batampos.co.id – Sebanyak 2.065 warga Batam yang terindikasi terpapar virus corona (Covid-19) akan segera dites, seiring telah datangnya bantuan alat-alat medis dari pemerintah Singapura maupun Yayasan Temasek Singapura.

“Kemarin sudah dilakukan penyisiran dan ditemukan 2.065 orang yang harus dites. Itu baru masyarakat umum, belum termasuk para pegawai, baik dari Pemerintah Kota (Pemko) Batam maupun BP Batam,” kata Wali Kota sekaligus Kepala BP Batam, Muhammad Rudi, Sabtu (4/4).

Pengujian menggunakan test kit rencananya akan dilaksanakan mulai Senin (6/4) dan diperkirakan akan berlangsung satu sampai dua pekan. “Setelah dapat bantuan dari Singapura, kita bisa langsung tes dan bekerja pun lebih tenang,” ucapnya.

Bantuan dari Singapura tersebut akan diserahkan kepada Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Kelas I Batam yang berada di Marina.

“Akan kami serahkan ke laboratorium Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang punya fasilitas lengkap. Jadi pemeriksaannya akan dilakukan di Asrama Haji dan Rusun (BP Batam, red) Sagulung dan hasilnya diserahkan ke lab,” ungkap Rudi.

Sedangkan mengenai karantina wilayah, Rudi mengaku, tak memiliki wewenang untuk itu. “Ini bukan karantina wilayah, saya tidak memiliki wewenang untuk itu. Karena kalau karantina wilayah, saya harus minta izin dengan Kementerian Kesehatan,” jelasnya.

Saat ini, kata Rudi, ia belum memberlakukan karantina wilayah, karena itu jalan terakhir. Jika karantina wilayah dilakukan, seluruh kegiatan ekonomi di Batam akan terhenti. “Untuk itu, saya ingin masyarakat disiplin menjaga jarak, dan ini akan kita paksa,” tegas Rudi.

Adapun bantuan dari pemerintah Singapura dan Kementerian Kesehatan Singapura sebanyak 10 ribu test kit, serta dari Yayasan Temasek Singapura sebanyak 10 ribu test kit. Test kit ini bukan seperti rapid test, melainkan swab test yang memiliki tingkat akurasi lebih tinggi.

“Selain test kit, kami juga menyerahkan dua set alat Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk Batam. Sedangkan untuk Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepulauan Riau kami menyerahkan 750 set lengkap Alat Pelindung Diri (APD),” ujar Konjen Singapura, Mark Low.

Selain itu, ada 4 set ventilator dari Yayasan Temasek. Mark menyebutkan, alat tersebut cukup sulit didapatkan. “Out of stock, jadi mungkin dua bulan lagi baru bisa kami serahkan ke Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau,” kata Mark.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Didi Kusmarjadi menambahkan, bantuan dua PCR beserta ribuan test kit akan memudahkan tes swab yang diambil dari Orang Dalam Pemantauan (ODP) maupun Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di Batam. Tidak lagi dikirimkan ke Jakarta, sehingga hasilnya lebih cepat diketahui.

Alat tersebut nantinya akan dioperasikan BTKLPP Kelas I Batam. “Sementara ini hanya BTKL yang bisa mengoperasikan (PCR), baik secara sarana maupun SDM-nya,” kata Didi, Sabtu (4/4).

Namun, mengenai kapan akan dioperasikan, Didi tidak dapat menjelaskannya. “Secepatnya, karena tadi malam (Jumat malam 3/4) baru kami terima (PCR),” ungkapnya.

Selain menerima bantuan PCR, Pemko Batam juga mendapatkan 20 ribu rapid test. Alat penguji cepat ini akan disebarkan ke rumah sakit dan puskesmas-puskesmas yang ada di Batam. Namun, tidak semua orang diuji menggunakan rapid test tersebut. “Untuk sementara ini, PDP yang jadi prioritas,” jelasnya.

Sedangkan ODP yang diperiksa menggunakan rapid test adalah yang memiliki indikasi kuat terjangkit Covid-19. Sebelum rapid test ini datang, Didi mengaku, sudah melakukan pemeriksaan dengan menggunakan rapid test yang sudah ada.

Namun, ketika ditanyakan terkait hasil rapid test itu, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti hasilnya. “Laporannya belum kami rekap dari rumah sakit dan puskesmas,” ucapnya.

Kepala BTKLPP Kelas I Batam, Slamet Mulsiswanto membenarkan sudah menerima bantuan PCR tersebut. Namun, ia mengatakan masih belum membuka PCR yang diserahkan ke pihaknya itu. “Sudah kami terima, belum dibuka. Karena hari libur, Senin baru akan dibuka,” ungkapnya.

Meski demikian, lanjut Slamet, walaupun pada Senin (6/4) alat tersebut akan dibuka, tidak serta merta alat itu bisa segera dioperasikan. Menurutnya, butuh pengecekan terlebih dahulu. “Kami buka dulu, cek, instal dulu. Kalau semuanya lengkap, barulah bisa dioperasikan,” tuturnya.

Slamet mengaku belum bisa memperkirakan kapan alat penguji Covid-19 itu dioperasikan. “Kami cek dulu lah. Kalau tidak ada masalah, secepatnya,” terangnya. (nur/ska/leo)