batampos.co.id – Setelah Formosa Hotel, usaha lain yang memutuskan untuk tutup adalah Harbour Bay (HB) Mall. Tutupnya pusat perbelanjaan ini ditengarai akibat kalah bersaing dengan mal-mal lainnya di Batam.

Pengelola Harbour Bay Ba­ta­m, David, mengatakan, pe­nutupan usaha tersebut kare­na pihaknya ingin membangun usaha yang baru. Langkah ini harus dilakukan untuk meningkatkan bisnis yang lebih menguntungkan.

“Kami hanya menutup bisnis yang kurang profitable dan beralih ke usaha yang lebih baik. Kami ingin lebih fokus pada usaha baru,” kata dia, Sabtu (22/2/2020).

Semua rekan atau penyewa di kawasan mal yang selama ini menjalankan usaha di Har­bo­­ur Bay mall sudah direferen­sikan ke tempat baru yang mungkin lebih menguntung­kan­.

“Jadi sudah kami pindah ke lokasi lain yang juga kami kelola,” sebutnya.

Mengenai nasib karyawan pasca penghentian unit usah­a ini, David menyebutkan semua akan dijalankan sesuai dengan ketentuan dan aturan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker). Karya­wan yang masih dalam masa kontrak akan dipindahkan ke unit usaha lain.

“Semua sudah dialokasikan. Jadi, tidak ada masalah,” imbuhnya.

Ia berharap kondisi perekonomian Batam segera membaik sehingga dunia usaha juga bisa berkembang. Saat ini biaya operasional cukup besar.

“Sementara ini kami belum ada rencana buka usaha baru di lokasi eks mal dan blitz ini. Karena cost cukup besar,” ujarnya.

Harbour Bay Mall memang sangat sepi meskipun di penghujung pekan, Sabtu (22/2). Hanya ada sekitar empat tenant yang masih buka, antara lain toko pakaian di lantai satu, massage and spa ala Jepang di lantai 2, bioskop Blitz di lantai 3, dan supermarket Gogo di basement serta sejumlah tenant kecil penjual makanan di dekatnya.

Di toko pakaian sendiri sudah menempelkan tanda akan segera tutup toko. Memanfaatkan momen tersebut, pengelolanya memberi diskon beli satu pakaian gratis satu pakaian. Sedangkan bioskop dan spa sangat sepi. Untuk supermarket dan lantai base­men­t, masih ada puluhan pe­ngunjung yang singgah untuk membeli keperluan sehari-har­i atau menghabiskan waktu makan siangnya di sana.

Selebihnya, kondisi sangat sepi. Tidak ada motor yang parkir seperti biasa di samping gedung HB Mall. Sejumlah petugas mal juga masih bekerja seperti biasa, begitu juga eskalator di lantai satu menuju bioskop.

Salah seorang sekuriti Elvin Suryanto membenarkan bahwa tempat kerjanya tersebut memang akan segera berhenti beroperasi. “Sebenarnya banyak yang belum tahu mas, termasuk juga karyawan. Tapi sepertinya sudah viral di media sosial,” katanya.

Ia mengatakan bahwa sekuriti akan mulai berhenti bekerja pada 20 Maret mendatang dan cleaning service (CS) terhitung 1 Maret mendatang. Elvin juga menjelaskan bahwa pemilik HB Mall dan Kepri Mall adalah orang yang sama. Sehingga sempat berharap mungkin akan dipindahkan mal yang berlokasi di Simpang Kabil tersebut.

“Tapi disana juga lagi pengurangan sekuriti, mas,” imbuhnya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Batam, Rudi Sak-yakirti, mengatakan berdasarkan informasi yang beredar memang pusat perbelanjaan dan bioskop akan setop beroperasi. Sedangkan yang lain masih berjalan seperti biasa.

“Laporan resmi belum kami terima. Sebab kami bisa masuk kalau mereka sudah lapor ke sini. Kami juga belum tahu berapa karyawan di situ dan status mereka,” katanya.

Hingga saat ini belum diketahui penyebab pasti ber­hentinya usaha tersebut. Menurutnya, saat berkunjung ke sana, memang kondisi mal terlihat sepi dari pengunjung. Namun, apakah itu salah satu penyebab tutup belum di­ketahui.

“Itu manajemen yang tahu. Karena belum lapor ke sini kami juga tidak tahu,” sebutnya. Menurut Rudi, banyak perusahaan yang memilih menyelesaikan hak dan kewajiban pekerja sebelum menutup usaha mereka. Biasanya perusahaan baru melapor ke Disnaker apabila ada masalah dalam penyelesaian hak dan kewajiban baik pekerja maupun pelaku usaha.

“Saya berharap semua aman-aman saja. Mana tahu mere­k­a mau buat sesuatu yang baru. Jadi menutup usaha lamanya,” sebutnya. Mengenai pengaruh angka pencari kerja terhadap tutupnya beberapa usaha di awal tahun ini, Rudi belum memiliki data pasti berapa jumlah pekerja yang dirumahkan dan kehilangan pekerjaan. Menurutnya grafik angka pencari kerja ini selalu berubah-ubah.

“Kalau ada usaha yang tutup otomatis berdampak. Namun, itu belum bisa dipetakan saat ini. Karena harus ada data dulu. Ini yang lagi saya coba cari,” terangnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Batam, Ardiwina­ta, mengatakan pusat perbelan­jaan hampir sama dengan du­nia perhotelan karena bersi­fat bisnis. Hal ini biasa terjadi. Me­nurutnya, bisa saja ada per­gantian manajemen, sehi­ngga ada perubahan dan menyebabkan ditutupnya usaha lama demi yang baru.

“Pusat belanja ini kan meru­pa­­kan salah satu penunjang wi­sata juga. Jadi wajar saja ka­lau ada perubahan demi ses­uatu yang baru,” ujarnya.(leo)