batampos.co.id – Di tengah merebaknya penyebaran virus corona sejak awal tahun, pengembang di Batam memasang target agar kuota rumah murah subsidi ditambah.

Bagi milenial berkantong pas-pasan, rumah murah memang menjadi pilihan utama.

“Hingga saat ini, kami masih terus kuota rumah subsidi ditambah. Tahun ini, secara nasional kuotanya 102 ribu saja dibanding tahun lalu yang dapat 160 ribu,” kata Ketua Dewan Pimpinan Daerah
(DPD) Real Estate Indonesia (REI) khusus Batam, Achyar Arfan, baru-baru ini.

Rumah murah menjadi pilihan menarik karena skema pembeliannya dianggap kompetitif dan bersahabat.

Keuntungan membeli rumah murah antara lain suku bunga rendah 5 persen tetap per tahun, tenor panjang selama 20 tahun, angsuran terjangkau, uang muka ringan, bebas premi asuransi dan bebas pajak pertambahan nilai (PPN).

Untuk tahun 2020, harga rumah murah sudah ditetapkan sebesar Rp 156,5 juta, naik dari Rp 146 juta pada 2019.

Ilustrasi Perumahan. Foto: Dalil Harahap/batampos.co.id

Achyar menyebut, penurunan kuota rumah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) menjadi perhatian serius dari REI Batam.

Kebutuhan rumah di Batam masih sangat tinggi. Berdasarkan data BPS Batam, jumlah penduduk Batam pada 2019 sudah mencapai 1.421.961 orang atau tumbuh 9 persen dari 2018.

Sebanyak 40,76 persen di antaranya adalah generasi milenial berusia 20 hingga 39 tahun atau dalam angka mencapai 579.591 orang.

Kebutuhan terhadap rumah akan semakin tinggi mengingat pertumbuhan penduduk Batam yang terus bertambah dalam rentang 5 hingga 9 persen dalam lima tahun terakhir ini.

Menurut Achyar, idealnya kuota rumah murah terus bertambah sebanyak 2.500 per tahun. Tapi sayangnya, angan-angan tersebut sulit untuk terealisasi.

“2019, pemerintah kasih kuota 160 ribu. Dan tahun depan diintip dari APBN, maka kuota hanya 100 ribu. Nah ini yang saya bilang,
masyarakat harus disadarkan bahwa sekarang fasilitas untuk
mendapatkan rumah layak huni terus berkurang,” ucapnya.

Di Batam, target pembangunan rumah FLPP tahun ini diperkirakan akan berkurang.

Padahal, tiga tahun terakhir ini, kuotanya terus meningkat. Pada tahun 2017, ada 800 unit, tahun 2018 ada 1.200 unit, tahun 2019 ada 1.500 unit.

Dan untuk tahun ini, Achyar belum mendapat jumlah pastinya.

“Untuk 2019 lalu, realisasi sudah 600,” katanya.

Berdasarkan data Kementerian PUPR, realisasi rumah FLPP di Kepri mencapai 970 unit dengan total kredit sebesar Rp 93,8 miliar.

“90 persen dibiayai oleh BTN yang memang fokus pada bisnis properti,” tegasnya.

Mendengar pengurangan kuota tersebut, bukan hanya target yang akan turun, tapi juga jumlah pengembang yang membangun rumah FLPP.

“Di daftar kita, ada 18 dari 90 pengembang di Batam yang bangun rumah FLPP di Tanjunguncang, Marina, Piayu dan Nongsa,” ungkapnya.(leo)