batampos.co.id – Rencana penggiliran suplai air atau rationing di Batam mulai 15 Maret, tak hanya meresahkan konsumen rumah tangga, tapi juga kalangan pengusaha.
Mereka gelisah, situasi saat ini seperti sudah jatuh tertimpa tangga. Mereka menuntut agar interkoneksi dari Dam Tembesi ke Dam Mukakuning segera dilakukan secepat mungkin, tanpa ditawar-tawar lagi.
“Di saat epidemi virus corona belum selesai, malah ada krisis air bersih. Ini meresahkan karena ada 2.900 industri dan 30 ribu pelanggan komersil/bisnis di Batam yang bisa terdampak,” kata Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, Tjaw Hoeing, Rabu (11/3/2020).
Menurut Tjaw, kondisi ini tidak ideal bagi kawasan industri.
“Ini sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup industri di Batam,” ujarnya.
Seharusnya kata dia, dicarikan solusi bersama. Karena lanjutnya, air sangat vital bagi industri.
“Tanpa adanya air, bisa-bisa industri akan shutdown dan tidak beroperasi semua. Ini lebih berbahaya dari virus corona,” katanya lagi.
Ia melanjutkan, tanpa adanya air yang mengalir selama dua hari, tentu situasinya akan sangat buruk.
“Ada bahan baku tapi tanpa adanya air, bagaimana mau produksi. Kami harapkan segera dicarikan jalan keluar dan jangan selalu salahkan keadaan,” ujarnya.
“Saran kami, mungkin yang bisa dilakukan adalah mengambil air dari pulau-pulau terdekat untuk disalurkan ke dam-dam yang ada atau memanfaatkan Dam Tembesi,” harapnya.
Sedangkan, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Batam, Muhammad
Mansur, mengatakan, rationing tentu berdampak tidak baik bagi bisnis hotel.
Tapi, hotel masih punya cara untuk mengantisipasinya.
“Tiap hotel punya cadangan dari ground tank yang didistribusikan ke kamar-kamar,” ujarnya.
Biasanya kata dia, hotel-hotel memiliki dua ground tank.
“Jadi, satu untuk suplai, dan satu lagi stand by,” sambungnya.
Tapi, ia tetap khawatir, jika rationing selama dua hari dilakukan tetap berdampak tidak baik.
“Kalau hotel lagi dalam keadaan full, selesai kita,” ucapnya.
Sebab, air cadangan tidak akan cukup. Namun, Mansur masih tetap bersyukur, karena saat sulit air seperti ini, tingkat okupansi sedang turun imbas dari epidemi virus corona.
“Okupansi 40 persen pun susah. Jadi ada sisi negatif dan positifnya juga,” jelasnya.
Head of Corporate Secretary PT Adhya Tirta Batam (ATB), Maria Jacobus, mengatakan, rationing dilakukan atas kesepakatan dengan BP Batam guna untuk memperpanjang usia
Dam Duriangkang.
“Kami bisa saja tidak melakukan rationing atau penggiliran tapi begitu 16 Juni, Dam Duriangkang akan kolaps, tutup,” terangnya.
“Untuk mengembalikan lagi Duriangkang naik sampai minus 2 meter batas aman, pertama tunggu hujan yang mungkin intensitasnya harus 7 bulan atau satu tahun baru
Duriangkang akan normal. Sedangkan masa konsesi kami berakhir November,” sambung Maria.
Maria juga mengatakan, ketersediaan air baku menjadi tanggung jawab BP Batam. BP Batam tak bisa berlepas tangan.
“Kecuali ketika ketersediaan air baku bagus, tapi kami gagal dalam memenuhi kewajiban sesuai konsesi untuk menyalurkan dan mendistribusikan air bersih, ya silakan salahkan kami,” jelas Maria.
ATB sudah memperkirakan krisis air bersih ini jauh-jauh hari sebelumnya.
“Sudah disampaikan ATB tiga-empat tahun sebelumnya,” jelasnya.
“Kita tidak mengharapkan adanya krisis, tapi hal ini telah disampaikan beberapa tahun yang lalu, sehingga Dam Tembesi harus segera digesa,” kata Maria lagi.
Dam Tembesi hingga saat ini masih dalam tahapan lelang yang terus tertunda. BP Batam
juga menyebut, persediaan air yang sudah tertampung di dam tersebut akan dialirkan
melalui pipa sepanjang 2,8 KM ke Dam Mukakuning.
Hal ini sebagai solusi mengatasi krisis air di Dam Duriangkang. Namun rencana ini baru
bisa diimplementasikan paling cepat dua bulan lagi.
Sementara Dam Duriangkang saat ini terancam setop beroperasi, karena kapasitas air terus mengalami penyusutan.
“Kalau curah hujan cukup, maka bisa saja pulih. Tapi berapa lama ini bertahan. Kami prediksi ini cuma satu tahun. Dan untuk mencapai benar-benar di titik pulih itu harus sampai di minus 1 cm,” ungkapnya.
Maria yakin kapasitas dam akan pulih berkat hujan di April dan Mei mendatang.
“Ya mudah-mudahan dengan hujan di bulan April, permukaan air bisa naik dari minus 3,14 ke minus 2,8,” terangnya.
Ia berharap, BP Batam dapat menjelaskan situasi ini dengan baik kepada dunia usaha di
Batam.
“Jika sudah mencapai minus 3,4 cm, maka mesin pompa di Piayu dan Mukakuning akan mati sendiri. Jalan yang paling cepat adalah transfer air baku dari Tembesi ke Mukakuning. Sekarang BP Batam harus melakukan quick action,” tuturnya.(leo/gie)
