batampos.co.id – Singapura akhirnya memutuskan menutup akses masuk bagi pengunjung. Hal itu diungkapkan Ministry of Health (MOH) atau Kementerian Kesehatan Singapura guna mencegah kasus impor COVID-19 di Singapura yang mungkin dibawa oleh para wisatawan.

Dilansir dari Channel News Asia, Minggu (22/3), pembatasan tersebut akan berlaku pada 11.59 malam pada hari Senin besok (23/3). “Ini juga (dilakukan) untuk menghemat sumber daya sehingga kami dapat fokus pada warga Singapura saja,” jelas pihak MOH.

Diungkapkan, hampir 80 persen kasus COVID-19 baru Singapura selama tiga hari terakhir berasal dari kasus impor. Yakni berasal dari sebagian besar warga Singapura dan pemegang Long Term Pass yang kembali dari luar negeri.

“Kasus impor ini memiliki sejarah perjalanan ke 22 negara yang berbeda,” imbuh pihak MOH.

Meksi menyatakan menutup akses dari luar, Singapura memberikan pengecualian. Yakni ada pihak yang masih bisa masuk atau transit di Singpura. Misalnya orang yang memegang izin kerja untuk layanan penting, seperti perawatan kesehatan.

Seperti yang diumumkan sebelumnya, semua warga Singapura dan pemegang paspor jangka panjang di Singapura, diperintahkan tinggal di rumah selama 14 hari.

Pembatasan terbaru diumumkan sehari setelah Singapura mengonfirmasi dua kematian pertamanya karena penyakit tersebut. Yakni seorang wanita Singapura berusia 75 tahun dan seorang pria Indonesia berusia 64 tahun meninggal karena komplikasi akibat COVID-19 pada Sabtu (21/3) pagi.

Wanita itu, yang dikenal sebagai kasus 90, memiliki riwayat penyakit jantung kronis dan hipertensi. Dia terhubung dengan cluster di The Life Church and Missions Singapore.

Pasien kedua, yang dikenal sebagai kasus 212, adalah seorang pria Indonesia berusia 64 tahun dengan riwayat penyakit jantung. Singapura telah mengonfirmasi 47 kasus baru virus korona pada hari Sabtu, sehingga total nasional menjadi 432.

Untuk mengurangi risiko penularan lokal, langkah-langkah yang lebih ketat pun telah diumumkan pada hari Jumat. Termasuk melarang semua acara dan pertemuan dengan 250 atau lebih peserta.

Operator tempat umum, seperti toko ritel dan gerai makanan dan minuman (F&B), juga harus melakukan tindakan pencegahan untuk memastikan pemisahan setidaknya 1 juta orang. Negara ini juga meluncurkan aplikasi seluler TraceTogether baru dalam upaya untuk mempercepat upaya pelacakan kontak.(jpg)