batampos.co.id – Head of Corporate Secretary ATB, Maria Jacobus, mengatakan setidaknya ada dua hal penting yang harus menjadi perhatian untuk mengatasi krisis air ini agar tidak berlangsung di masa depan.
Yakni:
- Menjaga Daerah Tangkapan Air (DTA) di dam-dam yang telah ada.
- Menambah cadangan sumber air baku baru.
“ATB sudah melakukan kewajibannya secara maksimal. Bahkan melebihi yang diwajibkan. Namun, apa yang kami lakukan tidak akan berguna bila kita tak menjaga sumber-sumber air baku di Batam,” ujar Maria.
Saat ini, kebutuhan air bersih di Kota Batam dipenuhi melalui lima dam milik pemerintah.
Di antaranya Dam Duriangkang, Mukakuning, Seiharapan, Seiladi, dan Nongsa. Dam Duri-
angkang menopang 80 persen kebutuhan masyarakat Kota Batam atau setara 228.900 pelanggan.
Air di dam itu kini telah menyusut hingga level minus 3,14 meter di bawah bangunan pelimpah.
Jika air menyentuh level minus 3,4 meter di bawah pelimpah, maka IPA Tanjungpiayu dan pompa intake yang menyalurkan air dari Dam Duriangkang ke IPA Mukakuning akan berhenti beroperasi.
Sementara bila air telah menyentuh level minus 5,0 meter, maka seluruh IPA Duriangkang
dengan kapasitas 2.200 liter juga akan berhenti beroperasi.

Pada akhirnya, akan ada 228.900 sambungan pelanggan yang tak akan mendapat pelayanan air bersih.
Perlu diketahui, saat ini level air di dam konsisten mengalami penurunan sebesar
2 cm per hari. Kondisi Dam Duriangkang saat ini merupakan yang terburuk sejak waduk tersebut beroperasi.
Batam semakin dekat dengan ancaman krisis air baku. Batam sebenarnya pernah
melewati krisis air. Tepatnya saat El Nino menerpa Batam tahun 2015 silam.
Saat itu, Dam Nongsa mengalami penyusutan paling kritis dan disusul oleh Dam Seiharapan.
El Nino memperpanjang masa kemarau tahunan yang terus dialami Kota Batam di awal tahun.
Namun, krisis itu mampu dilewati dengan berbagai skema penggiliran. Dampak bisa diminimalisir, karena Dam Duriangkang sebagai penyuplai air terbesar di Kota Batam masih bisa diandalkan untuk mengantisipasi hal terburuk.
Kini, dam yang menjadi andalan Kota Batam itu terancam kering. ATB telah memberikan
masukan kepada pemerintah sejak 2015, agar segera mengambil langkah antisipatif guna meminimalisir potensi krisis.
“Kami sudah melihat bahwa kita akan mengalami potensi krisis air sejak 5 tahun lalu.
Kami juga telah memberikan masukan. Sayangnya, belum ada langkah strategis yang dilakukan untuk menjaga ketersediaan air baku,” jelas Maria.
ATB sendiri tidak memiliki kewenangan di dam dan Daerah Tangkapan Air (DTA). Karena kedua wilayah tersebut adalah milik pemerintah.
Berdasarkan data ATB, beberapa dam lain juga mengalami penyusutan. Dam Mukakuning minus 2,08 cm. Dam Seiladi minus 2,26 cm. Dam Seiharapan minus 1,65 cm, dan Dam Nongsa minus 0,71 cm.
Sedangkan dari kalangan pengusaha mendorong agar BP Batam, ATB, Pemko Batam segera melakukan langkah cepat untuk mengatasi krisis ini.
“Terkait hal ini kita sarankan agar BP Batam, Pemko Batam, dan pihak ATB melakukan koordinasi secara intensif untuk mencari langkah penanganan alternatif supaya Batam tidak mengalami krisis air,” kata Ketua Apindo Batam, Rafki Rasyid, kemarin.
Di tempat terpisah, anggota Komisi III DPRD Batam, Amintas Tambunan, meminta ATB terus memberikan suplai air bersih kepada msyarakat meski akan diberlakukan rationing atau penggiliran dengan pola 5 hari air hidup, dan dua hari mati.
Suplai air itu bisa dilakukan ATB dengan menyediakan mobil tangki ke permukiman warga.
“Karena tidak semua masyarakat mampu membeli tandon air. Paling tidak tangki ATB harus standby-kan di permukiman warga. Jangan sampai nanti, masyarakat mengeluh soal air. Apalagi, ini musim kemarau panjang,” ujarnya, kemarin.(leo/gie)
