batampos.co.id – “Dam terbesar di Batam, Duriangkang, yang belum pernah digilir (rationing) sama sekali selama 24 tahun beroperasi, kini akan digilir. Ini jadi sejarah besar, dan penggiliran ini bukan suatu yang menyenangkan,” kata Presiden Direktur PT Adhya Tirta Batam
(ATB), Benny Andrianto, memulai sambutannya pada acara customer gathering ATB di Hotel Radisson, Kamis (12/3/2020).
Benny menambahkan, penggiliran suplai air bersih yang akan mulai berlaku 15 Maret ini tidak hanya dirasakan pelanggan.
“Bagi ATB itu menyakitkan karena sistem kami tak dirancang untuk penggiliran,” katanya.
Dam Duriangkang yang merupakan dam terbesar di Batam tengah berada dalam
krisis. Sebabnya, karena penyusutan air dam terus terjadi karena hujan tak kunjung turun.
Ia menyebut level elevasi air di dam yang menyokong 80 persen ketersediaan air baku di Batam tersebut berada di minus 3,14 meter dari bangunan pelimpah atau spillway.
“Hari ini (kemarin, red) levelnya minus 3,14 meter. Kalau sudah di minus 5, maka Duriangkang akan kolaps dan tidak akan ada lagi gantinya,” katanya.
Dam lain lanjutnya hanya berkontribusi tak lebih dari 1.000 liter per detik (LPD), tak sebanding dengan Duriangkang.
“Kalau sudah tumbang, tak ada yang bisa gantikan,” tegasnya.
Rationing merupakan cara yang paling efektif untuk memperpanjang usia Dam
Duriangkang.
Normalnya, jika air Dam Duriangkang disedot terus maka hanya akan bertahan hingga 13 Juni. Tapi dengan rationing, maka umur dam akan bertahan hingga 6 Juli.
“Ini untuk kepentingan lebih besar agar Batam bisa eksis. Tak ada pilihan lain. Ini merupakan dampak terbatasnya air baku,” jelasnya.
Rationing lanjutnya akan berdampak pada 225.909 pelanggan.
“Kami juga tak mau rationing ini, jika ada pilihan lain,” sambungnya.
Adapun daerah terdampak nanti, yakni Batuampar-Sengkuang, Bengkong-Seipanas, Pelita-Kampung Utama, Casablanca-Baloi Mas, Sagulung-Tanjunguncang, Marina City, Aviari-MK Paradise dan Tembesi-Barelang,

Kemudian Kaveling Lama-Baru-Seilekop, KDA-Bandara, Jodoh-Nagoya, Baloi, Batam Center-Legenda, Sukajadi-Palm Spring, Kabil-Punggur, serta Tembesi-MKGR dan Piayu.
Benny menjelaskan, air tidak seperti listrik yang bisa diatur distribusinya. Air mengalir ke tempat terdekat dahulu baru ke tempat yang
jauh.
Dalam rencana ATB, skenario rationing adalah dua hari mati dan lima hari hidup. Skenario tersebut juga memiliki dua opsi. Opsi pertama, yakni penghentian suplai air dilakukan pada Kamis dan Minggu.
Dan opsi kedua, suplai air berhenti pada Sabtu dan Minggu. Benny menyatakan bahwa ia lebih suka opsi kedua.
Dengan opsi kedua, maka pemulihan pasokan air akan lebih cepat. Misalnya, jika pasokan dari Duriangkang hidup kembali pada hari Senin, maka daerah hulu akan mendapat pasokan sekitar satu atau dua jam setelah air hidup.
Sedangkan daerah hilir atau yang paling jauh dari dam, ada kemungkinan
akan dapat pasokan air empat hari kemudian.
ATB telah melakukan simulasi dan menyatakan bahwa skenario kedua adalah yang terbaik.
“Skenario terbaik itu mati berurutan. Karena yang perlu kita sampaikan itu masa pemulihan. Kalau Minggu off, maka Senin atau Selasa atau Rabu baru menyala,” jelasnya.
“Bahkan ada di daerah ujung H+3 belum mengalir, jumlahnya ada 3 ribu pelanggan,” katanya lagi.
Contohnya, daerah Batuampar dan Sengkuang ada kemungkinan 15 persen bisa
dapat pasokan air dalam empat hari setelah air hidup.
Tapi ada juga kemungkinan 63 persen bisa dapat pasokan air dalam sehari setelah air hidup.
Jika opsi pertama dipakai, maka ada kemungkinan daerah terjauh tidak akan
mendapat suplai air dari Kamis hingga Minggu.
Kemungkinannya sangat tergantung dari sikap pelanggan ATB yang 90 persen
adalah pelanggan domestik itu sendiri.
“Di daerah hulu yang dekat dengan dam, satu atau dua jam setelah air hidup
langsung tampung satu bak penuh, kalau perlu hingga lima drum. Pelanggan yang lain yang jauh dari sumber air dan belum dapat suplai, tak jadi urusan,” jelasnya.
Ia setuju bahwa dampak krisis air baku ini lebih berbahaya dari virus corona.
“Kalau air tak ada, semua bisa jadi egois. Sama seperti saat rationing Dam Seiharapan dulu,” paparnya.
“Orang-orang di hulu tampung air penuh-penuh, sedangkan di daerah hilir, jauh atau tempat tinggi jadi tak kebagian atau baru bisa dapat suplai setelah hari ketiga air hidup,” ungkapnya.
Benny kemudian memaparkan kondisi terkini, dimana jika dalam sehari air dam disedot sebanyak 2 cm, maka air dam akan habis dalam 90 hari.
Kemudian jika disedot sebanyak 3 cm, maka akan habis dalam 60 hari.
“Selambat-lambatnya itu Juni tanggal 15, kalau hujan tak turun,” tuturnya.
Penurunan level dam juga berdampak pada instalasi pengolahan air (IPA) di Piayu dan Mukakuning.
Di Piayu, level air sudah mencapai minus 3,4 meter dari intake atau bangunan penangkap air.
Sedangkan di IPA Mukakuning sudah mencapai minus 3,5 meter dari intake.
“Piayu kandas di minus 3,4 meter. Jika tiap hari disedot dua cm, maka 14 hari dari sekarang tak bisa sedot lagi,” katanya.
Piayu lanjutnya mengaliri daerah sekitar dan kawasan industri Batamindo. Sedangkan di Mukakuning kandas di minus 3,5 meter, maka 18 hari dari sekarang tak bisa disedot lagi.
“Dari kedua IPA itu saja jika kandas, maka akan defisit air sebanyak 500 LPD atau setara 100 ribu pelanggan,” ucapnya.
Untuk menghindari situasi tersebut, maka rationing adalah cara paling efektif.
Ada satu skenario lain yakni suplai air tetap mengalir selama tujuh hari penuh, tapi dikurangi sebanyak sekitar 20 persen.
“Itu ide bagus, tapi konsep dasar rationing adalah kurangi kapasitas produksi. Kalau tiap hari turunkan misalnya dari 2.500 LPD jadi 2.000 LPD, maka di daerah yang ujung-ujung akan tidak dapat semua,” ucapnya.
“Selisih 500 LPD itu sangat berpengaruh, yang di ujung-ujung seperti Mc Dermott pasti kebagian. Ditambah lagi sikap orang-orang di wilayah hulu yang pasti isi penuh drum-drumnya,” tuturnya.
Salah satu solusi yang tepat untuk mengatasi krisis air baku ini yakni mengoptimalkan Dam Tembesi yang saat ini masih menganggur.
“2019, Tembesi harus mengalir. BP harus segera pasang pipa dari Tembesi ke Mukakuning sepanjang tiga kilometer,” katanya.
“Bukan sekadar dikerjakan dan selesai dua bulan. Jangan keburu Duriangkang habis, tak ada gunanya lagi,” ujarnya lagi.
Jika Dam Tembesi tersambung ke Dam Mukakuning, maka pasokan air akan bertambah sebanyak 600 LPD.
“Jika Tembesi masuk ke jaringan maka dapat tambahan 600 LPD. Tapi itu hanya bertahan tiga tahun. Apa mau hidup selama tiga tahun,” tuturnya.
Tiap tahun, kebutuhan air selalu tumbuh 200 LPD. Saat ini kebutuhan air sekitar 3.500 LPD dan ketersediaan air 3.850 LPD.
Menurutnya, dengan jumlah penduduk 1,3 juta jiwa dan terus bertambah lima hingga sembilan persen tiap tahunnya, maka idealnya kebutuhan air harus tersedia tambahan sebanyak 3 ribu atau 4 ribu LPD lagi.
“Kalau ATB dikasih izin, saya siap. Tapi kalau tak ada izin, salah juga saya,” imbuhnya.
Sedangkan mengenai solusi lainnya dari Badan Pengusahaan (BP) Batam yakni
hujan buatan, Benny pesimistis akan berhasil.
“Batam ini kecil. Untuk menciptakan hujan buatan harus menyemai awan yang ada bibit-bibit airnya. Saya tak yakin karena prediksi jatuhnya di Batam itu sulit karena pulau ini kecil. Bisa-bisa jatuhnya di Singapura,” ungkapnya.
Untuk bantuan tangki air, ATB hanya akan memprioritaskan untuk rumah sakit
saja.
“Tak ada bantuan tangki air, kecuali untuk rumah sakit. Ini berdasar atas asas kemanusiaan. Jadi, tangki air bukan solusi yang benar,” ucapnya.
Bagi ATB, mengundang kalangan pengusaha dalam sosialisasi ini merupakan hal
tepat. Karena bagi pelanggan domestik, tidak ada alasan untuk mematikan suplai air.
“Saya tahu Anda pasti tak terima, tapi ini keputusan sulit dan saya yakin Anda bisa memahaminya,” ucapnya.
“Ini pengalaman pertama kami. ATB yang luar biasa tak berdaya ketika air baku tak ada. Kami mohon maaf atas apa yang akan terjadi dengan
pengiliran ini,” sambungnya.
Dalam pertemuan ini, ATB sebenarnya mengundang BP Batam sebagai penanggung
jawab kebutuhan air baku di Batam.
Tapi tidak ada satupun perwakilan BP Batam yang hadir. Benny terlihat kecewa dan menyebut alasan ketidakhadiran BP Batam karena BP memiliki urusan yang lebih penting lagi.
“Kami sudah sampaikan mengenai kondisi ini dari tiga empat tahun lalu ke BP Batam. Mengapa tidak ada tindak lanjut. Saya tak bisa beri komentar
apapun di luar tanggung jawab kami,” terangnya.(leo)
