut menjadi penting karena negara-negara tetangga mencoba menggoda sejumlah maskapai Indonesia seperti Lion untuk berinvestasi dengan iming-iming insentif yang menarik.

“Di Thailand, impor suku cadang itu tak bayar bea masuk. Di Malaysia dan SIngapura juga. Malaysia bahkan menggoda kami untuk investasi disana,” kata Presiden Direktur Lion, Edward Sirait di Gedung BP Batam, Selasa (18/2/2020).

Edward menyebut bahwa Malaysia menawarkan Lion untuk menggunakan lahannya selama 100 tahun penuh.

“Asal 60 persen tenaga kerjanya berasal dari penduduk lokal dan sisanya bisa bawa dari luar,” jelasnya.

Sejumlah mekanik sedang melakukan pengecekan pesawat Lion Air di Hanggar Lion Bandara Hang Nadim Batam. F Cecep Mulyana/Batam Pos

Malaysia tertarik menggoda Lion karena maskapai berlambang singa ini banyak membuka rute ke kota-kota di Malaysia. Tapi Lion masih mempertimbangkannya dulu.

“Saya minta untuk suku cadang yang masuk tak perlu dikenakan bea masuk. Insentif ini perlu untuk bangkitkan industri ini,” ujarnya.

Menurut Edward, membesarkan industri MRO bukanlah gampang dan untung yang diperoleh tidak terlalu besar.

Bahkan maskapai terbaik di dunia sekalipun hanya bisa meraih keuntungan tujuh persen.

“Buat MRO tak gampang. Dalam rangka sertifikasi saja, kita harus layani pasar domestik minimum dua atau tiga tahun baru bisa masuk ke pasar internasional. Kalau dibebani lagi bisa berat. Kami tak sanggup dan kehabisan tenaga,” paparnya.

Khusus untuk Batam, Edward mengatakan pihaknya sudah mengajukan penambahan luas lahan dari 30 hektar menjadi 50 hektar.

“Pembangunan berjalan terus. Sekarang lagi proses lahannya. Kami sudah punya master plan agar bisa rawat pesawat hingga 52 unit secara bersamaan,” jelasnya.

Ia juga mengapresiasi jangka waktu penggunaan lahan yang diberi oleh BP Batam.

“Ini luar biasa karena penggunaan lahan bisa 50 tahun. Ini bisa lebih lama kami menngelolanya,” ungkapnya.

Sedangkan Direktur Bandar Udara dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (BUTIK) BP Batam, Suwarso mengatakan, pihak Batam Aero Tehnik (BAT) dari Lion memang sudah mengajukan permohonan ekspansi lahan.

“MRO hanya melanjutkan proses yang lalu. BAT sudah ajukan permohonan lahan tambahan jadi 50 hektar. Dan sekarang tengah diproses BP Batam,” tegasnya.(leo)