batampos.co.id – Bukan hanya hotel, ratusan pengusaha hiburan di Batam yang tergabung dalam Asosiasi Jasa Hiburan (Ajahib) Kota Batam, juga memilih menutup usaha mereka
hingga pandemi Covid-19 tuntas di Kota Batam.

Penutupan ini dilakukan atas imbauan Pemerintah Kota (Pemko) Batam yang melarang adanya keramaian.

“Tempat hiburan di bawah kita (Ajahib, red) seperti karoke dan sejenisnya sudah tutup. Saya kira sudah 90 lebih tutup. Ditambah sama yang kecil-kecil sudah 100 lebih,” ujar Ketua Ajahib Kota Batam, Gembira Ginting, Jumat (27/3/2020).

Sementara untuk seluruh karyawan dari usaha jasa hiburan, kata dia, saat ini sudah dirumahkan seluruhnya karena penutupan ini.

Untuk gaji karyawan, beberapa perusahaan masih memberikan gaji penuh maupun setengah bulan gaji. Hal itu tergantung  dengan kebijakan dari perusahaan dan kesepakatan bersama.

“Kan kita kasihan juga sama anak bini mereka. Jadi kita bedoa sama-sama supaya berakhir virus ini. Dampaknya banyak sekali, kasihan kita semua,” tuturnya.

Meski usaha jasa hiburan di bawah naungan Ajahib telah menutup tempat usahanya,

ia menyayangkan masih banyak usaha hiburan yang di luar naungan Ajahib masih membuka usahanya seperti biasanya.

Ilustrasi. Tim gabungan merazia tempat hiburan malam di Marina, Sekupang, beberapa waktu lalu. Foto Dalil Harahap/Batam Pos

Untuk itu, ia meminta Pemko Batam maupun instansi terkait untuk menindak tegas hiburan yang masih buka.

“Cuma kita-kita tidak bisa menjangkau seperti Sintai di Batuaji. Untuk itu, tidak terjangkau kita juga karena di situ banyak. Kita imbau kepada pemerintah supaya kompak dan bergandengan
tangan untuk menutup itu,” tegasnya.

Ia tidak ingin nantinya ada kecemburuan sosial dari pengusaha yang di bawah naungan Ajahib karena masih ada jasa hiburan yang masih tetap beroperasi.

“Maunya kita semuanya mentaati pemerintah. Itu kita imbau.  Sebagai pribadi sebagai ketua hiburan ya tolong ditaati. Karena masih ada kita lihat buka semacam ketangkasan yang besar-besar,” terangnya.

Terpisah, Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batam, Rudi Sakyakirti, membenarkan sejumlah pelaku usaha memilih menutup hotel dan tempat usahanya untuk sementara waktu.

“Sektor paling banyak terdampak Covid-19 ini memang  pariwisata. Wajar jika banyak yang menutup usahanya sementara waktu,” kata Rudi.

Akibatnya, ribuan karyawan terpaksa dirumahkan karena perusahaan terus merugi.

Menurutnya, ada dua metode yang dipilih perusahaan. Pertama, melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Kedua, merumahkan karyawan atau cuti tanpa tanggungan.

“Opsi yang paling banyak itu merumahkan karyawan. Sehingga jika nanti kondisi membaik, perusahaan bisa kembali aktif dan karyawan dipanggil untuk kembali bekerja,” terangnya.

Menurutnya, opsi tersebut diambil untuk menghindari PHK. Sebab untuk membayar hak karyawan perusahaan juga tidak memiliki uang yang cukup.

Karena tidak adanya pemasukan beberapa bulan belakangan ini. Namun ada juga perusahaan yang memilih PHK karena merasa sanggup membayar hak karyawan mereka.

“Sesuai dengan edaran Kemenaker terbaru. Jadi pengusaha bisa mengambil kebijakan dan berunding dengan pekerja mereka,” jelasnya.

Serta lanjutnya, kedua belah pihak mencari solusi terbaik, agar tidak ada yang dirugikan.

Kebijakan tersebut diambil agar perusahaan tetap bisa berjalan. Meskipun kondisi saat ini cukup memprihatinkan, terutama usaha perhotelan dan sektor pendukung pariwisata lainnya.

Ia menambahkan, berbagai kebijakan tersebut tidak bisa
dihindarkan, karena saat wabah Covid-19.

Penyumbang wisman terbanyak saat ini berasal dari Singapura dan Malaysia.

Kedua negara tersebut sudah menutup pintu masuk maupun keluar negaranya.

“Jadi tak ada yang masuk. Sedangkan operasional hotel, restoran, serta lainnya tetap berjalan. Jadi perusahaan berpikir menutup sementara usaha mereka adalah solusi terbaik,” ujar Rudi.

Sementara untuk sektor industri, ia menyebutkan hingga saat ini masih berjalan dengan baik.

Pulihnya perusahaan di Tiongkok membuat ketersedian bahan baku bisa teratasi.

“Sejauh ini mereka (pelaku industri, red) belum ada berpikir PHK atau pengurangan karyawan. Mudah-mudahan tetap begitu seterusnya,” harapnya.

Sebelumnya, beberapa restoran yang beroperasi di pusat perbelanjaan juga menutup gerai usaha mereka.

Tidak ada pengunjung dan pembeli yang datang membuat mereka terus merugi.(iza/gie/yui)