Jumat, 24 April 2026

Perusahaan Jasa Titipan di Batam Mulai Merumahkan Karyawan

Berita Terkait

batampos.co.id – Mewabahnya virus corona membuat sektor logistik pengiriman barang tumbang.

Di Batam, sektor ini sebelumnya sudah mendapat hantaman telak saat diberlakukannya
Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 199 tentang Ketentuan Kepabeanan, Cukai, Dan Pajak Atas Impor Barang Kiriman yang berlaku akhir Januari lalu.

”Makanya sebelum corona muncul, kita sudah dihajar oleh PMK. Imbasnya yakni kita  mengalami penurunan pengiriman barang dari 70 hingga 80 persen saat ini,” kata Sekretaris Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Indonesia (Asperindo) Batam,  Arif Budianto, Selasa (31/3/2020).

Penyebab menurunnya pengiriman barang adalah minimnya penerbangan. Maskapai  penerbangan seperti Lion Group dan lain-lain memutuskan untuk mengurangi penerbangan karena jumlah penumpang yang menurun drastis.

”Barang-barang yang dikirim menjadi terbatas karena tak ada penerbangan, apalagi menuju daerah yang jauh seperti Papua,” tuturnya.

Sektor yang satu ini benar-benar terpukul. Sehingga, agar tetap bisa bertahan, banyak perusahaan logistik memutuskan untuk mulai mengurangi karyawannya.

Ilustrasi. Foto: batampos.co.id / Cecep Mulyana

”Seperti Tiki, JNE, JNT dan lain-lain sudah mulai kurangi karyawannya karena omset terjun bebas,” paparnya.

Kondisi ini sangat berbeda dengan kondisi perusahaan logistik pengiriman barang di luar Batam, dimana banyak mengalami peningkatan pesanan sejak kebijakan social distancing atau jaga jarak untuk menekan penyebaran virus corona diberlakukan.

Tapi, pada kenyataaannya sektor yang satu ini sudah mulai mengalami penurunan sejak PMK 199/2019.

Dalam beleid tersebut, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memangkas batasan harga maksimum bea masuk dan pajak di e-commerce dari semula 75 dolar Amerika menjadi 3 dolar Amerika.

Dengan demikian, barang senilai sekitar Rp 45 ribu sudah dikenakan bea masuk jika dibeli dari luar negeri.

PMK ini yang sejak awal ditengarai telah membuat jasa pengiriman barang di Batam terpuruk. Ditambah lagi dengan munculnya pandemi virus corona, maka sektor tersebut semakin terpuruk.

Untuk saat ini, perusahaan-perusahaan logistik masih melayani pengiriman barang
menuju ke dalam dan ke luar Batam.

”Untuk barang-barang yang datang, kami masih terima dari Jakarta. Tapi jumlah tripnya berkurang dari yang biasanya dua trip per hari, sekarang hanya satu. Tapi itu sudah lama terjadi sebelum corona ini,” ucapnya.

Pengurangan karyawan memang harus dilakukan agar bisa bertahan dalam situasi
sulit saat ini. Ditambah lagi dalam tempo dua bulan, perusahaan-perusahaan harus membayar Tunjangan Hari Raya (THR) Lebaran kepada karyawan.

”Efeknya memang berantai. Dari segi tren pengiriman barang e-commerce, seluruh
jenis barang trennya saat ini flat (datar) dan peminatnya turun semua,” katanya.

Saat ini, sektor logistik hanya berharap agar wabah ini segera berlalu sehingga aktivitas bisa berjalan normal kembali.

”Dari pemerintah, kami juga tak berharap banyak, karena kami paham situasi saat ini memang pemerintah harus menanganinya dengan cepat. Kami dari asosiasi akan sekuat tenaga membantu lewat pengadaan alat pelindung diri (APD) dan lain-lain,” jelasnya.

Senada dengan Arif, Ketua Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi Komunikasi Nasional (Aptiknas) Kepri, Brian Lase, mengatakan, sektor digital khususnya jual beli online memang sangat terdampak dari pandemi corona di seluruh dunia.

”E-commerce memang menurun karena hanya beberapa kurir saja yang berani  mengantarkan barang. Dan banyak pedagang online ini merupakan UMKM (Usaha
Mikro, Kecil dan Menengah). Jadi kami berharap perhatian penuh pemerintah untuk memberikan insentif,” ungkapnya.

Penurunan jumlah pengiriman memang berimbas dari banyaknya pengurangan jad-
wal penerbangan.

”Kalau normalnya pengiriman dari Jakarta paling lama tiga hari, sekarang malah lima hingga 10 hari,” katanya.

Meski begitu, sektor digital yang berbasis pada pengembangan teknologi justru tidak terpengaruh dari pandemi virus corona.

”Karena sudah ada kebijakan work from home (WFH), maka penggiat digital jadi semakin punya banyak waktu untuk mempelajari teknologi baru,” ujarnya.

“Artinya dari segi produksi iya menurun, tapi dari segi pengembangan teknologi justru akan semakin berkembang,” jelasnya.(leo)

Update