batampos.co.id – Sebanyak 18.117 Warga Negara Indonesia (WNI) pulang dari Malaysia melalui Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau.

Batam menjadi salah satu daerah transit ribuan WNI setelah Malaysia menerapkan lockdown per 17 Maret 2020 lalu.

Hingga Sabtu (28/3/2020) 18.117 orang melewati Batam sebelum menuju daerahnya masing-masing.

Ini menjadi ancaman serius bagi penyebaran Covid-19 di Batam
dan daerah asal mereka.

“Melalui Pelabuhan Batam Center sebanyak 15.829 orang. Dan melalui Pelabuhan Harbour Bay 2.288 orang. Ini data sejak Malaysia terapkan lockdown,” ujar Kepala Kantor Kesehatan
Pelabuhan (KKP) Kelas I Batam, Achmad Farchanny, Minggu (29/3/2020).

Ia menyebutkan, khusus warga Batam, yang tidak memiliki gejala diperkenankan untuk kembali ke rumahnya masing-masing dan harus melaksankan karantina mandiri dan dipantau oleh petugas.

Namun, ketika diminta jumlah data khusus warga Batam yang
baru kembali dari negeri jiran tersebut, Achmad mengaku
tidak memilikinya.

“Mereka masuk dalam kelompok Orang Tanpa Gejala (OTG),  langsung pulang dan melaksanakan karantina mandiri,” ujarnya.

Ia menyampaikan, yang diperbolehkan pulang juga yakni orang yang memiliki gejala minimal.

Namun demikian, di rumah harus memperhatikan standar yang ada seperti yang telah ditetapkan pemerintah.

“Kalau punya gejala minimal, berarti masuk ODP kan, sama yakni karantina mandiri. Walau di rumah, tetap pakai masker ketika beraktivitas bersama keluarga,” jelasnya.

“Tetap jaga jarak, sering cuci tangan pakai sabun. Kalau  gejalanya dirasa tambah hubungi petugas atau ke fasilitas  kesehatan terdekat,” katanya lagi.

Sementara itu, bagi warga luar Batam, dan belum melakukan perjalan dalam waktu dekat ke daerahnya akan disiapkan tempat karantina di Asrama Haji.

Dua calon penumpang membeli tiket perjalanan di Pelabuhan Internasional, Batam Centre. Meski asap tebal menghiasi langit Batam Centre, namun tidak mempengaruhi aktivitas pelayaran di Pelabuhan Ferry Internasional Batam Centre. Foto: Dhiyanto/batampos.co.id

“Kalau sudah langsung mau pulang akan diarahkan ke bandara, tapi kalau ada nginap di Batam kami pantau terus,” tegasnya.

Terkait warga yang saat pemeriksaan butuh penanganan yang  cepat, akan langsung dirujuk ke rumah sakit yang disiapkan
pemerintah.

“Kami punya tim gerak cepat dari dulu semenjak masa darurat Covid-19 ini, setiap ada temuan akan rujuk ke rumah sakit,” ujarnya.

“Sistem rujukan kami sudah siap, insan kesehatan semua
terlibat. Kalau WNI yang sampai dirujuk, coba tanya Dinkes, soal data Covid-19 satu pintu,” katnaya lagi.

Sedangkan juru bicara Tim Gugus Tugas Covid-19 Batam, Azril Apriansyah, mengatakan, mulai hari Sabtu kemarin kedatangan dari Singapura dan Malaysia khususnya Tenaga Kerja Indonesia langsung dibawa ke Asrama haji untuk dilakukan pendataan.

Mulai dari feri pertama hingga terakhir. Menurut dia, mereka pada hari tersebut diperiksa kesehatannya di Asrama Haji.

Bagi warga Batam dipersilakan kembali ke rumah dan diminta melakukan karantina mandiri.

Sedangkan yang transit dan hari itu juga melakukan perjalanan ke daerah asalnya akan dikoordinasikan untuk pemantauannya.

Namun yang transit tapi masih menunggu jadwal keberangkatannya, ditampung di Asrama Haji.

“Jadi, sambil menunggu keberangkatannya ke daerah asalnya, juga dilakukan koordinasi dengan pihak di daerah asalnya,” ujanrya.

“WNI yang nginap di Asrama Haji berjumlah 16 orang. Tidak ada gejala sakit dan sebagian pulang hari Minggu dan Senin ke daerah masing-masing,” ujarnya.(iza)