Sabtu, 25 April 2026

Kata Pengusaha di Batam Terkait Pembatasan Masuk Singapura dan Lockdown Malaysia

Berita Terkait

batampos.co.id – Kebijakan Pemerintah Malaysia menutup akses masuk dan keluar negara itu (lockdown) mulai hari ini, Rabu (18/3), serta pembatasan dan pengetatan aturan masuk ke Singapura bagi warga dari negara-negara ASEAN, berdampak besar bagi sektor industri, transportasi, dan hiburan di Kota Batam.

Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, Tjaw Hoeing, Selasa (17/3), mengatakan, banyak bahan baku industri di Batam juga dipasok dari Malaysia.

Terlebih pasokan dari Tiongkok via Singapura belum pulih betul.

“Banyak perusahaan-perusahaan yang dapat suplai bahan baku spesifik dari negeri jiran
itu. Stoknya akan habis April ini. Mudah-mudahan Malaysia tidak lama lockdown-nya,”
kata Tjaw.

Ia mengatakan, akibat lockdown, banyak perusahaan manufaktur Malaysia yang terancam merumahkan karyawannya.

“Bahan baku jadi tak bisa diproduksi, sehingga tak bisa dikirim ke Batam,” ujarnya.

Tak hanya itu, Tjaw mengatakan, pembatasan kunjungan ke Singapura juga menyebabkan sejumlah problem bagi Batam.

“Ekspatriat yang banyak menduduki jabatan direksi di Batam enggan keluar dari Singapura ke Batam,” jelasnya.

Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, Tjaw Hoeing, Foto: batampos.co.id/Cecep Mulyana

Tjaw menuturkan, kebanyakan jabatan direktur di perusahaan-perusahaan manufaktur Batam berasal dari Singapura.

“Biasanya mereka datang tiap Senin, kemudian kembali Jumat. Pengumuman itu baru diketahui Sabtu kemarin bahwa Singapura berlakukan karantina selama 14 hari jika mau masuk ke sana,” jelasnya.

Karena itu, banyak ekspatriat enggan kembali ke Batam.

“Jika balik lagi ke Singapura, maka harus dikarantina lagi kan,” imbuhnya.

Dampak yang akan dirasakan yakni kebijakan perusahaan yang akan tertunda.

“Contoh sederhananya yakni tanda tangan untuk gaji kan dilakukan pimpinan tertinggi. Kalau mereka tak mau ke Batam, siapa yang mau bawa cek gaji itu,” katanya,

“Orang Indonesia pun enggan ke sana karena kena karantina juga 14 hari. Ini jadinya efek domino yang tak bagus bagi kelangsungan industri di Batam,” tuturnya lagi.

Hal yang sama juga dirasakan pelaku usaha transportasi laut rute Batam-Singapura dan
Batam-Malaysia.

Kebijakan yang berlaku di kedua negara tetangga itu membuat arus penumpang turun drastis. Di Pelabuhan Feri Internasional Batam Center, misalnya, trip keberangkatan kapal berkurang hingga 75 persen.

Manajer Operasional Pelabuhan Feri Batam Center, Nika Astaga, menyebutkan, menyusul keluarnya aturan dari Singapura, arus penumpang ke Negeri Singa itu benar-benar sepi.

Bahkan, kemarin, jumlah kapal yang berangkat ke Singapura hanya 11 trip dari yang biasanya 43 trip.

Sedangkan untuk tujuan Malaysia, menurutnya, banyak pelayaran yang dikurangi. Sebab, status negara tersebut sudah mulai lockdown per hari ini, Rabu (18/3/2020).

“Untuk umum memang ditutup, tapi infonya ada kapal khusus untuk warga negara Malaysia yang ingin pulang,” jelas Nika.

Syahbandar Pelabuhan Feri Internasional Batam Center, Deny Cahyadi, membenarkan sejumlah operator feri ke Malaysia sudah mengurangi trip.

Untuk Malaysia, biasanya ada tiga tujuan, yakni Stulang Laut, Putri Harbour, dan Pasir Gudang.

“Besok (hari ini, red) cuma ada 9 trip. Yakni tiga ke Stulang Laut dan 6 ke Pasir Gudang,”
jelas Deny.

Hanya saja, kata Deny, kapal tujuan ke Malaysia hanya bisa dinaiki warga negara
Malaysia. Sedangkan warga negara Indonesia (WNI) oto-
matis langsung ditolak.

“Kapal tujuan Malaysia khusus warga Malaysia, sedangkan kapal ke Batam, khusus
warga Indonesia yang ingin pulang,” terangnya.(leo/she)

Update