batampos.co.id – Kondisi musim panas mendorong pemakaian air secara berlebihan oleh sebagian masyarakat Batam. Faktor ini akan mendorong penyusutan air di Dam Duriangkang lebih cepat. Saat ini, level elevasi terakhir dam tersebut dari spillway berada di minus 3,31 meter.
“Kondisi dam dengan musim panas yang berkepanjangan itu pengaruh. Kebetulan contohnya di Dam Seiharapan tak di-rationing, maka pola pemakaian jadi boros. Akibatnya pelanggan yang di hilir atau di ujung yang daerahnya tinggi jadi terkena dampaknya,” kata Head of Corporate Secretary ATB, Maria Jacobus, Jumat (20/3).
Maria menjelaskan, selama musim panas terjadi pola penyerapan dari ‘tangki-tangki air’ ATB secara luar biasa. “Ini jadi potret yang baik bagi kami untuk membaca pola seperti ini yang akan terjadi kalau rationing berlaku nanti,” ujarnya.
Khusus mengenai Dam Duriangkang sendiri, Maria menyebut masih bisa bertahan 10 hari. ATB akan melakukan rationing kalau level dam sudah berada di minus 3,40 meter dari spillway. “Hitung saja kalau dalam sehari turunnya dua sentimeter lebih, maka akan lebih cepat surutnya,” ungkapnya.
Apabila debit air minus 3,4 dari spillway dan tanpa melakukan apapun, mesin pompa yang ada di Dam Duriangkang otomatis akan mati dengan sendirinya dikarenakan air menyusut.
“Kami sebelumnya sudah melaporkan hal ini kepada BP Batam, mau tunggu minus 3,4 mesin pompa tumbang sendiri dan itu sudah kami sampaikan,” jelasnya.
Ia melanjutkan, jika BP Batam tidak menangani dengan cepat debit air di dalam Dam Duriangkang akan semakin menyusut dan dipastikan akan berhenti beroperasi.(leo)
