batampos.co.id – Badan Pengusahaan (BP) Batam bersama PT Adhya Tirta Batam (ATB)  menggelar rapat perihal menyusutnya air baku di Dam Duriangkang. Untuk diketahui, tingkat elevasi air di dam tersebut berada pada angka -2,95 di bawah spillway. Padahal, dam ini yang diandalkan untuk menyuplai sekitar 70 persen kebutuhan air di Batam.

Kepala Kantor Air dan Limbah BP Batam, Binsar Oktavidwin Tambunan, menyampaikan, “nanti langkahnya akan kami susun, hasilnya kami akan infokan segera.”

Ia mengakui, curah hujan yang rendah selama Februari merupakan salah satu penyebab menyusutnya air baku di beberapa waduk atau dam di Batam.

Sejatinya, hal ini sudah disampaikan oleh BP Batam dan Badan Meteorologi, Koimatologi, dan Geofisika (BMKG) Batam, awal Februari lalu. Saat itu, masyarakat diminta untuk menghemat air.

“Salah satu penyebabnya karena curah hujan rendah,” tambah Binsar.

Tercatat, setiap orang di Batam rata-rata memakai air bersih sekitar 200 liter/hari, sedangkan, rata-rata penggunaan air bagi setiap orang harusnya adalah 160 liter/hari.

Manager Air Baku, Direktorat Badan Usaha Fasilitas dan Lingkungan, Hadjad Widagdo, dalam konferensi pers awal Februari lalu di BP Batam menyebutkan, untuk jangka panjang, pihaknya akan bekerja sama dengan Badan Penkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk mencari teknologi yang cocok untuk mendatangkan hujan atau mengupayakan hujan buatan. Hal ini juga menjadi langkah antisipasi jika Batam terjadi kemarau panjang.

“BP Batam juga tengah mengembangkan konsep Integrated Total Water Management (ITWM),” katanya.

Melalui konsep tersebut, pihaknya akan menyinergikan antara potensi ketersediaan air baku, air bersih, pengelolaan air limbah, desanilasi air laut, dan daur ulang (rycycle). Dengan demikian, ketersediaan air bersih di Batam diharapka bisa tetap terjaga.

“Jangka panjang BP Batam sudah menyiapkan beberapa perencanaan untuk pengelolaan air di Batam,” katanya.

Dalam konferensi pers tersebut, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, I Wayan Mustika, memperkirakan curah hujan pada Februari memang lebih sedikit jika dibandingkan bulan lainnya di tahun 2020. Curah hujan di wilayah Batam hanya mencapai 50 mm sampai 100 mm, yang biasanya rata-rata 150 mm.

Hanya saja, ada beberapa upaya yang memang memungkinkan bisa dilakukan untuk membuat hujan buatan. Tapi hal itu juga sangat tergantung dengan kondisi awan yang ada.

Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam, Suratman, ketika dikonfirmasi mengatakan minimnya curah hujan berlanjut hingga Maret ini.

foto: batampos.co.id / dalil harahap

“Maret ini masih rendah, puncak hujan di Batam kalau tidak ada pergeseran Mei dan Desember. Bulan selain itu kering, paling keringnya di Februari lalu,” ujarnya.
Head of Corporate Secretary ATB, Maria Jacobus menyebutkan, elevasi air telah berada berada di angka minus 3,06 meter dari spillway, yang merupakan kondisi terburuk selama dam tersebut beroperasi di Batam. “Dam Duriangkang yang paling parah,” ujar Maria, Sabtu (29/2).

Tiap hari, tingkat elevasi di dam terbesar itu berkurang dua sentimeter.

“Jika mencapai angka -3,4 meter di bawah spillway, maka harus dilakukan penggiliran (rationing) guna memperpanjang umur Dam,” tegas Maria.

ATB sendiri sudah melaporkan kondisi dam kepada BP Batam sejak Oktober 2019 lalu. Dan ATB telah mengirimkan surat terakhir meminta atensi dari BP Batam sejak 19 Februari lalu.

“Kami masih menunggu arahan BP Batam untuk menyikapi kondisi ini. Namun dalam surat tersebut, kami sudah memberikan masukan terkait hal ini,” imbuhnya.

Jika elevasi terus turun, maka akan mempengaruhi suplai. Dampak paling dekat yang akan dirasakan adalah berhentinya operasional WTP Tanjungpiayu.

ATB memperkirakan, kondisi setop operasi akan terjadi pada dua minggu mendatang jika curah hujan juga tidak turun.

Dengan kata lain, pelanggan di wilayah Tanjungpiayu dan sebagian Mukakuning, Tanjunguncang dan Batuaji tidak akan mendapat pelayanan air bersih yang optimal lagi.
Apalagi, daerah yang masuk zona kritikal, saat normal saja sulit mendapatkan air selama 24 jam, apalagi saat kemarau.

“ATB saat ini tetap menyiapkan yang terbaik menyambut kemungkinan yang terburuk,” jelasnya.

Berdasarkan catatan ATB, kondisi terakhir dam lainnya juga sama meski tidak masuk zona merah seperti Dam Duriangkang. Tingkat elevasi Dam Mukakuning di angka -1,89 sentimeter, Dam Seiladi -1,99 sentimeter. Dam Sungaiharapan -1,24 sentimeter dan Dam Nongsa -0,55 sentimeter.(iza)