batampos.co.id – Meski polisi dan Dinas Perhubungan (Dishub) Batam sudah mulai menindak beberapa angkot yang tak memiliki kelengkapan dokumen atau tak laik jalan sejak beberapa hari lalu.

Nyatanya di lapangan masih saja dijumpai angkot yang melaju ugal-ugalan dan membahayakan pengendara lainnya.

Hal itu membuat warga kesal. Bahkan, kekesalan itu bertambah, lantaran usulan penghentian operasional angkot ugal-ugalan tak langsung direspons pemerintah daerah, dengan alasan mempertimbangkan nasib sopir yang akan kehilangan mata pencaharian.

Seperti yang dikeluhkan warga Batuaji, Esa. Ia menyebut, meski sudah dirazia, tapi masih banyak angkot keropos dan berasap itu berkeliaran di jalan raya.

Bahkan, sebagian lagi tetap melaju ugal-ugalan dan membahayakan pengendara lain. Ia sendiri mengalaminya karena hampir celaka karena ulah sopir angkot yang melajukan mobilnya secara ugal-ugalan di Jalan Ahmad Yani, Kamis (20/2/2020).

”Dishub Batam dan Satlantas tolong jangan hanya razia sekali atau dua kali, setelah itu sudah. Harus terus diawasi, kalau masih ada yang seperti ini, ya ditindak lagi,” harap Esa saat dijumpai Batam Pos, kemarin.

Dukungan penghentian angkot Bimbar dan Anugerah ini, juga disuarakan pengendara yang melintas di lokasi kecelakaan dimana angkot menyeruduk pengendara sepeda motor di turunan Bukit Daeng, Mukakuning sehingga menewaskan salah satu pengendara sepeda motor, Sri Wahyuni, Senin (17/2/2020) lalu.

Papan ucapan duka cita yang diberikan rekan dan masyarakat Kota Batam atas meninggalnya Sri Wahyuni akibat ditabrak angkot di Bukit Daeng. Foto: Dalil Harahap/batampos.co.id

Banyak warga yang membubuhkan tanda tangan bentuk dukungan pada spanduk yang berisi harapan agar Pemko Batam segera menghentikan operasional angkot yang dinilai kerap ugal-ugalan di jalan raya tersebut.

”Dukungan ini tak akan berhenti sebelum Pemko Batam menghentikan angkot-angkot maut itu. Sudah terlalu banyak korban,” kata Sobrin, warga yang dijumpai saat membubuhkan tanda tangan di spanduk itu, kemarin.

“Mau sampai kapan seperti ini. Kalau pemerintah tak mau hentikan, jangan salah kalau suatu waktu nanti, masyarakat yang mengambil tindakan sendiri,” ujarnya lagi.

Menurutnya, di media massa, media sosial, dan petisi yang beredar, juga ramai meminta Pemko Batam menghentikan operasional angkot yang kerap membahayakan pengendara lain itu.

”Tapi sampai saat ini belum kan, seolah takluk dengan para sopir angkot,” ujar Sobrin.

Sementara pengendara lainnya, Hendrik, mengaku sangat menyayangkan pernyataan Wali Kota Batam, Muhammad Rudi.

Ia melihat seolah membela para sopir angkot dengan menyebut operasional angkot tak bisa dihentikan begitu saja dengan alasan menjaga asap dapur para sopir angkot.

Pernyataan ini dianggap berlebihan dan tidak punya empati terhadap para korban kebrutalan angkot.

”Yang dipikirkan cuma asap dapur sopir angkot, terus asap dapur keluarga korban yang ditinggalkan bagaimana. Banyak keluarga yang ditelantarkan karena bapaknya, suami, istrinya meninggal ditabrak angkot-angkot ini,” jelasnya.

“Adik Sri ini misalkan, mestinya jelang hari bahagia malah direnggut karena ditabrak angkot. Terus apa itu tidak mematikan perasaan keluarganya,” celetuk Hendrik kesal.

Selain Hendrik, warga yang dijumpai di lokasi kejadian umumnya berharap yang sama agar angkot tak layak jalan segera dihentikan operasionalnya karena memang selalu bermasalah selama ini.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Batam, Rustam Efendi, saat razia angkot di Tembesi mengaku, upaya penertiban angkot sudah berjalan cukup maksimal selama ini.

Bahkan, pascatabrakan yang menewaskan Sri Wahyuni, Senin (17/2/2020) lalu, pihaknya juga sudah melakukan razia kelaikan angkot di Sagulung dan Batuaji.

Hasilnya, banyak angkot yang dijumpai bermasalah. Namun, ada kendalan lain di lapangan yang mana saat razia berlangsung, banyak angkot yang tak laik beroperasi namun menghindari razia.

”Kita selalu serius melakukan tugas dan tanggung jawab di lapangan, tapi kan ada yang sembunyi-sembunyi. Saat razia sembunyi mereka,” kata Rustam.

Senada disampaikan Kabid Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kota Batam, Edward Purba, mengatakan, sudah kerap melakukan pengawasan terhadap sopir maupun angkutan.

Salah satunya melalui razia rutin yang digelar bersama Satuan Lalu Lintas Polresta Barelang.

“Kalau dibilang pengawasan lemah saya no comment. Kita selalu razia, tapi sopir angkutan ini selalu menghindar,” ujar Edward.

Ia menjelaskan, saat ini beberapa angkutan di Batam, khususnya trayek Jodoh-Nongsa banyak digolongkan tak layak pakai.

Sedangkan Tanjunguncang-Jodoh dan Dapur 12, masih banyak digolongkan layak pakai.

“Untuk uji KIR rata-rata angkutan itu sudah mengikuti. Mungkin ke depannya akan lebih selektif lagi,” katanya.

Edward menambahkan, untuk mengatasi masalah angkutan ini, Dishub Batam akan memanggil Badan Usaha Transportasi Umum.

“Nanti akan kita bahas masalah angkutan tak layak ini. Nanti semuanya diselesaikan,” ungkapnya.(eja)