batampos.co.id – Pemerintah Indonesia akan memulangkan 57 WNI Anak Buah Kapal (ABK) kapal pesiar Grand Princess dari Amerika Serikat. Selanjutnya mereka akan dibawa ke Pulau Natuna, Kepulauan Riau, untuk menjalani proses observasi sebelum dikembalikan kepada keluarga.

Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) I Laksamana TNI Yudo Margono mengatakan, hari ini dia sudah tiba di Ranai, Kepulauan Riau untuk mengecek kesiapan lokasi karantina. Sejumlah personel pun sudah diboyong untuk menyambut kedatangan 57 WNI ini.

“Saya baru mendarat Ranai, Natuna untuk meninjau kesiapan tempat observasi bagi mereka, sekaligus mobilisasi personel pendukung,” kata Yudo saat dikonfirmasi, Senin (16/3).

Yudo mengatakan, mereka akan diobservasi di Lanud Raden Sadjad. Tempat yang sama digunakan untuk observasi WNI dari Wuhan, Tiongkok beberapa waktu lalu.

Untuk tim yang dikerahkan, memiliki komposisi yang sama dengan personel obervasi di Pulau Sebaru dan WNI dari Wuhan. Dengan rincian, tim pendamping dari Yonkesh Marinir dan Kostrad serta Kemenkes.

Tim dapur lapangan dari Bekangdam Jaya, tim Dekon dari Zeni TNI AD dengan 2 mobil dekon, tim pengamanan dari Marinir, Paskhas, Brimob Polda Kepulauan Riau dan pasukan dari Lanud, Lanal, Kodim serta Polres.

Kendati demikian, Yudo mengatakan pemulangan WNI dari Grand Princess batal dilakukan hari ini. Dia pun tak mengetahui pasti kapan pemerintah menjemput mereka.

“Itu ranahnya Kemenlu, kita di Natuna sudah siap semua, termasuk KRI Suharso dan Hely panter TNI AL untuk stand by emergency,” pungkas Yudo.

Diketahui, kapal Grand Princess berlayar dari Hawaii ke San Fransisco pada (4/3). Di dalam kapal tersebut ada 21 orang yang dinyatakan positif korona (COVID-19). Di dalam kapal tersebut tercatat 57 orang ABK berasal dari Indonesia.(jpg)