Selasa, 21 April 2026

Dua Korban Susur Sungai belum Ditemukan

Berita Terkait

batampos.co.id – Pencarian siswa Pramuka hilang karena susur sungai diperluas menjadi 27 kilometer dari titik kejadian. Wilayah terbagi menjadi empat bagian sampai ke wilayah aliran Sungai Sempor Bedog di sekitar Ring Road Selatan.

Humas Basarnas DIJ, Pipit Eriyanto, menuturkan, seksi I mulai dari lokasi kejadian sampai Tempuran Bedog-Sempor yang berjarak 6,71 kilometer. Untuk seksi II berjarak 5,59 kilometer sampai ke Pertemuan Bedog-Selokan Mataram.

Seksi III yang menuju Gereja Gamping dengan jarak 7,91 kilometer. Seksi terakhir sampai di aliran Sungai Sempor-Bedog di wilayah ring road Selatan dengan jarak 4,98 kilometer.

“Setiap section dikerahkan dua tim search and rescue unit (SRU). Setiap SRU terdiri atas lebih dari 50 relawan,” jelas Pipit kepada Jawa Pos Radar Jogja (grup Batam Pos), Sabtu (22/2/2020).

Sampai pukul 19.05 tadi malam, korban yang ditemukan dalam keadaan meninggal dunia ada delapan orang. Sedangkan dua lainnya, yakni Yasinta Bunga dan Zahra Imelda, masih dalam pencarian. Sebelumnya, Nadin Fadhila telah ditemukan tak bernyawa pada Sabtu (21/2) pukul 10.15 di Dam Lengkong.

Menurut Pipit, tim gabungan telah melakukan penyusuran sampai section IV dan masih nihil. Kondisi sungai yang berbatu dan berongga membuat korban bisa tersangkut. Normalnya, dalam waktu tiga hari, jasad naik ke permukaan dengan sendirinya.

“Namun karena berongga, dikhawatirkan masih tersangkut,” ungkap Pipit. Untuk mendukung pencarian, Basarnas menambah pemasangan jaring di aliran dekat Gereja Gamping. Sebelumnya, jaring telah dipasang di aliran Sempit yang ada di Dusun Balong.

Pembina Pramuka Jadi Tersangka

Sementara itu, 13 orang yang diduga mengetahui tragedi susur sungai SMPN 1 Turi diperiksa Polda DIJ. Dari hasil pemeriksaan, satu orang pembina Pramuka ditetapkan sebagai tersangka.

Kabid Humas Polda DIJ, Kombespol Yuliyanto, menuturkan, 13 orang yang diperiksa itu terdiri atas tujuh pembina Pramuka, tiga warga Turi, dan 3 orang dari Pramuka Kwarcab Sleman. Berdasar hasil pemeriksaan sementara, diketahui bahwa dari tujuh pembina Pramuka, enam di antaranya mengantar para siswa ke sungai.

“Dan satu orang berada di sekolah,” ungkap Yuli.

Dari enam orang yang ikut berangkat ke sungai, empat di antaranya turun ke sungai, dan satu orang menunggu di garis finis. Sedangkan satu pembina lainnya pergi karena urusan tertentu setelah mengantarkan para siswa. Enam orang pembina berstatus PNS dan satu lainnya adalah pihak luar yang menjadi pembina Pramuka.

“Direskrimsus Polda DIJ telah melakukan gelar perkara di Mapolres Sleman dan menyatakan meningkatkan status penyelidikan menjadi penyidikan,” tambah Yuli.

Satu orang yang sudah diperiksa, yakni IYA, ditingkatkan statusnya dari saksi menjadi tersangka. Dia adalah pembina Pramuka yang juga guru olahraga di SMPN 1 Turi. IYA adalah orang yang meninggalkan para siswa di sungai dengan alasan masih ada keperluan tertentu.

Petugas melakukan pencarian korban susur sungai.

Yuli menambahkan, kemungkinan besar ada penambahan tersangka. Namun, hal itu bergantung pada hasil pemeriksaan. Polisi juga akan meminta keterangan dari para siswa yang selamat.

Untuk sementara, tersangka diancam dengan pasal 359 KUHP tentang kelalaian yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia. Selain itu, pasal 360 KUHP karena kelalaiannya mengakibatkan orang lain terluka. Ancaman maksimalnya adalah penjara 5 tahun. Saat ini tersangka masih dalam pemeriksaan intensif di Mapolres Sleman dan belum ada penahanan.

Tiga warga yang ikut diperiksa adalah penggerak wisata di kawasan tersebut. Selain itu, tiga orang lain adalah dari perwakilan Kwarcab Sleman.

Kasek Tak Tahu Ada Susur Sungai

Kepala SMPN 1 Turi Tutik Nurdiana menjelaskan, program susur sungai yang dilakukan gugus depan (Gudep) sekolahnya adalah program rutin. Namun, dia mengaku tidak tahu jika program tersebut diadakan pada Jumat (21/2). Menurut Titik, susur sungai adalah kegiatan biasa bagi masyarakat Turi.

“Saya kira itu biasa untuk mereka, bukan sesuatu yang khas. Hal itu terjadi di luar dugaan kami,” ungkap Tutik di SMPN 1 Turi, kemarin.

Tutik menjelaskan, acara tersebut didampingi tujuh pembina Pramuka yang semuanya adalah guru SMPN 1 Turi. Program susur sungai, jelasnya, sudah ada sejak dirinya belum menjabat kepala sekolah.

“Itu murni kegiatan sekolah,” tambah Tutik yang mengaku baru 1,5 bulan menjadi kepala SMPN 1 Turi.

Sementara itu, Menteri Sosial (Mensos) Juliari Peter Batubara mengunjungi para korban yang dirawat di Puskesmas Turi, Sabtu (22/2).

“Saya hadir mewakili pemerintah untuk melihat langsung bagaimana penanganan bencana tersebut. Saya juga menemui keluarga korban,” kata Juliari usai menyambangi pasien dan keluarga korban.

Dia menjelaskan, kemensos akan memberikan santunan untuk keluarga korban meninggal dunia. Setiap korban meninggal dunia akan disantuni Rp 15 juta.

“Kalau yang luka ditanggung pemda sepenuhnya sampai benar-benar dinyatakan bisa pulang,” tuturnya.

Dia juga mendesak dilakukan investigasi menyeluruh terhadap insiden tersebut. Kemensos juga akan menurunkan tim untuk melakukan terapi trauma healing kepada para korban maupun keluarga korban. (wia/eno/oni)

Update