batampos.co.id – Mantan Wakil Gubernur Banten Rano Karno, dicecar Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), soal adanya dugaan aliran uang Rp 1,5 miliar. Hal ini mengonfirmasi pernyataan mantan pegawai PT Bali Pasific Pragama, Ferdy Prawiradiredja.

Jaksa KPK mulanya mencecar aktor pemeran Doel di Film ‘Si Dooel Anak Sekolahan’ tersebut, soal pernah atau tidak Pemerintah Provinsi Banten mengadakan acara di Hotel Ratu. Doel pun mengaku lupa atas pertanyaan Jaksa.

“Pernah mengadakan acara di hotel Ratu?,” tanya Jaksa KPK Budi Nugroho di PN Tipikor Jakarta, Senin (24/2). “Lupa saya,” ucap Rano melanjutkan.

Kemudian Jaksa KPK menelisik soal keterangan Ferdy di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta pada Kamis (20/2). Ferdy mengaku memberikan uang Rp 1,5 miliar kepada Rano, melalui ajudannya yang bernama Yadi.

“Keterangan Ferdy diperiksa di persidangan dia mengaku pernah memberikan uang Rp 1,5 miliar?,” telisik Jaksa KPK.

Mendengar pernyataan Jaksa, Rano menyebut keterangan yang diberikan Ferdy di persidangan terkesan aneh. Dia pun telah mengetahui keterangan Ferdy dari pemberitaan media massa.

“Saya membaca berita ini agak aneh, dikatakan uang ditaro kantong kertas yang dibeli di toko buku,” ujar Rano dengan pernyataan lantang.

“Saya tidak terima (Rp 1,5 miliar),” tegas Rano.

Sebelumnya, nama Rano Karno pernah disebut turut menerima uang dalam sidang dengan terdakwa Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan. Adapun fakta itu diungkapkan oleh eks pegawai PT Bali Pasific Pragama (BPP) Ferdy Prawiradiredja.

Dia mengaku pernah diintruksikan oleh atasannya untuk memberikan sejumlah uang kepada Rano Karno saat masih menjabat sebagai Wakil Gubernur Banten.

“Oh, iya (ada perintah untuk beri uang ke Rano Karno). Waktu itu sempat Pak Wawan nyuruh saya buat kirim uang ke Rano. Cuma saya lupa kejadiannya tahun berapa,” kata Ferdy, saat bersaksi di PN Tipikor Jakarta, Kamis (20/2).

Uang itu, kata Fredy, diberikan secara tunai melalui anak buah Rano Karno. Adapun uang yang diberikannya sebesar Rp1,5 miliar. Namun, dia tak ingat waktu pemberian tersebut.

“(Jumlahnya) Rp1,5 miliar. Diserahkan di Hotel Ratu, itu hotelnya di Serang,” ucap Ferdy.

Namun, dia mengaku tak tahu sumber aliran uang tersebut. Dia menduga uang tersebut bersumber dari salah satu kantor Wawan yang ada di Jakarta dan seorang anak buah Wawan yang berada di Serang bernama Yayah Rodiah.

“Saya enggak tahu dari mana, kan saya diperintah Pak Wawan. Kalau enggak salah sebagian dari kas kantor Pak Wawan yang di The East sama sebagian disiapkan di Serang,” pungkas Ferdy.

Dalam perkara ini, Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan didakwa melakukan korupsi proyek alat kesehatan, pengadaan tanah, dan proyek pembangunan RSUD Tangerang Selatan yang merugikan negara hingga Rp 94,3 miliar. Bahkan Wawan pun turut melakukan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dari hasil korupsinya.

Wawan juga didakwa melakukan pencucian uang sejak 2005 hingga 2013 dengan nilai sekitar Rp 579,776 miliar. Adik mantan Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah itu diduga menyamarkan uang dalam periode 2010-2019 mencapai Rp 479.045.244.180 dalam mata uang rupiah dan mata uang asing.

Atas perbuatannya, Wawan didakwa Pasal 3 atau 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.

Selain itu Wawan juga didakwa melanggar Pasal 3 ayat (1) huruf a, c dan g Undang-undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.(jpg)