batampos.co.id – Indonesia berjuang dalam keterbatasan dalam menghadapi badai korona yang tengah mengamuk. Negeri ini kekurangan ranjang rumah sakit untuk menampung pasien korona, kekurangan tenaga medis, serta kekurangan fasilitas perawatan intensif. Sejumlah pakar kesehatan pun menerangkan, bahwa Indonesia bisa menjadi episentrum baru bagi wabah korona di Asia Tenggara, seperti yang disebutkan oleh Reuters, berdasarkan review atas berbagai data.

Berdasarkan data pada Kamis (27/3), di Indonesia terdapat 893 orang yang terpapar korona, dengan angka kematian mencapai 78 jiwa. Ini adalah jumlah kematian tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Sebagai perbandingan, di Malaysia ada 2.031 orang yang tertular korona. Namun, di Negeri Jiran, baru ada 23 orang yang meninggal. Kemudian, di Thailand warga yang tertular adalah 1.045, dengan jumlah kematian hanya 4 orang. Sedangkan di Vietnam, ada 153 orang terinfeksi, tapi tak ada satu pun yang meninggal.

Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Batam melakukan penyisiran
ke sejumlah rumah warga untuk mendata orang yang sedang mengalami gejala sakit
mengarah Covid-19, baik di wilayah mainland maupun di hinterland, Senin (23/3). (istimewa)

Nah, sebuah kabar mengejutkan datang dari Centre for Mathematical Modelling of Infectious Desease. Lembaga yang berbasis di London itu mengeluarkan pernyataan bahwa, setidaknya, akan ada seikitnya 2 persen dari polulasi di Indonesia yang jumlahnya sekitar 270 juta jiwa. Hal itu berarti, korona bakal menginfeksi sekitar 34.300 orang di Indonesia.

Jumlah itu, lebih besar dari Iran, yang kini terdapat 29.406 orang yang tertular korona. Berdasarkan perhitungan matematika, lembaga itu memprediksi, pada akhir April wabah korona akan memuncak di Indonesia, dengan Jakarta sebagai pusatnya. Bahkan, dalam skenario terburuk, berdasarkan studi permodelan matematika dari lembaga itu, bisa jadi 5 juta orang Indonesia akan terjangkit korona.

’’Kami telah kehilangan kontrol. Itu telah menyebar kemana-mana. Mungkin kami akan mengikuti Wuhan atau Italia (total jumlah orang yang tertular korona, Red). Saya pikir, kami berada dalam kisaran jumlah itu,’’ urai Ascobat Gani, pakar kesehatan masyarakat dari Universitas Indonesia (UI).

Namun, kekhawatiran tersebut dibantah oleh pemerintah. Achmad Yurianto, juru bicara pemerintah untuk penangangan korona menerangkan, apa yang akan terjadi di Indonesia tidak akan seburuk seperti yang terjadi di Tiongkok atau Italia. ’’Kita tidak akan seperti itu (Tiongkok dan Italia, Red). Hal paling penting adalah, kami selalu mengimbau masyarakat untuk selalu menjaga jarak,’’ paparnya. (jpg)