batampos.co.id – Ada kabar baik bagi para pengusaha. Saat ini pemerintah menerbitkan paket stimulus kedua untuk mendukung kinerja sektor industri yang terdampak wabah Covid-19.
Salah satunya adalah pembebasan bea masuk impor bahan baku. Kebijakan itu berlaku untuk 19 sektor industri tanah air.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa pembebasan bea impor bahan baku itu merupakan upaya untuk melancarkan proses produksi pada 19 sektor industri.
Hal itu mengingat sebagian industri masih menggantungkan bahan bakunya dari luar negeri. Sebanyak 30 persen di antaranya bergantung pada Tiongkok.
Relaksasi impor itu diharapkan bisa menggerakan roda perekonomian dari sektor industri.
Kendati demikian, Agus sadar kebijakan tersebut rawan disalahgunakan.
Karena itu, dia akan memastikan tidak ada penumpang gelap atau free rider.
”Tidak boleh ada produk-produk impor barang jadi dalam paket ini. Intinya, kami pemerintah tidak mau ada free rider,” ujar menteri 51 tahun itu pada Sabtu (14/3/2020).
Agus mengungkapkan, pemerintah akan benar-benar mengawasi penerapan relaksasi impor tersebut agar tidak mengganggu ketersediaan produk dalam negeri.
’’Tentu pembebasan bea masuk bahan baku industri ini tidak boleh mengganggu produk-produk yang sudah dihasilkan industri dalam negeri,’’ jelasnya.
Menurut Agus, dari 19 sektor industri tersebut, ada sekitar 1.022 kode harmonized system (HS) barang baku industri.
Verifikasi tahap pertama menghasilkan sekitar 313 HS yang menjadi prioritas pemerintah. Kemenperin mengaku mendapatkan masukan dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia soal industri-industri yang paling terdampak wabah Covid-19.
”Ini tentu sektor industri perlu melakukan corporate action untuk mencari alternatif negara mana yang bisa didapatkan bahan baku operasionalnya masing-masing,’’ ucapnya.
Yang penting, imbuh dia, kebutuhan bahan baku tercukupi dan proses produk-
si tidak terganggu.
Kemenperin menyadari para pelaku industri dari negara lain pun saat ini sedang susah. Karena itu, negara alternatif pemasok bahan baku industri akan mematok harga yang
tinggi di pasar global.
’’Sebab, tidak hanya Indonesia yang mau mendapat bahan baku. Industri dari negara-negara lain juga membutuhkan karena mengalami problem yang sama,’’ tuturnya.
Sementara itu, Ketua Umum Kadin Indonesia, Rosan Roeslani, mengapresiasi kebijakan relaksasi impor pemerintah tersebut. Sebab, saat ini pasokan bahan baku dari Tiongkok menipis.
’’Tekanan ekonomi memang sedang tinggi. Untuk ekspor dan impor, memang seharusnya ada relaksasi. Terutama untuk impor bahan baku dan penolong,’’ katanya.(jpg)
