batampos.co.id – Menghadapi krisis air bersih yang sudah di depan mata, Badan Pengusahaan (BP) Batam memiliki sejumlah alternatif. Langkah pertama yakni menjalin kerja sama dengan Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) untuk membuat hujan buatan di Batam.

“Kerja sama dengan BPPT ini untuk membahas tentang teknologi modifikasi cuaca (TMC). Tim BPPT ini datang minggu depan. Tahun lalu aturannya MoU, cuma BPPT sibuk di Indonesia timur. BPPT ini kerja di Dam-Dam besar, seperti Citarum yang dikeĀ­lola Jasa Tirta II, dan Sungai Brantas yang dikelola Jasa Tirta I,” kata Direktur Badan Usaha Fasilitas dan Lingkungan BP Batam, Binsar Tambunan, di Gedung Marketing Centre BP Batam, Kamis (5/3/2020).

Pelaksanaan kajian TMC ini akan memakan waktu selama 14 hari kerja. Biayanya sebesar Rp 100 juta. TMC yang bermuara pada pelaksanaan hujan buatan ini direncanakan akan berlangsung selama setahun.

“Kajian paling cepat itu 14 hari. Hujan buatan ini untuk antisipasi dalam satu tahun ke depan,” katanya lagi.

TMC berupa hujan buatan ini memerlukan banyak garam dan arah angin, sehingga hujan bisa turun tepat di Batam. Selama ini, metode hujan buatan selalu dihindari karena hembusan angin di Batam cukup kencang, sehingga awan-awan berisi butir-butiran hujan buatan malah turun di tempat lain.

“Informasi dari BMKG, curah hujan untuk Januari dan Februari memang minim. Dan ini berdampak terhadap Dam Duriangkang yang menopang 80 persen kebutuhan air di Batam. Tiap harinya turun dua centimeter, dan jika hujan tak turun bisa turun tiga sentimeter,” paparnya.

Direktur Pengelolaan Lingkungan dan Fasilitas BP Batam, Binsar Panjaitan (dua dari kanan) bersama pihak ATB memberikan keterangan terkait kondisi air baku di kantor BP Batam, Kamis (5/3/2020).
Foto: batampos.co.id /Cecep Mulyana

Rata-rata curah hujan yang turun di Batam biasanya mencapai 200 milimeter (mm) per bulan. Tapi di Januari dan Februari hanya 50 mm per bulan dan tak merata di seluruh Batam. Jadi, itulah alasan mengapa BP Batam memiliki metode hujan buatan untuk meningkatkan curah hujan seperti sedia kala.

Selanjutnya, BP akan berkoordinasi dengan BMKG Batam untuk memetakan pola hujan selama tiga bulan ke depan.

“Ini untuk mengetahui prediksi curah hujan di setiap bulan serta persiapan materi teknis untuk sosialisasi,” tegasnya.

Solusi paling teranyar yakni pemompaan air baku dari Dam Tembesi ke Dam Mukakuning. Jaraknya 2,9 kilometer. Dam Tembesi sudah terisi penuh dan mampu mengalirkan air sebanyak 600 liter per detik.

Perkiraan waktu pelaksanaan selama dua bulan. Adapun tahapan-tahapannya yakni pengadaan pipa berukuran 800 mm melalui proses lelang, serta proses konstruksi penanaman pipa.

Perkiraan biayanya mencapai Rp 45,7 miliar untuk pengadaan pipa. Biaya tersebut sudah termasuk pipa, pompa, listrik PLN, genset, ponton, dan aksesoris.

“Dam Tembesi sudah terisi penuh bahkan lewati spillover. Dam terdekat dari Tembesi adalah Mukakuning. Nanti akan dipompa pakai ponton dan pelaksanaannya dalam dua bulan. Solusi ini masih harus dilaporkan ke pimpinan karena biaya cukup mahal,” jelasnya.
Proses ekstraksi air baku dari Dam Tembesi ini sebenarnya menyisakan pertanyaan.

Pasalnya, lelang dam ini tak kunjung terealisasi hingga saat ini. Tapi Binsar punya jawaban untuk itu.

“Sedang dilelang. Setelah selesai audit dari BPKP, maka akan diekspos mengenai prakualifikasi Tembesi. Tiga bulan setelah proses, maka akan dapat pemenang. Setelah itu, bangun water treatment plant (WTP) Tembesi sekitar setahun, berikut juga bangun pipa reservoir ke Batuaji selama satu setengah tahun,” ungkapnya.

Tapi karena krisis air bersih ini, BP tidak akan menunggu lelang Dam Tembesi selesai. Sifatnya sangat darurat dan menuntut solusi cepat. Untuk operasional pemompaan akan dilaksanakan BP. Sedangkan pendistribusian air akan dilaksanakan oleh ATB.

Selain dengan interkoneksi antar-dam, BP juga masih lanjut dengan pembersihan eceng gondok di sekitar Dam Duriangkang.

Seperti yang pernah diberitakan, eceng gondok menduduki sekitar 180 hektare luas areal Dam Duriangkang.

Imbasnya, yakni bangkai-bangkai eceng gondok menjadi material sedimen yang membuat pendangkalan di dam. Kapasitas dam semakin berkurang yang menyebabkan jumlah air baku semakin menipis.

Jadi, penyebab susutnya air di dam-dam di Batam, khususnya Dam Duriangkang yakni hujan yang tak kunjung turun, sedimentasi serta rusaknya catchment area oleh tindakan manusia.

“Saat ini, BP sudah memiliki harvester yang menjangkau ke tengah dam. Jadi dalam satu minggu bisa babat enam hektare. Idealnya sih delapan hektare, tapi alat itu juga perlu istirahat. Jadi, estimasi untuk membabat habis semua eceng gondok itu satu setengah tahun,” paparnya.

Binsar juga mengimbau agar masyarakat mulai berhemat menggunakan air. Batam termasuk kota yang boros.

Rata-rata pemakaian air per orang mencapai 195 liter per hari, sangat jauh jika dibandingkan dengan Singapura yang hanya 140 liter per hari.

Untuk membantu meningkatkan tampungan air, BP Batam juga memiliki proyek lain yakni rain harvester. Contohnya ada di Tiban Mentarau.

“Di Tiban Mentarau bikin embung-embung kecil untuk menangkap air hujan. Sedangkan di bandara buat rain harvester besar. Jadi, supaya jangan ada lagi air hujan yang terlepas,” pungkasnya.(leo)