batampos.co.id – Kondisi Dam Duriangkang sudah benar-benar buruk. Saat ini tingkat elevasinya berada di level minus 3,06 meter. Jika hujan tak kunjung turun juga, maka terhitung mulai 15 Maret mendatang, penggiliran atau rationing suplai air akan diberlakukan.

“Di bulan Maret 2020, level Duriangkang hampir minus tiga. Jika minus empat, maka Piayu dan Mukakuning akan shutdown atau terhenti. Pompa tidak akan bisa beroperasi kalau level airnya tak cukup,” kata Head of Corporate Secretary ATB, Maria Jacobus, di Gedung Marketing Center BP Batam, Kamis (5/3).

Rationing akan dilakukan jika level air tak bertambah sedikitpun hingga 15 Maret nanti. Pola rationing nanti adalah dua hari mati lima hari hidup.

“Rationing ini untuk memperpanjang umur dam hingga 23 hari. Jika tanpa rationing, maka umur dam hanya bertahan hingga 13 Juni. Sedangkan dengan rationing bisa hingga 6 Juli nanti,” jelasnya.

Dampak dari rationing akan dirasakan oleh 228.900 pelanggan ATB, terdiri dari 196 ribu pelanggan rumah tangga, 30 ribu pelanggan komersial, dan 2.900 pelanggan industri.
Sedangkan daerah terdampak dengan jumlah pelanggannya masing-masing, yakni 8.500 pelanggan di Batuampar-Sengkuang, 24.200 di Bengkong-Seipanas, 1.900 di Pelita-Kampung Utama, 2.248 di Casablanca-Baloi Mas, serta 18.900 pelanggan di Sagulung-Tanjunguncang.

Kondisi Dam Duriangkang. ATB berencana menghentikan suplai air dari dam tersbeut karena debit airnya yang terus menyusut. Foto: batampos.co.id/Dalil Harahap

Lalu, sebanyak 13.100 pelanggan di Marina, 1.958 di Aviari-Paradise, 8.700 di Tembesi-Barelang, 4.986 di Kaveling Lama Baru Seilekop, 14.000 di KDA Bandara, 3.300 di Jodoh-Nagoya, 8.100 di Baloi, 46.200 di Batam Center, 6.500 di Sukajadi-Palm Spring, 7.600 di Kabil Punggur, 2.100 di Piayu, dan 32.700 di Batuaji.

Maria menegaskan, bahwa pemangku kepentingan terkait harus lebih peduli dengan situasi saat ini. Abstraksi air dari dam dipastikan akan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk Batam. “Inilah kondisi aktual saat ini. Curah hujan rendah, daerah tangkapan air (catchment area) banyak yang rusak, kontaminasi dari limbah-limbah domestik, dan BP belum memiliki program khusus untuk memperhatikan catchment area. Mari kita dukung BP Batam,” ungkapnya.

Sebagai kesimpulan, Maria memaparkan sejumlah rekomendasi kepada BP Batam. Pertama, BP Batam harus memberikan edukasi hemat air dan sosialisasi secara proaktif. Kedua, sosialisasi rationing yang akan dilakukan dengan pola dua hari mati dan lima hari hidup.

Lalu, solusi post rationing yakni program pemulihan dam, dan pengendalian ruli. Berikutnya Tembesi Crash Program yakni pembangunan instalasi pengelolaan air (IPA) dan jaringan distribusi. Selan­jutnya penambahan sumber air baku, misalnya dari Dam Seigong. “Dan screening pelanggan industri dan komersial, misalnya pabrik plastik,” terangnya.

Dewan Minta Dikaji Ulang

Sementara itu, menyikapi rencana ATB untuk melakukan rationing atau penggiliran suplai air dengan pola dua hari mati dan lima hari hidup, Wakil Ketua Komisi III DPRD Batam, Rohaizat, minta agar dikaji ulang. “Kami minta rencana kebijakan ini dikaji ulang lagi, karena berdampak dengan masyarakat Batam. Kita kering (air tidak mengalir, red) satu hari saja sudah sulit,” ujarnya, kemarin (5/3).

Kendati demikian, jika kebijakan tersebut harus dilakukan, ia mengimbau kepada masyarakat untuk lebih hemat dalam penggunaan air. Selain itu, ia meminta kepada ATB untuk tidak menghentikan suplai air sampai dua hari berturut-turut.

“Kalau bisa digilir saja per jam seperti halnya listrik. Biarlah bergilir rata satu Batam, tapi jangan sampai dua hari mati. Masyarakat akan repot menyiapkan wadah. Kendapi pun mereka punya tangki air,” tuturnya. (leo)