batampos.co.id – Perusahaan-perusahaan industri di Batam mulai mencari alternatif sumber bahan baku industri ke Eropa.

Mewabahnya virus Corona di Tiongkok menyebabkan suplai bahan baku industri dari negeri tirai bambu tersebut macet.

“Beberapa perusahaan sudah mencari open market melalui Eropa. Itu alternatif solusi sementara untuk mengatasi persoalan ini,” kata Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, Tjaw Hoeing di Gedung Marketing Centre BP Batam, Selasa (18/2).

Ia menuturkan ketersediaan bahan baku industri di gudang-gudang industri manufaktur Batam masih akan bertahan sampai dengan pertengahan Maret.

“Dampaknya memang besar karena bahan baku yang diimpor dari Tiongkok itu tidak bisa masuk karena operasional berhenti. Hal ini sangat berpotensi untuk menghambat produksi Batam. Ini yang kita khawatirkan,” tambahnya.

Menurut Tjaw, kebutuhan impor bahan baku industri dari Tiongkok menyumbang sekitar 50 persen untuk pasokan Batam.

“Itu merupakan jumlah yang sangat signifikan. Jika terus berlanjut, saya bilang perusahaan bisa merumahkan para pekerja. Itu potensi terbesar yang harus dihindari,” paparnya.

Satu hal yang lain yang patut dikhawatirkan yakni mengenai pemangkasan proyeksi ekonomi yang dilakukan Singapura.

Singapura merupakan mitra nomor satu dalam investasi serta ekspor dan impor bagi Batam.

Pemangkasan target pertumbuhan ini imbas dari merebaknya virus corona. Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura mengatakan, ekonomi Singapura diperkirakan hanya akan tumbuh sekitar 0,5 persen tahun ini.

Angka tersebut lebih buruk dari pada proyeksi sebelumnya dari pertumbuhan antara 0,5 persen dan 2,5 persen.

“Ini juga harus menjadi perhatian karena ekspor terbesar Kepri itu menuju Singapura. Begitu Singapura batuk sedikit saja, pasti ekonomi Kepri akan terguncang sedikit. Kita harapkan kasus Corona ini segera terselesaikan,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, Wakil Kepala BP Batam, Purwiyanto mengatakan BP Batam belum memiliki langkah yang konkrit mengenai keterbatasan bahan baku industri ini.

“Untuk membantu fasilitasi, kita diskusikan dulu. Karena di BP tidak ada program seperti itu.(leo)