batampos.co.id – Perdagangan logam mulia emas masih menjadi primadona karena sentimen kecemasan penyebaran virus korona secara global dan kelanjutan pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral Amerika Serikat (AS). Mengutip laman Reuters, harga emas di pasar spot melonjak 1,9 persen menjadi USD 1.666,16 per ounce pada pukul 01.36 WIB. Sementara, emas berjangka Amerika Serikat ditutup 1,5 persen lebih tinggi menjadi USD 1.668 per ounce.
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger mengatakan, kenaikan harga emas didorong oleh minat investor yang lebih nyaman berinvestasi di logam mulia kuning tersebut dibanding aset berisiko seperti pasar saham. “Karena pasar ekuitas berada di bawah tekanan dan ada lebih banyak kekhawatiran tentang virus korona, jadi tentu saja kita melihat uang mengalir keluar dari aset berisiko ke tempat yang aman seperti emas,” ujarnya Jumat (6/2).
Pihaknya memandang, investasi emas sebagai lindung nilai (hedging) klasik terhadap sentimen maraknya likuiditas bank sentral global.
Pasar ekuitas melemah setelah California mengumumkan keadaan darurat terkait epidemi tersebut ketika jumlah kematian meningkat di Amerika Serikat. Kini ada lebih dari 90.000 kasus virus korona COVID-19 secara global, dengan lebih dari 3.000 kematian.
Sementara, logam mulia lainnya seperti palladium anjlok 1,6 persen menjadi USD 2.536,16 per ounce. Perak melesat 1,1 persen menjadi USD 17,36 per ounce, sementara platinum merosot 0,7 persen menjadi USD 866,33 per ounce.
Sementara, harga emas batangan milik Antam hari ini melesat Rp 15.000 dari hari sebelumnya. Angka tersebut membawa harga emas Antam kembali mencetak rekor di level Rp 837.000 per gram. Sedangkan, harga buyback atau pembelian kembali emas Antam hari ini naik Rp 16.000 ke level Rp 760.000 per gram.(jpg)
