Sabtu, 4 April 2026

Industri Batam Terancam Shutdown, Karyawan Terancam Dirumahkan

Berita Terkait

batampos.co.id – Epidemi virus corona di Tiongkok berdampak luas, termasuk industri manufaktur di Batam.

Impor bahan baku industri dari Tiongkok ke Batam mandek. Sehingga stok di perusahaan manufaktur di Batam semakin menipis.

Diperkirakan hanya cukup satu bulan ke depan. Kondisi ini membuat pelaku industri di Batam kian khawatir.

Jika bahan baku habis, maka otomatis produksi terhenti. Akibatnya, ekspor pesanan menjadi terlambat.

Sehingga perusahaan bisa merugi karena harus tetap membayar biaya tenaga kerja, dan denda dari pihak pemesan.

“Benar, saat ini memang mulai banyak kawan-kawan perusahaan manufaktur di Batam mengeluh bahan baku mereka menipis akibat terhentinya pasokan dari Tiongkok,” kata Ketua Asosiasi Pengu­saha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid, Jumat (28/2/2020).

“Perkiraan persediaan bahan baku hanya untuk sampai bulan de­pan,” ujarnya lagi.

Ia mengatakan, jika pasokan terus tersendat, maka banyak perusahaan yang akan shutdown dan merumahkan karyawan.

Hal ini tentunya akan sangat berdampak pada perekonomian Batam secara keseluruhan.

“Kita tahu bahwa sektor manufaktur adalah sektor paling dominan dalam menggerakkan roda ekonomi di Batam. Jika sektor ini terganggu maka ekonomi Batam akan terganggu,” jelasnya.

Pengusaha berharap perusahaan di Batam dapat segera mendapatkan sumber pasokan alternatif dari Eropa dan dari negara-negara Asia lainnya, selain Tiongkok.

Harapan lain tentunya aktivitas perusahaan yang ada di Tiongkok dapat segera pulih dalam beberapa minggu ke depan.

“Sambil menunggu hal itu, pemerintah sebaiknya tidak tinggal diam,” ujarnya.

“Diperlukan insentif dan kebijakan untuk mendorong aktivitas ekonomi di sektor manufaktur dan pemerintah mungkin juga bisa membantu membuka akses impor bahan baku dari negara lain selain Tiongkok,” tuturnya lagi.

Insentif diskon tiket pesawat dan menunda penerapan pajak hotel dan restoran sudah tepat untuk mendorong sektor pariwisata.

“Tapi kita belum lihat insentif untuk sektor manufaktur, sektor dominan untuk perekonomian Batam,” ungkapnya.

Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, Tjaw Hoeing, juga membenarkan ketersediaan bahan baku industri di gudang-gudang industri manufaktur Batam masih akan bertahan sampai pertengahan Maret.

“Dampaknya memang besar karena bahan baku yang diimpor dari Tiongkok itu tidak bisa masuk karena operasional berhenti,” jelasnya.

“Hal ini sangat berpotensi untuk menghambat produksi Batam. Ini yang kita khawatirkan,” tambahnya.

Menurut Tjaw, kebutuhan impor bahan baku industri dari Tiongkok menyumbang sekitar 50 persen untuk pasokan Batam.

“Itu merupakan jumlah yang sangat signifikan. Jika terus berlanjut, saya bilang perusahaan bisa merumahkan para pekerja. Itu potensi terbesar yang harus dihindari,” paparnya.

Satu hal yang lain yang patut dikhawatirkan yakni mengenai pemangkasan proyeksi ekonomi yang dilakukan Singapura.

Singapura merupakan mitra nomor satu dalam investasi serta ekspor dan impor bagi Batam.

Pemangkasan target pertumbuhan ini imbas dari merebaknya virus corona. Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura mengatakan, ekonomi Singapura diperkirakan hanya akan tumbuh sekitar 0,5 persen tahun ini.

Angka tersebut lebih buruk dari pada proyek-si sebelumnya dari pertumbuhan antara 0,5 persen dan 2,5 persen.

“Ini juga harus menjadi perhatian karena ekspor terbesar Kepri itu menuju Singapura. Begitu Singapura ‘batuk’ sedikit saja, pasti ekonomi Kepri akan terguncang sedikit. Kita harapkan kasus corona ini segera terselesaikan,” jelasnya.

Keluhan pelaku industri yang bahan baku mereka semakin menipis juga sudah sampai ke Kepala BP Batam yang juga Wali Kota Batam, Muhammad Rudi.

“Bahan baku dari sana sekarang bukan lagi telat, tapi terhenti. Karena dari sana (Tiongkok, red) tak boleh impor, jadi terhenti,” kata Rudi, Jumat (28/2/2020).

Untuk itu, ia berencana menggelar pertemuan dengan berbagai pihak. Tujuannya agar seluruh pengusaha bidang ini dapat memberi masukan dan sekaligus solusi apa yang akan diambil ke depan.

“Seperti selain dari Tiongkok, maunya dari mana (negara pemasok bahan baku). Intinya bahan baku itu tak boleh terhenti,” ujarnya.

Ia berharap, pengusaha tidak hanya mengandalkan bahan baku dari Tiongkok, namun juga mencari negara lain.

Selama ini, kata dia, Tiongkok dipilih pengusaha mendatangkan bahan baku karena terbilang murah.

“Kalau dari negara lain itu mahal, kami mencoba laporkan ke Kemenkeu mungkin ada subsidi atau insentif,” harapnya.

Tidak hanya perusahaan perakitan elektronik, dalam pertemuan ini juga akan mengundang pengusaha hotel dan restoran.

Sejatinya, pertemuan tersebut meminta masukan dari pengusaha sembari menunggu keputusan lebih lanjut perihal aturan ini.(leo/iza/yui)

Update