Hampir dua minggu warga Batam dibuat resah. Pasokan air bersih sebagai sumber kehidupan di ambang krisis. Musim kemarau memang selalu jadi cobaan bagi sebagian besar warga. Belum ada solusi baru selain berharap hujan turun.
SURIYANTI mencuci dua tong besar berwarna biru di garasi rumahnya di kawasan Baloi Mas, Rabu (11/3/2020) siang lalu.
Dua ember bertutup sudah ia isi sebelumnya. Ibu dua anak itu resah. Krisis air bersih menjadi momok menakutkan baginya.
“Sudah lama ini tong tersimpan di gudang. Akhirnya dikeluarin untuk tampung air. Katanya pasokan air bersih akan terganggu akibat kemarau. Selagi air masih hidup, kita tampung sebisanya,” ujarnya.
Desas-desus water rationing atau penggiliran suplai air membuatnya teringat ke kejadian beberapa tahun silam.
Kala itu pasokan air bersih ke Perumahan Baloi Mas terganggu. Akibatnya, ia harus membeli delapan galon air setiap hari untuk kebutuhan mandi, kakus, dan masak.
“Merinding kalau ingat itu lho. Bayangkan kita sakit perut, lari ke kamar mandi, eh air tak ada. Aiyo… jangan sampai seperti itu lagilah,” ungkapnya.
Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai ibu rumah tangga ini mengaku paling merasakan dampaknya.
Meski di laporan PT Adhya Tirta Batam (ATB) pasokan air tak terganggu ke kawasan mereka, tapi kerap debit air sering kecil ke rumahnya.
“Batam katanya kota industri yang maju di Indonesia. Tapi masih mengharapkan hujan sebagai sumber air utama,” jelansya.
“Harusnya sudah buat teknologi pendukung. Pelengkap alternatif kala status waduk tadah hujan berkurang seperti sekarang ini. Deg-degan setiap baca berita krisis air di koran,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, Batam sebagai pulau yang dikelilingi air laut, sudah saatnya mengolah air laut menjadi air bersih kala musim kemarau begini.
“Waduk tak bisa diharapkan di cuaca seperti ini, maka pengelolaan air laut bisa diaktifkan. Jadi tak ada krisis. Ini sudahlah cuaca panas sekali, pasokan air terganggu pula. Kasihan warga Batam,” ujarnya.
Demikian halnya Wendy, warga Bengkong Permai setuju dengan usulan mengelola air laut menjadi air bersih.
“Ya, pasti mahallah untuk membuat itu, tapi apa yang tidak bisa? Anggaran negara kan ada? Air ini diatur dalam undang-undang lho,” ujarnya ketika ditemui di Bengkong, Jumat (13/3) lalu.
Terkait jadwal rationing yang sempat digaungkan ATB dan kemudian ditunda sampai
batas penyusutan debit air di waduk (Dam) Duriangkang mencapai -3,4 meter spillway
atau di bawah bangunan pelimpah, Wendy mengungkapkan, hal itu tidak membuatnya bahagia.
“Sudah biasa. Tidak ada informasi seperti ini pun, warga Bengkong sudah berjuang dan berjibaku mengatasi keterbatasan air bersih,” jelasnya.
“Sudah menahun. Tak percaya, tanya saja warga Bengkong lainnya. Khususnya Bengkong
Permai, Bengkong Indah dan sekitarnya ya,” ungkapnya.
Pria 42 tahun ini mengungkapkan, kawasan ia tinggal selalu mendapatkan jadwal
penggiliran air bersih.
“Tak pernah hidup di siang hari. Nah, akhir-akhir ini, baru mulai hidup pukul 1-2 dini
hari. Mati kembali pukul 4 atau pukul 5 pagi. Begitu terus,” ujar Wendy.
“Udah gitu, saat air hidup, kita tampung, airnya mengalir sedikit. Kadang selama 10 menit pertama cuma suara udara baru menetes deras lalu pelan. Kalau kita lengah, ya tak lebih dari setengah ember yang dapat,” tambahnya.
Mengatasi krisis air bersih di rumahnya, Wendy pun setiap hari harus menyisihkan uangnya untuk membeli rata-rata 8-10 galon air bersih.
“Nanti-nanti, ketika ATB memberlakukan water rationing, tambah menderitalah warga Bengkong. Bisa nggak hidup air dalam beberapa hari. Sudah kepikiran untuk bikin sumber air sendiri,” jelasnya.

“Bor ke dalam tanah daripada begini terus. Sudah berapa biaya galon yang saya keluarkan selama beberapa tahun ini, dihitung-hitung sudah cukup juga untuk buat sumur bor,” tegasnya lagi.
Menurutnya, penundaan penggiliran (WR) sesuai dengan instruksi BP Batam pada Jumat
(13/3/2020) lalu yang harusnya diberlakukan mulai Minggu (15/3/2020) kemarin, hanya solusi sementara saja.
Tidak banyak membantu warga. Apalagi, ATB mengimbau masyarakat Kota Batam untuk
selalu berdoa agar hujan bisa turun dengan intensitas yang memadai dan dihindarkan
dari potensi krisis air, serta berpesan supaya selalu waspada karena ancaman krisis air belum berlalu.
“Air ini kan kebutuhan dasar setiap makhluk hidup. Saatnya BP Batam dan ATB memikirkan langkah-langkah solutif jangka panjanglah. Kelola air laut jadi air bersih. Tak ada cara lain,” ujarnya.
Demikian halnya dengan Reva, warga Marina City. Meski ATB sudah menunda penggiliran, tapi ia tetap was-was. Apalagi, beberapa hari sebelumnya, ia juga panik mencari informasi penjual drum.
“Bisa bayangkan betapa repotnya kami sekeluarga apabila tak ada cadangan air bersih di rumah. Satu bak air untuk tujuh orang, bisa-bisa mandi kucing kami,” ujarnya.
Ia pun berharap supaya Batam segera dilanda hujan sehingga volume waduk meningkat kembali.
“Apalagi yang kita harapkan? Mau mengeluh ke pemerintah tak ada guna. Berdoa sajalah supaya hujan segera turun,” paparnya.
“Atau kalau bisa berdoa supaya pemangku kebijakan diberi hikmah berpikir solutif untuk penanganan masalah air bersih ini. Selalu terjadi hampir setiap tahun kan? Tiap kemarau,
resah,” ujarnya lagi.
Sebelumnya, ATB melaporkan, waduk Duriangkang yang merupakan dam terbesar di Batam yang menyokong 80 persen pelanggan tengah mengalami krisis.
Terjadi penyusutan air sekitar 2 sentimeter setiap harinya. Badan Pengusahaan (BP)
Batam pun memutuskan untuk menunda rationing (penggiliran air bersih) sampai waktu yang akan ditentukan kemudian berdasar kajian khusus mengenai distribusi air bersih untuk seluruh pelanggan yang sedang dilakukan BP Batam.
“Keputusan penundaan rationing diambil oleh BP Batam agar aktivitas masyarakat dan dunia usaha terus berlangsung kondusif serta lebih siap untuk menghadapi rationing bila terpaksa dilakukan,” kata Kepala Biro Humas Promosi dan Protokol BP Batam, Dendi
Gustinandar.
Selama proses penundaan ini, BP Batam melakukan beberapa upaya untuk menambah ketersediaan air baku, di antaranya dengan pemasangan pipa penghubung dari Dam Tembesi ke Dam Duriangkang serta persiapan rekayasa hujan buatan bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Hal ini juga dilakukan mengingat saat ini elevasi Tinggi Muka Air (TMA) Dam Duriangkang hampir mencapai level – 3,19 meter.
Sementara titik kritis berada pada elevasi TMA -3,4 spillway. Minimnya curah hujan di Batam, mengakibatkan menyusutnya waduk-waduk yang merupakan tulang punggung
ketersediaan air bersih di Pulau Batam.
Hal ini menyebabkan harus dilakukannya pengaturan khusus untuk penyaluran air bersih kepada pelanggan.
“BP Batam mengimbau kepada masyarakat dan dunia usaha agar lebih bijak dan hemat dalam penggunaan air bersih sehari-hari,” tambah dia.
Meski penggiliran air ditunda hingga dua minggu ke depan, kalangan dunia usaha dan masyarakat tetap mendesak agar BP Batam tetap menggesa interkoneksi Dam Tembesi menuju Dam Mukakuning segera dilaksanakan.
“Air itu alat vital bagi kehidupan. Lihat kondisi saat ini horor juga ya. Ini merupakan masalah bersama. Jadi minimal ke depannya, pemerintah punya program untuk cukupi
kebutuhan kita. Ada baiknya DPRD Batam dilibatkan untuk bisa mendesak,” kata ang-
gota Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) Batam, Irvan Manurung,
baru-baru ini.
Sedangkan Syahrial dari Mc Dermott Batam mengatakan, krisis air berdampak besar bagi kelangsungan usaha dari perusahaan jasa konstruksi lepas pantai ini.
“McDermott itu lokasinya di ujung. Dampaknya besar. Pimpinan kami di pusat nanti akan terkejut kalau tak ada air,” katanya.
Sebabnya, karena saat ini Mc Dermott merupakan rumah bagi sekitar 5.600 karyawan yang menggantungkan hidupnya di sana.
Mc Dermott merupakan industri pertama dan salah satu yang terbesar di Batam.
“Ini mau masuk proyek dari Arab, jadi tambah lagi karyawan kita. Ada juga proyek dari Qatar dan Australia,” ungkapnya.
Ia mempertanyakan jika krisis air terus berlanjut dan tak kunjung dicarikan solusi-
nya, maka akan menimbulkan keraguan di tubuh manajemen pusat Mc Dermott di luar negeri.
“Kami akan usahakan beri pemahaman ke mereka, tapi pasti mereka tak menerima
kalau di sini lagi kesulitan air. Jadi harus ada solusi jangka pendek agar bisa meyakinkan
pimpinan dan klien-klien kami. Realisasi harus ada agar investor tetap percaya,” jelasnya.
Perusahaan sekelas PT Amtek Engineering juga khawatir dengan krisis ini. Riki, dari Amtek, mengakui kalau perusahaannya merupakan pengguna air terbesar kedua di Batam.
“Amtek itu pakai 1.300 meter kubik dan nomor dua terbesar di Batam. Jadi penjualan produk kami bisa kayak digantung sakratul maut tak jelas,” katanya.
Ia memberikan saran, jika kelak rationing akan diberlakukan dalam waktu dekat maupun lambat nanti, BP Batam dan ATB harus mengatur jadwal rationing dengan baik.
“Sehingga kami bisa atur jadwal produksinya dari Senin sampai Sabtu,” imbuhnya.
Riki sudah melihat pemaparan dari ATB bahwa rationing dilakukan untuk memperpanjang usia dam hingga Juli.
“Jadi ada tiga bulan untuk mengambil tindakan ekstrem. Kita tak bisa menunggu hujan
saja,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala BP Batam yang juga Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, mengatakan telah memerintahkan jajarannya agar segera melakukan lelang interkoneksi dam.
Sebab, interkoneksi dam tetap harus melalui proses lelang umum, tidak boleh tidak.
“Selain opsi tender, ada opsi lain yaitu hujan buatan,” kata dia.
Untuk jangka panjang, kata Rudi, pihaknya juga berencana berkerja sama dengan daerah lain, seperti Lingga yang memiliki mata air.
Selain mengolah kembali air sisa rumah tangga untuk digunakan keperluan sehari-hari seperti menyiram taman.(cha/leo/iza)
