Selasa, 14 April 2026

Hujan Buatan Belum Tentu Efektif, Interkoneksi Antar Dam Lamban

Berita Terkait

batampos.co.id – Ancaman krisis air bersih di Batam makin nyata. Hingga Senin (9/3/2020), hujan tak kunjung turun, sementara air baku di semua dam di Batam terus menyusut.

Termasuk dam utama Duriangkang yang penyusutannya sudah lebih dari tiga meter.  Ironisnya, interkoneksi antar dam, khususnya dari Dam Tembesi yang airnya belum
dimanfaatkan, masih belum ada titik terang kapan terealisasi.

Pembahasan di tingkat pimpinan Badan Pengusahaan Batam terkesan lamban. Sementara, 228.900 pelanggan air bersih di Batam benar-benar terancam.

Termasuk pelanggan bisnis dan industri.

“Soal interkoneksi ini masih dibahas di tingkat pimpinan. Jadi, solusi yang mungkin kita
majukan dulu yakni hujan buatan,” kata Direktur Pengelolaan Fasilitas dan Lingkungan BP Batam, Binsar Tambunan, Senin (9/3/2020).

Ia menjelaskan, berdasarkan roadmap BP Batam, interkoneksi akan dilaksanakan pada Juni mendatang.

Tahapan-tahapannya dimulai dari penyiapan dokumen anggaran dan dokumen lelang pada Maret.

Kemudian dilanjutkan pengumuman lelang pada sistem Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE), lalu penetapan pemenang lelang, dan tanda tangan kontrak pada
April.

Tahapan berikutnya, pelaksanaan survei hingga Mei. Terakhir, penyelesaian dan serah terima pekerjaan serta operasional.

Kondisi Dam Duriangkang. ATB berencana menghentikan suplai air dari dam tersbeut karena debit airnya yang terus menyusut. Foto: batampos.co.id/Dalil Harahap

Diperkirakan nilai tender interkoneksi Dam Tembesi ke Dam Mukakuning ini mencapai Rp 45,7 miliar. Dam Tembesi yang sudah dibangun sejak 2008 dengan menghabiskan dana negara Rp 250 miliar memang sudah bisa diolah airnya karena sudah menjadi tawar.

Dam yang mampu mengalirkan 600 liter air per detik ini dirancang untuk menjadi sumber air bersih bagi warga Batuaji dan Tanjunguncang.

“Interkoneksi memang membutuhkan waktu cukup lama untuk terealisasi. Kondisinya memerlukan penetapan kondisi darurat, makanya lagi dibahas di tingkat pimpinan pusat. Kalau bisa lebih cepat, lebih baik,” jelasnya.

Sedangkan untuk hujan buatan, Binsar mengatakan, tim dari Badan Pengkajian dan
Penerapan Teknologi (BPPT) akan datang lusa ke Batam untuk melihat apakah efektif
membuat hujan buatan atau tidak.

“Kemungkinan lusa bisa mulai kajian dengan kehadiran tim BPPT,” ungkapnya.

BPPT adalah lembaga pemerintah nondepartemen yang berada di bawah Kementerian Riset dan Teknologi.

Fungsinya melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengkajian dan penerapan
teknologi.

Pelaksanaan kajian hujan buatan akan dilakukan selama 14 hari kerja dengan kebutu-
han dana sekitar Rp 100 juta.

Kemungkinan besar hujan buatan bisa dilaksanakan setelah 14 hari kerja tersebut, sekitar April atau Mei.

Situasi ini memang menuntut penyelesaian yang cepat, pasalnya sebulan lagi sudah
memasuki bulan Ramadan.

Sementara itu, untuk teknis hujan buatan, seperti dilansir dari situs resmi BPPT, hujan  buatan ditujukan untuk membantu krisis di bidang sumber data air karena iklim dan
cuaca.

Hujan buatan pada umumnya member ikan rangsangan ke dalam awan. Rangsangan tersebut untuk memproses terjadinya hujan di awan lebih cepat, dibandingkan dengan proses alami.

Sebelum melakukan proses hujan buatan, dilakukan beberapa persiapan terlebih dahulu, seperti koordinasi dan persiapan teknis.

Persiapan teknis yang dimaksud adalah memodifikasi pesawat agar bisa melakukan sistem delivery atau menghantarkan bahan kimia ke awan.

Mengenai pelaksanaannya seperti dilansir dari Live Science, hujan buatan bisa terjadi dengan menaburkan zat glasiogenik seperti argentium iodida atau perak iodida.

Penaburan bahan kimia tersebut harus dilakukan pada ketinggian 4 ribu hingga 7 ribu kaki dengan mempertimbangkan faktor arah angin dan kecepatan angin.

Bahan kimia juga harus ditaburkan pada pagi hari, karena hujan alami terjadi di pagi hari. Setelah ditaburkan, bahan kimia akan memengaruhi awan untuk berkondensasi dan membentuk awan yang lebih besar dan mempercepat terjadinya hujan.

Setelah awan berkondensasi, maka bubuk urea akan ditaburkan pada siang hari. Tujuannya untuk pembentukan awan besar dan berwarna abu-abu.

Kemudian, setelah awan hujan terbentuk, larutan bahan kimia kemudian ditaburkan kembali. Tujuannya untuk mendorong awan hujan membentuk butir air.

Tapi, eksekusi hujan buatan ini perlu presisi seratus persen. Sejak dulu, BP Batam selalu
menolak wacana ini.

Pasalnya, kecepatan angin di Batam sulit diprediksi. Bahkan, pergerakan awan bisa sangat cepat berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Hujan buatan belum tentu turun di Batam, apalagi pas di daerah dam. Sehingga belum tentu efektif.(leo)

Update