batampos.co.id – Empat investor asal Amerika Serikat akan bergabung dengan investor yang sudah eksis, d’Clinic International untuk berinvestasi di Batam.

Investor-investor asal negeri Paman Sam tersebut akan membangun pusat penelitian medis berskala internasional di Batam.

CEO d’Clinic International, Richard Satur, mengatakan, keempat investor tersebut yakni P4 Group dan vElement yang mewakili perusahaan biotek di
Amerika Serikat.

Kemudian Cellix dan TheraVab. Keempat perusahaan ini bergerak di sektor biofarmasi dan biosains.

“Dengan mengusung Private Healthcare Blockchain (PHB), Batam memiliki kesempatan untuk melakukan eskalasi potensi,” jelansnya, Jumat (21/2/2020).

“Tidak hanya unggul dari bidang teknologi yang akan didukung dengan Data Center dari IT Center BP Batam, namun juga dapat melahirkan kegiatan medis lainnya, seperti penelitian medis dengan skala internasional,” kata Richard lagi.

Penelitian medis ini nanti akan melibatkan praktisi akademisi dan mahasiswa kedokteran di Indonesia, khususnya Batam.

Sehingga sumber daya manusia (SDM) di bidang kesehatan turut mengalami peningkatan dari sisi kemampuan dan pengetahuan.

Gedung RSBP Batam tampak dari atas. Empat investor Amerika berencana masuk ke Kota Batam. Para investor itu akan membangun pusat penelitian medis dan sains serta melibatkan mahasiswa kedokteran di Kota Batam.  Foto: Dokumentasi BP Batam untuk batampos.co.id

“Kita bisa membangun laboratorium di Batam yang berguna untuk mendiagnosa
berbagai jenis penyakit, serta industri farmasi untuk meramu obat-obatan yang diperlukan untuk proses penyembuhan pasien,” lanjutnya.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Rumah Sakit BP Batam, dr Sigit Riyarto, mengatakan, rencana yang disusun d’Clinic International sejalan dengan ekosistem ideal untuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Medikal yang saat ini dalam proses perancangan.

“Ada lima faktor pendukung untuk mencapai kawasan KEK Medikal yang ideal di Batam,” katanya.

Yakni lanjutnya, adanya rumah sakit yang merupakan inti dari kegiatan KEK Medikal, Pusat Penelitian Kesehatan dan Kebugaran, Industri Alat Kesehatan, Industri Farmasi, dan terakhir hotel atau akomodasi untuk keluarga pasien.

Sigit melanjutkan, kehadiran keempat calon investor tersebut diharapkan mampu mendorong percepatan realisasi KEK Medikal di Batam.

“Kenapa kami merancang KEK Medikal di Batam? Karena itu jadi salah satu daya tarik ekspatriat maupun investor mancanegara untuk berinvestasi di Batam,” katnaya.

“Tentunya ini tidak lain untuk meningkatkan ekonomi dan mengembalikan Batam pada
masa kejayaannya,” jeas Sigit lagi.

Gesa Penyatuan OSS dengan BKPM

Sementara itu, upaya untuk mendatangkan investor ke Batam terus dilakukan. Bahkan, Badan Pengusahaan (BP) Batam akan menggesa pengintegrasian jaringan online single submission (OSS) di Batam dengan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Pusat.

Tujuannya agar semakin mempermudah perizinan investasi.

“Kita bakal berkoordinasi dengan BPKM Pusat. Dan buat MoU dengan BP Batam dan selanjutnya proses integrasi akan dilakukan,” kata Wakil Kepala BP Batam, Purwianto, baru-baru ini.

Menurutnya, hingga saat ini, OSS memang belum terkoneksi dengan BKPM, maka bakal digesa untuk diselesaikan. Hal itu disebut-sebut sebagai hambatan di sektor perizinan investasi.

“Kami menyiapkan MoU untuk konektivitas. Dan MoU disiapkan setelah mendiskusikan dengan BKPM, agar berbagai kendala yang dihadapi investor bisa teratasi,” tuturnya.

Pihaknya juga mengharapkan kepada pelaku usaha di Batam untuk mendukung agar in-
vestasi menjadi semakin baik.

Sehingga dalam menghadapi berbagai kendala investasi, bisa lebih ringan.

“Kerja sama dan koordinasi penting untuk mendorong peningkatan investasi di Batam. Itu kita minta dengan dunia usaha, seperti Himpunan Kawasan Industri (HKI),” harapnya.

OSS BP Batam sendiri sudah melakukan perubahan aplikasi OSS versi 1.1. Dengan perubahan itu, akan memangkas perizinan yang menjadi kendala administrasi.

“Diharapkan dapat menunjang investasi yang masuk Batam sebagai indikator kinerja BP
Batam,” ujar Purwianto.(iza)