Selasa, 7 April 2026

BP Batam Belum Punya Solusi Cepat Atasi Krisis Air

Berita Terkait

batampos.co.id – Dam Duriangkang, sumber utama air bersih di Kota Batam, terancam
mengering. Hingga kemarin, penyusutan di dam yang menyuplai 80 persen kebutuhan air di Batam itu sudah mencapai minus 3,14 meter.

Semakin mendekati angka minus 3,4 meter, titik di mana dam harus berhenti beroperasi.

Pantauan Batam Pos, penyusutan air terlihat dengan jelas di sepanjang pinggiran dam. Permukaan bangunan pelimpah yang merupakan batas maksimal atau ideal volume air sudah jauh dari atas permukaan air.

Bebatuan di pinggir dam juga semakin terlihat dengan jelas. Lingkungan sekitar dam juga tampak kering dan tandus.

Cuaca panas yang berkepanjangan menjadi pemicu berkurangnya volume air di lokasi dam tersebut. Ditambah kerusakan hutan di sekeliling dam yang makin parah.

Pengelola air bersih di Kota Batam, PT Adhya Tirta Batam (ATB), menyebut air dalam dam
ini tak bisa bertahan lama, jika tidak turun hujan.

Jika mencapai minus 3,4 meter, maka butuh curah hujan tinggi untuk mengisi dam ini menjadi normal lagi.

Sementara saat ini kemarau panjang belum tahu kapan berakhir.

Kondisi dam Duriangkang yang terus menyusut. Foto:batampos.co.id/Dalil Harahap

“Solusi terbaik ya koneksi dengan Dam Tembesi. Kalau tetap bertahan (dengan Dam
Duriangkang) repot kita nanti,” ujar salah satu petugas di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Duriangkang, Selasa (10/3/2020).

Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Muhammad Rudi, mengatakan, lelang interkoneksi Dam Tembesi menuju Dam Mukakuning tidak bisa dipercepat.

Meski situasinya mendesak karena sudah mendekati bulan Ramadan, BP Batam tetap akan menjalankan lelang tersebut sesuai roadmap mereka.

“Tidak bisa (dipercepat), karena proses lelang ini panjang. Anggaran ada, tapi detail engineering design (DED) juga diselesaikan dulu. Baru setelah itu masuk lelang fisik,” katanya, di Batuampar, Selasa (10/3/2020).

Mengenai solusi lainnya yakni hujan buatan, Rudi pesimistis.

“Buat hujan lihat awan juga. Kata ahlinya harus ada awan mengandung air. Kalau
tak ada tanda-tanda awan mengandung air ya tak akan bisa,” ucapnya lagi.

Risiko lainnya yakni kecepatan angin juga membuat Rudi agak sedikit khawatir.

“Risiko, mau buat hujan buatan, malah angin datang jadinya hujan di Singapura,” ucap Rudi sambil tertawa.

Meskipun begitu, Rudi yakin hujan akan turun di pengujung Maret hingga awal April.

“Semua jalan kita usahakan, mana tahu hujan turun di akhir Maret dan April nanti,” tuturnya.

Usaha lainnya yang dilakukan BP Batam adalah membabat eceng gondok di Dam Duriangkang.

Namun, jika ini dilakukan saat kemarau seperti ini, justru mempercepat keringnya dam tersebut. Sebab laju evaporasi (penguapan) semakin cepat.

Seperti diketahui, luas eceng gondok di Dam Duriangkang saat ini sudah mencapai 180  hektare.

Meski diklaim menyebabkan penurunan kualitas air dan bangkainya menjadi material sedimen yang bisa menyebabkan pendangkalan, namun dalam kondisi kemarau justru bisa mencegah laju evaporasi.

“Di satu sisi, tetap jalan tahapan lelang interkoneksi. Kita juga terus berdoa lewat salat,
penyambungan tetap jalan, eceng gondok juga jalan, penggalian dam juga jalan,” jelasnya.

“Sedangkan hujan buatan nanti akan izin ke Pekanbaru yang punya. Dan bagi masyarakat, mari berhemat demi kita semua,” katanya lagi.

Di tempat yang sama, Deputi IV BP Batam, Shahril Japarin, mengatakan, hujan buatan masuk dalam kajian feasibility study (FS).

“Hujan buatan ini butuh studi kelayakan selama seminggu,” jelasnya. Biayanya sebesar Rp 100 juta untuk kajian tersebut.

“Hujan buatan tergantung awan. Kalau tak ada ya tak bisa. Sedangkan biayanya Rp 100 juta untuk FS. Kalau untuk prosesnya ya tak semahal itu, kan bahan-bahannya seperti garam kan dibawa pesawat baru ditaburkan,” jelasnya.(leo/gie)

Update