batampos.co.id – Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Panglima TNI Hadi Tjahjanto, dan Kapolri Idham Aziz melepas kepergian 23 anggota tim penjemput WNI di kapal pesiar Diamond Princess. Pelepasan dilakukan di ruang VIP Bandara Soekarno-Hatta. Retno menyatakan, WNI yang menjadi kru di Diamond Princess sebanyak 78 orang. Namun, ada 8 yang masih dirawat dan 2 orang tidak mau dipulangkan.
Dengan begitu, yang dijemput hanya 68 orang. ”Mereka telah menjalani tes PCR (polymerase chain reaction, Red) dan saat ini status mereka negatif,” ungkapnya kemarin.
Pesawat penjemput berangkat kemarin pukul 16.00 dan diperkirakan mendarat di Bandara Haneda, Jepang, pukul 01.00 waktu setempat. Selanjutnya, mereka kembali ke Indonesia pada 1 Maret pukul 18.00 waktu setempat. Retno memperkirakan, pesawat tiba di tanah air pada hari yang sama pada tengah malam.
Di sisi lain, 188 ABK World Dream sudah tiba di Pulau Sebaru Kecil kemarin siang (28/2). Mereka langsung menjalani proses observasi. Ditemui di lokasi, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengungkapkan, pihaknya dan otoritas terkait telah melakukan pengecekan terakhir lokasi yang bakal digunakan sebagai tempat observasi. Dia memastikan semuanya telah sesuai standar.
Mantan Mendikbud itu menegaskan, akan ada pemisahan lokasi karantina. Telah disiapkan dua blok. Satu blok untuk kru kapal pesiar World Dream dan satu lagi untuk kru Diamond Princess. Urusan teknis juga sudah dimatangkan bersama kementerian/lembaga terkait.
Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) I Laksamana Madya TNI Yudo Margono menambahkan, kegiatan para kru kapal tersebut bakal mirip dengan yang dijalani WNI dari Wuhan yang diobservasi di Natuna. ”Di samping melaksanakan pemeriksaan kesehatan, mereka juga kami ajak olahraga kecil-kecilan, olahraga ringan,” ungkapnya. Aktivitas itu akan dilaksanakan rutin supaya mereka tidak stres selama observasi.
Yudo memastikan, kebutuhan makanan untuk seluruh ABK kapal pesiar tersebut dipenuhi dengan memperhatikan kualitas. ”Nanti juga ada ahli gizi yang akan mengecek,” imbuhnya. Dia berharap, sampai masa observasi selesai dua pekan mendatang, seluruh WNI itu tetap sehat. Untuk memastikan Pulau Sebaru Kecil benar-benar steril, semua pihak yang tidak berkepentingan sudah keluar dari pulau tersebut.
Yudo menjelaskan, jumlah petugas yang terlibat dalam proses evakuasi dan observasi sebanyak 763 orang. Namun, tidak semua berada di Pulau Sebaru Kecil. ”Jadi, yang berada di dalam (pulau) ya 230-an,” ungkap dia. Semuanya sudah dibagi untuk bertugas di ring satu, ring dua, serta personel pendukung dan pendamping. Khusus area pulau sampai bibir pantai, lanjut dia, dipastikan steril.
Pihaknya tidak membiarkan siapa pun yang bukan petugas untuk masuk. Meski demikian, masyarakat Kepulauan Seribu, khususnya para nelayan, tidak perlu khawatir. Yudo menjamin mereka bisa tetap mencari ikan di sekitar pulau tersebut.
”Kalau cari ikan di samping-samping (pulau) sini nggak apa-apa,” imbuh Yudo. Yang tidak diperbolehkan, masih kata dia, nelayan bersandar. Karena itu, nelayan yang biasa beristirahat atau berteduh di Pulau Sebaru Kecil diminta mencari pulau lain sebagai tempat melepas lelah. Yudo memastikan semua sarana dan prasarana di Pulau Sebaru Kecil sudah siap. Termasuk tiga helikopter yang disiapkan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.(jpg)
