batampos.co.id – Penyebaran pesat virus corona memaksa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengambil langkah tegas. Mereka menaikkan status kewaspadaan ke tingkat maksimum.
”Secara global, kami telah meningkatkan asesmen risiko persebaran dan dampak Covid-19 ke level amat tinggi,” ungkap Chief WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, Sabtu (29/2/2020).
Keputusan tersebut diambil dengan pertimbangan tingginya angka kasus infeksi di luar Tiongkok, negeri asal virus tersebut. Korea Selatan menjadi negara dengan angka kejadian Covid-19 tertinggi kedua. Kemarin (29/2) saja, tercatat ada 813 tambahan kasus baru. Jauh lebih tinggi daripada Tiongkok yang mendapati 427 kasus baru di hari yang sama.
Total 3.150 orang terinfeksi dengan korban meninggal dunia 16 orang. Kasus tertinggi tercatat di Daegu, kota terbesar keempat Korea Selatan. Negeri tetangga mereka, Korea Utara (Korut), langsung menutup seluruh area perbatasan.
Pemimpin Negara Korea Utara Kim Jong-un menegaskan konsekuensi serius jika virus menyusup lewat perbatasan. Mengingat, Korut punya sistem layanan kesehatan yang buruk.
Negara-negara di Eropa juga terus melaporkan persebaran baru Covid-19. Titik persebaran virus terpantau di kawasan utara Italia. Di Prancis, angka kejadian juga dikonfirmasi mulai naik pada Jumat. Presiden Prancis Emmanuel Macron melaksanakan rapat darurat dengan para menteri.
”Peredaran virus terpantau di teritori kami. Kami harus menghentikan dan mencegahnya,” tegas Menteri Kesehatan Prancis Olivier Veran sebagaimana dikutip AFP.
Di Amerika Serikat, petugas kesehatan melaporkan, ada tiga kejadian penularan baru pada Jumat. Pasien yang terdeteksi tidak melakukan perjalanan ke luar negeri atau melakukan kontak dengan orang yang tertular Covid-19.
Hingga tadi malam, 62 orang terinfeksi corona di AS. ”Virus itu ada, tetapi kami tidak tahu berapa luas persebarannya,” ucap Sara Cody, direktur kesehatan masyarakat Santa Clara County, California, yang merupakan jantung Silicon Valley.
Persebaran Covid-19 membuat agenda penting terganggu. Perekonomian pun lesu. Meski demikian, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menegaskan, tidak perlu bereaksi berlebihan.
”Ini bukan saatnya panik. Ini saatnya melakukan persiapan penuh,” tegas dia. (*)
