batampos.co.id – Serangan virus corona atau Covid-19 memukul sektor ekonomi Tanah Air. Nilai tukar rupiah terpuruk. Indeks harga saham gabungan (IHSG) juga terjerembap dan finis di zona merah. Kemarin (19/3) nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) sempat menembus Rp 16 ribu per USD. Bahkan sempat menyentuh level 16.179,50 ada pukul 14.10 WIB.

Namun, perlahan tapi pasti, mata uang garuda menguat kembali. Tadi malam, kurs terpantau Rp 15.777,50 per USD. Anjloknya nilai rupiah hingga level Rp 16 ribu per USD tersebut merupakan yang terendah sejak krisis moneter 1998.

Menurut Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, rupiah melemah karena kepanikan investor asing di tengah merebaknya wabah Covid-19. Mereka tertekan lantaran ketidakpastian ekonomi global yang sangat tinggi. Sebab, saat ini virus tersebut sudah menyebar di 159 negara.

“Kami memantau bagaimana Dow Jones (Index) anjlok. Premi risiko meningkat sangat-sangat tinggi,” jelas Perry dalam live streaming konferensi pers paparan hasil rapat dewan gubernur BI, kemarin. “Kita (Indonesia) menghadapi dan semua negara menghadapi. Semua investor global melepas asetnya, baik saham maupun SBN (surat berharga negara, red),” lanjutnya.

Menurut Perry, dalam kondisi saat ini, berlaku prinsip cash is the king. Meski demikian, bank sentral memastikan bahwa mekanisme pasar tetap berjalan. Likuiditas di pasar uang dan pasar valuta asing (valas) dijaga. Selain itu, triple intervention dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Baik di mekanisme pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), maupun pembelian SBN dari pasar sekunder.

“Yang kami pastikan adalah bagaimana penentuan nilai tukar di pasar, baik melalui broker maupun antarbank itu, konvergen. Kami pastikan dari pagi sampai sore Bank Indonesia selalu ada di pasar,” tegas pria kelahiran Sukoharjo itu.(jpg)