batampos.co.id – Penolakan masyarakat Batam terhadap angkutan kota (angkot) jenis Bimbar, Anugerah, dan sejenisnya terus meluas, setelah memicu kecelakaan lalu lintas yang menewaskan Sri Wahyuni, karyawan PT Epson Batam, Senin (17/2/2020) lalu.

Selain lebih dari 2.500 orang menandatangani petisi di change.org, spanduk penolakan juga bermunculan. Salah satunya yang paling menyita perhatian publik adalah spanduk di Bukit Daeng, tak jauh dari lokasi kecelakaan.

Spanduk bertuliskan, ”Sri ora bakal bali… Bimbar ambyar” itu, dipasang rekan-rekan Sri, Selasa (18/2/2020) malam.

foto: batampos.co.id / dalil harahap

Selain sebagai penghormatan terhadap Sri, juga mengandung pesan dan desakan kepada Pemerintah Kota (Pemko) Batam dan instansi lain terkait untuk segera meng-hentikan operasional angkot yang tak laik beroperasi di jalan-jalan utama di Batam.

Spanduk ini dipasang di dua tempat berbeda, yakni persis di lokasi Kecelakaan dan di atas bukit dari arah Mukaku-ning. Tidak sedikit pengendara yang menghentikan laju kendaraannya untuk memberikan dukungan agar angkot ugal-ugalan dan tak laik jalan segera ditertibkan.

Dukungan ini disampaikan pengguna jalan dengan membubuhkan tanda tangan pada spanduk tersebut.

”Ini rasa dukacita kami terhadap Sri dan juga rasa kesal ke (angkot) Bimbar dan Anugerah. Kami dukung desakan masyarakat supaya angkot yang tak lain jalan diberhentikan karena memang membahayakan nyawa banyak orang. Sudah tak laik semua itu. Harus dihentikan,” ujar Andra, pengendara sepeda motor di lokasi kejadian.

Sepanjang sore kemarin, banyak pengendara yang berhenti dan membubuhkan tanda tangan pada spanduk tersebut. Mereka semua sepakat agar angkot ugal-ugalan, diberhentikan operasionalnya. Arus lalu lintas sempat macet karena banyak-nya pengendara yang berhenti menyampaikan dukungan tersebut. (eja)