batampos.co.id – Korban meninggal akibat Corona Virus Disease (Covid-19) bertambah di Batam. Adalah JR, pria yang sehari-harinya bekerja sebagai country manager di salah satu perusahaan galangan kapal di Batam.

Almarhum menjadi pasien ketiga yang positif di Batam. Sebelumnya, korban dinyatakan
positif Covid-19 usai berkunjung dari Jakarta, Senin (23/3/2020) lalu.

Sehari setelah diisolasi, korban sempat mengunggah status di Facebook pribadinya.

“Mau tau rasanya kena COVID-19? Gak usahlah, cukup aku wae. Tapi nanti aku ceritain, mohon doa kesembuhan dan kesehatan buat saya,” tulisnya, Selasa (24/3/2020) pukul 16.42 WIB.

Tujuh hari setelah diisolasi, pria 47 tahun ini mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah, Batuaji, Senin (30/3/2020).

Ucapan duka pun berdatangan dari orang-orang dekatnya. Hingga pukul 18.05 WIB kemarin, status terakhirnya dikomentari 996 orang, disukai 1.100 orang, dan 470 kali dibagikan.

“Innalillahi wainnaillaihi rojiun. Semoga almarhum sobatku (JR) diampuni segala dosanya, diterima segala amal baik selama hidup di dunia dan di tempatkan di surga-Nya. Keluarga yang ditinggalkan selalu diberikan kekuatan, kesabaran, dan keikhlasan. Amin Allahuma Amin. Tin Risdianto dan anak-anak sabar ya,” tulis rekan korban, Oktaviandi Andi.

Ucapan belasungkawa terus mengalir. “Innalillahi wa innailaihi raji’un, semoga husnul kotimah dan semoga menjadi pembelajaran bagi kita semua akan singkatnya kehidupan ini. Dan betapa dekatnya kematian dengan kita,” ujar Almadinah.

Ketua Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Batam, Amsakar Achmad, saat berbincang dengan warga Batam yang di karantina di Rusun BP Batam dan sudah diperbolehkan pulang karena steril dari virus corona. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

Manajemen RSUD Embung Fatimah mengungkapkan, korban meninggal saat menjalani perawatan medis di ruang isolasi, Senin (30/3/2020) sekitar pukul 01.45 WIB.

“Pasien 03 sudah langsung dimakamkan di TPU Seitemiang pagi tadi (kemarin,red),” ujar Direktur RSUD Embung Fatimah, Ani Dewiyana didampingi dokter spesialis paru dan jantung, Antonius Sianturi, yang menangani korban.

Selain JR, Senin (30/3) sore, sekitar pukul 17.00 WIB, RSUD Embung Fatimah mendapat
pasien rujukan dari Rumah Sakit Elisabeth.

Dia termasuk Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sejak 27 Maret lalu. Informasi yang diperoleh Batam Pos, pasien berjenis kelamin perempuan ini, setelah tiba di RSUD langsung dilakukan rapid test.

Hasilnya, reaktif (reaktif adalah istilah baru yang digunakan pemerintah untuk mengganti kata positif, karena hasil rapid test masih harus diuji lagi di laboratorium, red).

Namun, tak lama setelah tiba di RSUD, pasien perempuan berusia 34 tahun ini meninggal dunia.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam, Didi Kusmarjadi, yang dihubungi Batam Pos tadi malam membenarkan meninggalnya satu pasien rujukan dari RS Elisabeth.

“Iya, tadi (kemarin,red) meninggal pukul 16.30 WIB,” ujar Didi.

Ia juga membenarkan bahwa pasien sudah diuji spesimennya menggunakan rapid test. Hasilnya reaktif.

“Tapi tak bisa dikatakan positif Covid-19 ya,” ujar Didi.

Meski hasil rapid test menunjukkan reaktif, Didi mengatakan, masih harus ada uji swab di laboratorium Kementerian Kesehatan.

“Hasil uji swabnya belum keluar. Jadi, masuk status PDP reaktif,” ujar Didi, lagi.

Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Batam, Amsakar Achmad, juga membenarkan
kabar meninggalnya salah satu pasien yang baru dirujuk ke RSUD Embung Fatimah
dari RS Elisabeth.

“Iya betul (meninggal). Korban (sebelumnya) masuk di Elisabeth, hari Jumat (27/3/2020),” kata dia, Senin (30/3/2020) malam.

Ia mengungkapkan, korban terkait pasien terkonfirmasi positif Covid-19 kasus 01,
Pendeta SPD, yang meninggal Minggu (22/3/2020) lalu.

“Korban pernah membesuk pasien posistif pertama,” ujar Amsakar.

Sementara itu, Kepala Kantor Karantina Pelabuhan (KKP), Achmad Farchanny, menyebut-
kan, sejatinya menurut pedoman orang yang close contact dengan pasien terkonfirmasi
atau positif Covid-19 masuk kategori Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Orang Tanpa Gejala (OTG).

“Kalau OTG dia close contact tak memiliki gejala, kalau ODP ada gejala tapi minimal. Mereka dikarantina,” ucapnya.

Ia mengatakan, jika pun ada yang close contact dengan korban, kini telah melewati masa inkubasi.

“Artinya mereka aman. Baik OTG maupun ODP yang selesai masa karantinanya. Jika setelah itu bebas, saya tak bisa katakan karena kita semua sekarang waspada, wajib terapkan sosial distancing,” papar dia.(iza/yui)